The Warehouse Hotel Singapura Andalkan Perpaduan Sejarah dan Budaya

The Warehouse Hotel mengandalkan perpaduan budaya, sejarah, dan talenta Singapura untuk bersaing di industri perhotelan Negeri Singa. Dengan desain dan kenyamanan yang tinggi, sebuah properti warisan independen di tepi Singapore River tersebut telah dibuka sejak Januari tahun ini.
Bambang Supriyanto | 25 September 2017 14:08 WIB
Suasana The Warehouse Hotel pada Sore Hari - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - The Warehouse Hotel mengandalkan perpaduan budaya, sejarah, dan talenta Singapura untuk bersaing di industri perhotelan Negeri Singa.

Dengan desain dan kenyamanan yang tinggi, sebuah properti warisan independen di tepi Singapore River tersebut telah dibuka sejak Januari tahun ini.
    
The Warehouse Hotel adalah hotel perdana dari perusahaan perhotelan terkemuka Singapura The Lo & Behold Group dan merupakan bagian dari portofolio Design Hotels.

The Warehouse Hotel dibangun pada 1895 di sepanjang Singapore River sebagai bagian dari rute perdagangan Selat Malaka. Pada waktu itu, daerah ini merupakan sarang komunitas rahasia, aktivitas bawah tanah, dan penyulingan minuman keras.

Kini, meskipun sebagian besar dari sejarah itu telah hilang, The Warehouse Hotel telah dipugar dengan cermat menjadi hotel independen dengan 37 kamar yang berfokus pada warisan dan budaya lokal.
 
Properti ini dimiliki oleh I Hotels, didesain oleh badan lokal Asylum dan perusahaan lokal Zarch Collaboratives memimpin rehabilitasi arsitekturalnya.

Kepala desainer dan pendiri Asylum, Chris Lee telah mengembangkan bangunan yang penuh gaya dan bernuansa misterius, seperti bangunan aslinya yang berfungsi sebagai 'godown/gudang' selama puncak perdagangan rempah-rempah Singapura.

Dekorasi dan perabotannya merupakan perpaduan masa lampau dan era modern Singapura, menghadirkan suasana bernuansa industri tetapi tetap ramah.

"Fokus kami adalah melindungi warisan properti, sekaligus menciptakan perspektif yang baru untuk istilah 'industri'. Lingkungannya hangat dan modern agar tidak terkesan hanya tenggelam dalam sejarahnya pada masa lampau," ungkap Chris, dalam keterangan tertulis, Senin (25/9).
    
Bar lobinya yang khas menyajikan program koktail kreasi sendiri dengan infusi alkohol dan esens buatan sendiri. Sebagai penghormatan pada tiga era masa lalu hotel yang berbeda, menu minumannya yang eklektik merupakan perjalanan melalui setiap inkarnasi.

Para tamu akan menikmati cita rasa perdagangan rempah-rempah, merasakan berada di tengah-tengah penyulingan ilegal, dan akhirnya tenggelam di era 80-an yang memukau - saat bangunan ini menjadi diskotek paling terkenal di Singapura pada masa itu.
    
Seluruh portofolio kulinernya dirancang oleh Chef Willin Low yang sudah sangat diakui. Dia adalah Chef Mitra untuk restoran andalan hotel, Po.

Chef Low juga membuat menu untuk sarapan, bersantap di kamar dan bar lobi. Sebagai pendiri Wild Rocket - salah satu dari 50 Restoran Terbaik di Asia - pelopor Mod-Sin ini telah membangkitkan kembali cita rasa masa lalu yang begitu disukai dan menyajikan berbagai hidangan lokal favorit, dengan interpretasi baru dengan hanya menggunakan bahan-bahan Asia terbaik eksklusif untuk hotel.

Hidangan khasnya termasuk Charcoal-grilled Iberico Satay, Spicy Tamarind Barramundi dan Carabinero Prawns & Konbu Mee. Po adalah penghormatan untuk popo - Bahasa Mandarin untuk nenek - serta kekayaan warisan kuliner Singapura.

Tag : singapura
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top