Cincin Pertunangan Lambang Kepemilikan dan Cinta

Apa yang tersisa dari sebuah perhelatan pernikahan megah? Tak lain adalah seorang pasangan dan cincin yang melingkar di jari manis Anda. Namun, ternyata tak banyak yang memedulikan perkara penyematan lingkaran perhiasan itu.
Nindya Aldila | 25 Desember 2017 00:55 WIB
Ilustrasi - Wisegeek

Bisnis.com, JAKARTA -- Apa yang tersisa dari sebuah perhelatan pernikahan megah? Tak lain adalah seorang pasangan dan cincin yang melingkar di jari manis Anda. Namun, ternyata tak banyak yang memedulikan perkara penyematan lingkaran perhiasan itu.

Berdasarkan hasil survey perusahaan riset YouGov, 77% responden yang terdiri dari pasangan berumur 18 –34 tahun menganggap cincin pertunangan melambangkan kepemilikan, lambang cinta, dan komitmen.

Alhasil, kenyataan tersebut menyentil pebisnis perhiasan untuk serius menggarap pasar cincin pernikahan.

Chief Operating Officer PT Central Mega Kencana (CMK) Petronella Soan mengatakan cincin pernikahan yang dikembangkannya telah naik penjualannya hingga 50% tahun ini.

Central Mega Kencana telah berdiri sejak 1970 dengan memulai sebagai parbrik perhiasan emas dan berlian. Toko pertamanya, Frank & Co dibuka di Pondok Indah Mall pada tahun yang sama.

Seiring berjalannya waktu, CMK mengembangkan tiga lini perusahaan baru, yakni Mondial, Miss Mondial, dan The Palace.

Masing-masing perusahaan memiliki pangsa pasarnya masing-masing. Kendati demikian, Frank & Co masih mendominasi pangsa pasar, sekitar 60% dibanding yang lainnya.

“Masalahnya banyak pasangan yang mau menikah beli cincin mengandalkan toko langganan orang tuanya. Padahal kami memberikan jasa perbaikan seumur hidup selama barang tersebut masih dimiliki,” ujarnya belum lama ini.

Untuk itu, CMK lebih memilih muncul di dengan cara lebih modern, tanpa menghilangkan keaslian dari perhiasan itu sendiri.

Saat ini, CMK sudah memiliki 50 toko ritel yang berlokasi di mal-mal seantero Indonesia, seperti Jakarta, Bogor, Bandung. Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Manado, Samarinda, Balikpapan, Medan, dan Makassar.

Selain itu, CMK juga memilih tampil sebagai perusahaan yang menerapkan konsep berkelanjutan, misalnya dengan memenuhi setiap kewajiban dalam mebayar pajak, pemenuhan biaya impor, dan melaporkan laporan keuangan setiap tahunnya pada pemerintah.

“Kami melakukan penambangan di tambang yang bebas dari konflik, baik konflik lingkungan maupun sumber daya manusianya,” katanya.

General Manager CMK Tanya Alissia mengatakan saat ini pangsa pasar CMK secara keseluruhan di pasar perhiasan berlian (di luar emas) mencapai 20%.

“Total nilai pasar perhiasan di Indonesia sekitar Rp21 triliun, sementara untuk pasar berlian Rp 5 triliun, jadi saat ini kami bisa pegang sekitar Rp2 triliun,” ujarnya.

Pada 2020, perusahaan menargetkan untuk membangun 100 toko ritel di Indonesia. Adapun pada tahun depan akan dimulai dengan menambah sebanyak 30% dari target.

Saat ini CMK tengah mengekspansi pabriknya yang berada di Cijantung, Jakarta Timur untuk melipatgandakan kapasitas menjadi dua kali lebih besar, mengingat permintaan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Tag : cincin
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top