Persembahan bagi sang maestro

Nama Nurkholis dalam khasanah seni rupa Indonesia adalah sebuah fenomena. Pelukis asal Jepara yang berumah di Yogyakarta menancapkan kuku di dunia seni lukis saat karyanya tersimpan dan menjadi milik kota Beppu di Jepang.Tiga kali, suami dari pelukis
Tusrisep
Tusrisep - Bisnis.com 17 September 2011  |  10:53 WIB

Nama Nurkholis dalam khasanah seni rupa Indonesia adalah sebuah fenomena. Pelukis asal Jepara yang berumah di Yogyakarta menancapkan kuku di dunia seni lukis saat karyanya tersimpan dan menjadi milik kota Beppu di Jepang.Tiga kali, suami dari pelukis Hety Nurani ini mendapat penghargaan dari ajang seni kota tersebut yaitu Beppu Art Museum pada 2003, Beppu, Oita, Japan “Asia Prize” (runner up), The Beppu Asia Biennale Of Contemporary Art 2005“ dan meraih “Encouragement Prize, The Beppu Asia Biennale Of Contemporary Art 2007.Namun takdir berkata lain, pada 15 April 2011 di usia 42 tahun, pria berkumis yang gemar berkendara di atas motor besarnya, Harley Davidson itu kembali kepada Sang Khalik.Nurkholis meninggalkan istri tercinta Hety Nurani, dan empat orang anak, dua laki-laki yaitu Ilham Agung Nursakti (17), Angga Ratu Sufi (15) dan dua anak perempuan, yakni Diwani atau akrab dipanggil Diva (14) dan Sandya (4).Sebagai perupa sekaligus penggemar motor besar, seni modifikasi pemilik terhadap tunggangannya adalah sebuah medium seni yang ditangkap Nurkholis sebagai sebuah gerakan seni rupa.Seniman dengan status jebolan bergelar cum laude dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta itu menilai para pengguna motor adalah mereka yang memiliki “passion” dengan sepeda motor.Alhasil pengguna motor tidak lagi memfungsikannya hanya sebatas sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai media menyalurkan kreatifitas mereka. Fenomena yang membuat Nurkholis berminat membuat sebuah pameran untuk membaca, mewacanakan, dan mengapresiasi arus kreativitas tersebut.Sebagai sebuah pameran yang menggelar karya-karya motor custom dari segala jenis motor dan merek, sudah tentu karya tersebut melewati seleksi kuratorial di tangan Nurkholis dan Bram Satya.  Selain menyajikan lebih dari 40 motor berbagai jenis, pameran ini menyajikan karya seni rupa murni yang memiliki ketertarikan dalam hal konsep tentang pertemuan antara kreativitas modifikasi motor dan segala ekspresinya dengan bidang seni rupa itu sendiri, dan atau menggunakan motor atau turunannya sebagai medium seni rupa.Format demikian, menurut sang penggagas pameran diharapkan akan lebih merapatkan pertemuan dunia seni rupa dengan dunia motor custom. Sayang, acara pameran yang bertajuk The Art of Motorcycle gagal terlaksana akibat Nurkholis tutup usia.Kepergian Nurkholis bagi para penggemar motor di Yogyakarta adalah sebuah kehilangan, namun hal tersebut tidak menyurutkan kerja keras sang maestro lukis sehingga sebagai penghormatan terakhir untuk sang pelukis, judul pameran tersebut diubah menjadi “The Art of Motorcycle; Tribute to Nur Kholis”.Menurut Lulut Wahyudi selaku ketua panitia, pameran The Art Of Motorcycles; Tribute to Nur Kholis yang dilakukan 18-23 Agustus di Taman Budaya Yogyakarta tersebut menampikan beragam karya yang terhubung secara langsung dengan dunia motor dan visual seni rupa secara utuh.  Tercatat 65 karya lukis, 45 motor custom dan 12 karya instalasi dipamerkan kepada pengunjung umum. Beragam karya ini sangat dekat dengan keintiman visual yang menghubungkan senir rupa dan motor dengan beragam ekspresi.Tampak beberapa karya yang  secara aktual menyampaikan kritisi kepada pemerintah, salah satunya adalah karya Stefan Buana yang berjudul “Agar supaya SBY pemerintahanya tidak berjalan mundur dan selalu berjiwa muda – jadilah Bikers“ karya sebuah jam roda yang berdetak mundur dan karikatur presiden SBY.  Selain itu nampak pula instalasi “Wayang Motor” karya perupa Ambar Pranasmara yang menampikan imaginasi harmoni mekanik antara seni budaya dan motor.Sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum Nurkholis, ditampilkan karya seni rupa terakhir dan motornya.  Beberapa karya visual motor juga memeriahkan acara ini antara lain motor custom Kyai Perkoso motor dengan motif batik karya Lulut Wahyudi, punggawa retro classic cycles yang menjadi juri bagi sejumlah kontes builder Tanah Air.Selain itu ditampilkan pula instalasi bebunyian motor karya Leon seniman dari Selandia Baru yang sudah tujuh tahun menetap di Indonesia dan mengamati beragam aspek seni rupa dari motor dan lingkungan yang membentuknya.  Menurut Lihar, salah seorang pengunjung yang tengah mengamati karya lukis yang berjudul “Menaklukan Dunia” Karya perupa Seruni Bodjawati, menilai pameran ini sungguh menarik dan layak untuk mendapat apresiasi.“Harapan saya pameran ini kedepany bisa terselenggara lebih baik dan menampilkan lebih banyak karya lagi,  namun untuk saat ini saya kira ini sebuah pameran yang luar biasa dan pantas untuk mendapat antusias dan respek dari masyarakat” ungkapnya.(api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top