Gusmen tampilkan 'tamu' di Edwin's Gallery

JAKARTA: Dalam ruang besar atau bisa dikatakan di atas bumi, latar belakangnya terpampang warna coklat kehitaman. Di situ bertebaran kursi dan manusia yang mukanya tertutup. Dengan begitu tak diketahui identitasnya.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 30 Desember 2010  |  12:00 WIB

JAKARTA: Dalam ruang besar atau bisa dikatakan di atas bumi, latar belakangnya terpampang warna coklat kehitaman. Di situ bertebaran kursi dan manusia yang mukanya tertutup. Dengan begitu tak diketahui identitasnya.

Inilah karya masterpiece dari perupa Gusmen Heriadi yang berjudul 'Tamu No.15' berukuran 200 x 300 cm yang dibuat dengan media akrilik di atas kanvas dan dibuat pada 2007-2010. Dalam karya ini tak ada patron, semua sama, tak ada yang terhebat.Dalam pameran tunggal pada akhir Desember 2010 sampai 11 Januari 2011, Gusmen Heriadi kelahiran Pariaman, Sumatra Barat yang menetap di Yogyakarta, memajang 21 karya. Sepuluh karya merupakan kreasi terbarunya, selebihnya merupakan karya yang sudah dimiliki kolektor.Tiga karya yang merupakan seri Reflection ditampilkan juga dalam pameran ini. Karya ini bercerita tentang refleksi diri sendiri, dimana ada kebaikan dan keburukan yang diungkapkan di atas kanvas, karena itu digambarkan dengan warna hitam-putih dalam bayangannya.Seri terbarunya adalah Mengisi Ruang Tamu.Dalam karya ini Gusmen mengungkapkan bagaimana mengisi ruang tamu dengan seni, sementara orang yang datang memahami seni itu sendiri. Di dalam ruang tamu ada ruang lagi, dalam seni itu ada seni lagi, dibumbui ornamen seperti tulisan atau teks yang tak jelas dan mengisi ruang dan tak ada artinya. Dalam lukisan ini ada lukisan. Mengisi ruang dengan lukisan dan lukisan mengisi ruang.Pada karya Seri Mengisi Ruang Tamu No. 02, Gusmen menampilkan figur lelaki yang tampak sebagian dan tak jelas. Kita tak tahu tamu yang datang apa maunya, kata Gusmen.Sebenarnya konsep dan proses kreatif Gusmen dalam menggarap seri Tamu ini sudah dikerjakan sejak 2007. Tapi baru bisa dipamerkan tahun 2010, karena kesibukan dengan agenda pameran lainnya. Inti dari konsep Tamu ini sendiri adalah adalah menyangkut datang dan pergi.Itu berawal dari kita datang ke bumi sebenarnya kita sebagai tamu, dan di bumi kita harus berbuat sebaik mungkin untuk bumi dan masyarakat yang ada.Inilah landasan dasarnya,kata Gusmen.Dia mengakui pameran ini beberapa kali tertunda bahkan sampai terlupakan. Sampai pada akhirnya kurator Aminudin TH Siregar datang kestudionya dan bewrdiskusi sampai akhirnya mengangkat temaTamu untuk pameran di Edwins Gallery.Dalam perjalanan proses kreatifnya, sebelumnya Gusmen mengembangkan karya seri Akuarium kemudian seri Posisi. Dalam seri Tamu ini Gusmen banyak orang di bumi ini yang digambarkan di hutan dengan sofa-sofa,dan diungkapkan manusia itu berdiri sendiri, banyak tapi tak saling komunikasi, ada relevansinya dengan tamu yang disebut datang dan pergi.Yang menonjol dalam karya-karya Gusmen adalah kemampuannya yang kuat dalam menghadirkan suasana luas, kelam, sunyi dan kemudian, melalui gestural sejumlah figurnya segera mempersuasi kita untuk mempertanyakan nasib manusia sebagai tamu di dunia, kata kurator Aminudin TH Siregar yang menangani pameran ini.Kesan luas ini hadir karena Gusmen peka dalam membangun latar panoramik. Oleh karena itu, latar lukisan Gusmen memiliki bobot arti yang sama dengan figur-figur manusianya. Keduanya sama-sama penting sebab saling mengikat makna. Latar ini bukanlah semata latar untuk menghias lukisan.Karya-karya Gusmen dalam serial Tamu ini segera memancing kita untuk merenungkan kembali mengapa kita datang dan mengapa kita berangkat: mengapa kita mesti bertamu ke dunia ini? Selain itu karya Gusmen tampaknya memiliki konteks dalam perubahan sosial masyarakat di Tanah Air saat ini. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top