Umahseni pamerkan media baru

JAKARTA: Umahseni menyelenggarakan pameran bertema DIGIT(ALL) : Indonesian Contemporary New Media Practices dengan menampilkan karya Agan Harahap , FX. Harsono,Jompet Kuswidananto,Mella Jaarsma,Radi Arwinda, Tromarama, Wedhar Riyadi dan Wimo Ambala Bayang.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 17 Desember 2010  |  10:14 WIB

JAKARTA: Umahseni menyelenggarakan pameran bertema DIGIT(ALL) : Indonesian Contemporary New Media Practices dengan menampilkan karya Agan Harahap , FX. Harsono,Jompet Kuswidananto,Mella Jaarsma,Radi Arwinda, Tromarama, Wedhar Riyadi dan Wimo Ambala Bayang.

Pameran yang berlangsung sampai 24 Desember ini memajang sejumlah karya digital dengan kurator Alia Swastika.

Media baru merupakan kategori dan genre yang memegang peranan penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer, terutama dalam konteks seni rupa global hampir dua dasa warsa terakhir, kata kurator Alia Swastika.

Tak hanya menjadi garda depan dalam penyelenggaraan pameran-pameran di museum dan ruang alternatif, tempat awal dimana ia tumbuh dan diterima, sekarang ini seni media baru merupakan satu medium yang dengan mudah ditemui pula dalam pameran-pameran galeri, menerobos batas-batas yang dulu dianggap tabu.

Dalam lingkup seni rupa Indonesia sendiri, diskursus tentang seni media baru ini masih tergolong baru, bukan dalam pengertian rentang waktu ketika ia pertama kali bertumbuh, melainkan baru dalam hal penerimaannya sebagai bagian dari seni kontemporer.

Dimulai pada awal 1990an, ketika seniman seperti Krishna Murti atau Heri Dono mulai menciptakan karya-karya video hingga akhirnya praktik-praktik seni media baru ini makin berkembang pada kisaran akhir tahun 1990an, yang ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok seniman media baru seperti Bandung New Media Arts Center di Bandung, Ruang Rupa di Jakarta, House of Natural Fiber di Yogyakarta yang secara gencar memperkenalkan bentuk medium baru ini kepada khalayak seni rupa.

Tidak bisa dipungkiri, karena pentingnya posisi medium ini dalam peta seni rupa global, maka para seniman yang bekerja dengan medium inilah yang dengan cepat memasuki lingkungan pergaulan seni rupa global.

Isu-isu yang dieksplorasi dalam seni media baru, terutama dalam konteks Indonesia, sebagaimana yang kita saksikan pada pameran kali ini, menunjukkan bagaimana media baru selalu punya cara untuk mendefinisikan kembali ruang dan waktu. Soal-soal seperti (politik) identitas, sejarah, budaya anak muda, perbenturan global-lokal, merupakan tema-tema yang banyak dimunculkan dalam karya seni media baru dan instalasi belakangan ini. Juga soal-soal yang berkaitan dengan globalisme, lokalisme, konsumerisme, serta ketegangan dan irisan dari berbagai isme dalam fenomena sosial kontemporer.

Penggunaan media baru ini kemudian terasa sejalan dengan semangat zaman, dimana segalanya mengandung percepatan dan peringkasan, dengan kemungkinan-kemungkinan berganda. Seniman kemudian harus memberi interpretasi yang segar dan kuat terhadap penggandaan realitas, sesuatu yang sifatnya subversif terhadap realitas visual yang ditawarkan kebanyakan media massa.(ln)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top