Pecinta Karl May gelar acara gratis

JAKARTA: Penggemar karya sastra mendatangi acara spesial menyambut 60 tahun Karl May di Indonesia (1950-2010) yang digelar gratis untuk umum.Acara itu dibuka umum sejak pukul 16.00 di salah satu ruang pertunjukkan Goethe Institut, Menteng. Hanya 10 menit
News Editor | 21 Desember 2010 12:17 WIB

JAKARTA: Penggemar karya sastra mendatangi acara spesial menyambut 60 tahun Karl May di Indonesia (1950-2010) yang digelar gratis untuk umum.Acara itu dibuka umum sejak pukul 16.00 di salah satu ruang pertunjukkan Goethe Institut, Menteng. Hanya 10 menit dari Masjid Raya Cut Muthia, Jakarta Pusat, untuk sampai ke Goethe. Sejumlah kendaraan roda dua dan empat tampak diparkir berjajar. Sejumlah nama besar di bidang kesusastraan dan juga pengusaha hadir. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma yang didaulat sebagai pembahas salah satu karya Karl May "Kehidupan dan Upayaku: Suatu Otobiografi dari Karl May". Selain itu ada mantan wartawan yang kini menjadi pengusaha, Pandu Ganesa.Pandu, yang menjabat Ketua PKMI plus, mengatakan persiapan acara yang berlangsung 2 hari ini, bisa dibilang cepat. Hanya dalam hitungan minggu saja, panitia yang terdiri dari 14 orang ini kerja ekstra keras. Namun untunglah, Goethe Institut mau bekerja sama dengan komunitas pecinta Karl May, yang saat ini dikenal dengan nama Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI)."Dana kami rogoh dari kantong sendiri. Bayangkan saja, mana ada pengusaha yang mau donasi ke kita [PKMI], wong ini hanya buku saja," ujar pria kelahiran Kendiri ini kepada Bisnis.Dia mengeluarkan dana dari kantongnya sendiri Rp5 juta yang dipakai untuk menyewa banner, mencetak undangan, sewa meja-kursi dan biaya persiapan pengeditan film yang akan ditayangkan di hari ke-2 acara ini. Dua film yang dimaksud yaitu, 100 tahun Karl May di Indonesia (durasi 40 menit) dan Karl May karya Hans Juergen Syberberg (durasi 90 menit). Dari pihak Goethe Institut, setidaknya mau mengelontorkan dana hingga Rp35 juta.Sementara itu, project officer manager pameran, Ivan Gunawan, mengatakan panitia harus kerja keras dalam menggelar acara ini. "Ada yang bolos bekerja, ada yang pamit dan meninggalkan anak sementara, dan lain-lain," ujarnya.Pada acara ini, hanya 25 seri karya sastra yang ditampilkan, sedangkan sisanya dari sekitar 80 seri, belum bisa dipertunjukkan. Lagi-lagi terkendala masalah teknis.Karya yang ditampilkan disini, antara lain, Winnetou I: Kepala Suku Apache; Winnetou II: Si Pencari Jejak; Winnetou III: Winnetou Gugur; Winnetou IV: Ahli Waris Winnetou; Old Surehand I: Oase di Llano Estacado, Mustang Hitam, Raja Minyak, dan karya besar lainnya. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top