Bentara Budaya gelar diskusi seni rupa kontemporer

JAKARTA: Bentara Budaya Bali akan menggelar diskusi seni rupa bertema "Local Knowledge" Reposisi Bahasa Rupa Tradisi Bali  dalam Wacana Seni Rupa Kontemporer pada 25 September.Pengamat seni rupa yang juga seorang kurator, I Wayan Seriyoga
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 23 September 2011  |  12:06 WIB

JAKARTA: Bentara Budaya Bali akan menggelar diskusi seni rupa bertema "Local Knowledge" Reposisi Bahasa Rupa Tradisi Bali  dalam Wacana Seni Rupa Kontemporer pada 25 September.Pengamat seni rupa yang juga seorang kurator, I Wayan Seriyoga Parta, menjadi pembicara utama dalam diskusi seni rupa bertema ”Local Knowledge” -Diskusi ini digelar seiring dengan pameran sepuluh pelukis dan pematung yang  melibatkan seniman yang berproses secara otodidak  dalam penciptaan karya-karya mereka beranjak dari bahasa rupa tradisi. Pamerannya berlangsung hingga 4 oktober 2011.Perupa yang memajang karya dalam pameran ini adalah  Ketut Muja (Patung), IB Alit (Patung dan Lukis), Made Sukanta Wahyu (Patung), I Made Sama (Patung), I Nyoman Mandra (Lukis), Ida Bagus Putu Gede Sutama (Patung), Dewa Putu Kantor (Lukis), I Wayan Sadha (Karikatur), I Ketut Santosa (Lukis Kaca Naga Sepaha), dan Dewa Ngurah (gambar Prasi Sidemen).Meski kreativitas yang mereka lakukan selama ini dekat dengan semangat inovasi dan ekspresi individualitas yang lekat dalam semangat seni rupa modern, para seniman itu beranjak dari bahasa rupa tradisi dan berkarya secara otodidak. Ini lebih banyak dibaca sebagai hasil dari material culture (artefak kebudayaan) yang bertumpu pada pembacaan antropologi dan etnografi.“Artinya karya-karya mereka tidak dianggap sebagai karya seni dalam persepsi seni rupa modern,” kata Wayan Seriyoga Parta, hari ini.Dia menjelaskan dalam persepsi material culture, seni rupa adalah bagian dari ekspresi kebudayaan dan tidak ada otoritas penuh dalam menempatkan nilai instrinsik karya. “Persepsi inilah yang ditentang oleh semangat avant-garde seni rupa modern yang menginginkan seni rupa memiliki otonomi sendiri dengan terobosan-terobosan instrinsik dengan pencapaian estetiknya yang otentik.”Menurut Wayan Seriyoga, seni rupa modern di Barat berkembang tidak saja dalam semangat otonomi penciptaan, namun juga menjelma menjadi institusi yang disebut institution of modern art yang terdiri dari museum, art critic, art theories, art auction, dan galeri.Dia memaparkan dalam kerangka institusi inilah nilai seni rupa itu dikonstruksi, dan instuisi juga menentukan mana yang layak disebut sebagai seni dan bukan seni. "Berdasarkan paramater tersebut mereka menetapkan standar yang tinggi terhadap karya-karya yang dapat digolongkan sebagai karya seni rupa modern, karya seni rupa yang telah memakai bahasa rupa modern."Seperti karya abstrak di luar mereka (Eropa dan Amerika) saja tidak lantas disebut sebagai karya seni rupa modern. Terlebih lagi karya-karya yang masih memperlihatkan jejak keterkaitan yang jelas dengan bahasa rupa etnik tertentu, jelas tidak akan pernah dianggap sebagai karya seni.“Jika persepsi ini masih terus diwarisi dalam perkembangan  seni rupa saat ini, tentunya karya-karya seniman yang hadir dalam pameran ini tidak akan bisa diakui sebagai karya seni rupa. Diskusi ini bertujuan untuk mengkaji kembali posisi seni rupa dengan bahasa rupa tradisi [Bali] dalam konstelasi wacana seni rupa kontemporer,” jelas Wayan Seriyoga.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top