Kelompok MES 56 pameran 'On Camera'

JAKARTA: Kelompok fotografer MES 56 asal Yogyakarta mengadakan pameran dengan bertema 'On Camera' di BIASA ArtSpace mulai hari ini sampai 10 Januari 2011.
Inria Zulfikar | 20 Desember 2010 08:24 WIB

JAKARTA: Kelompok fotografer MES 56 asal Yogyakarta mengadakan pameran dengan bertema 'On Camera' di BIASA ArtSpace mulai hari ini sampai 10 Januari 2011.

Acara ini merupakan pameran yang memberikan penanda penting dalam perjalanan MES 56 sebagai bagian dari diskursus seni rupa kontemporer di Indonesia. Dengan kondisi pergerakan fotografi Indonesia yang sangat kuat cenderung berada dalam ranah jurnalisme, maka pada 2004 di Yogyakarta, MES 56 didirikan untuk memperkenalkan pendekatan baru. Kelompok muda ini, yang sebagian besar belajar di Institut Seni Indonesia (ISI), memasukkan fotografi ke dalam wilayah seni, yang dengan pengkondisian ini, maka pada saat bersamaan juga mempertanyakan peran fotografi dalam merepresentasikan realitas. Mereka yang memajang karya dalam pameran ini adalah Askiq A.W., Agung Nugroho, Anang Saptoto, Daniel Satyagraha, Edwin Kurniawan, Eko Bhirowo, Jimi A. Abel dan Wimo Ambala Bayang. "Dalam konteks seni rupa kontemporer, karya-karya dari kelompok ini secara mendasar merepresentasikan kritisisme terhadap fenomena kehidupan sehari-hari dari orang biasa, ketimbang melakukan romantisasi atau mendramatisasi realitas," kata kurator Alia Swastika. Pada saat yang sama, mereka juga mempertanyakan fotografi sebagai medium dalam dunia seni kontemporer, dimana eksistansialnya yang berdampingan dengan perkembangan yang sangat cepat dari teknologi pemroduksian citra visual. Perubahan teknologi yang cepat mendorong para fotografer untuk menyesuaikan cara pandang dan ideologi pada peranan mereka dalam kehidupan sosial. Mereka mengobservasi bagaimana fotografi menjadi medium yang paling demokratis untuk masyarakat banyak, terutama karena sekarang teknologi menjadi lebih murah dan mudah diakses. Sementara pameran ini menggarisbawahi nilai politik dari kamera sebagai medium dan bagaimana ia digunakan dalam seni kontemporer, pada saat bersamaan pameran ini juga memotret, dalam cara yang unik, realitas terkini dari kehidupan sehari-hari masyarakat global. Selain itu, dengan menjelajahi kemungkinan untuk menabrak batasan dan definisi tentang kamera itu sendiri, artis kolektif ini menunjukkan posisi mereka sebagai sebuah kelompok yang berpengaruh dalam lingkup seni visual kontemporer di Indonesia. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top