Realisme kehidupan di Bali ala Husner

JAKARTA: Sebelum acara peresmian, kurator asal Prancis yang menetap di Bali, Jean Couteau, meyakinkan begitu  masuk ke ruang Galeri Nasional Indonesia pengunjung akan terpesona dengan garis dan warna lukisan karya Paul Husner.Jean Couteau punya
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 09 Desember 2011  |  10:37 WIB

JAKARTA: Sebelum acara peresmian, kurator asal Prancis yang menetap di Bali, Jean Couteau, meyakinkan begitu  masuk ke ruang Galeri Nasional Indonesia pengunjung akan terpesona dengan garis dan warna lukisan karya Paul Husner.Jean Couteau punya alasan mengatakan hal tersebut. Memang Paul Husner, perupa asal Belanda yang sudah 15 tahun menetap di Indonesia (Bali), menampilkan karya yang berbeda dengan sebelumnya.Dalam pameran tunggalnya sekaligus peluncuran buku dengan judul yang sama Illuminating Bali Life yang ditulis oleh Jean Couteau, Husner menampilkan karya dengan warna-warni tropis, menyegarkan dan enak dipandang. Selain itu, pada pamerannya kali ini sejak pekan lalu sampai 11 Desember 2011, dia mengusung pemandangan dan kehidupan di Pulau Dewata.Pamerannya diresmikan oleh kolektor  Oei Hong Djien, dihadiri  tamu kehormatan Wakil Duta Besar Belanda Annemieke Ruigrok dan sejumlah pencinta seni.Pada pameran kali ini dia memajang 42  karya terbaru dengan ukuran yang lebih besar dari biasanya. Sebagai perupa akademis, karya Husner terlihat begitu tertata rapi dengan pakem-pakem sebagaimana mestinya. Tapi dia punya ciri khas, lewat garis-garis dengan pewarnaan yang sederhana tapi sangat menggairahkan dan menyenangkan.Paul Husner pernah mengajar di “Rijksacademie voor Beeldende Kunsten” di Amsterdam. Dia juga pernah bekerja di penerbitan yang menerbitkan buku untuk pelukis terkenal di dunia seperti Miro, Chagall, Cezanne, Klee, Kandinsky, Matisse, Leger dan Beckmann.Lukisan karya Husner seolah cocok dipajang dimana pun juga, mulai di rumah seperti di ruang tamu, ruang keluarga sampai ke ruang tidur. Begitu juga untuk dipasang di dinding perkantoran. Inilah kelebihan  Paul Husner dalam memoles dan mengolah warna.“Garisnya, konturnya jelas dan tegas tanpa gradasi tebal-tipis, sehingga bentuk deformasinya kelihatan kaku. Justru kekakuan bentuk inilah yang menjadi ciri khasnya,” kata Oei Hong Djien.Oei Hong Djien justru menginginkan Paul Husner melukis keluar dari pakem-pakem akademis.”Mungkin akan lebih menarik kalau Husner melukis dengan garis-garis semaunya,” kata Oei Hong Djien yang dikenal sebagai salah seorang kolektor terbesar di Indonesia.Sementara itu Wakil Duta Besar Belanda Annemieke Ruigrok mengatakan bahwa karya Paul Husner sangat kuat dan dibuat dengan pandangan yang realistik, tetapi dengan mata seorang seniman, dia memperlihatkan kepada kita tentang dunianya.“Gambar-gambar di Indonesia bisa begitu kuat. Menurut saya, itu adalah salah satu ciri khas karya Paul Husner,” kata Annemieke Ruigok.Beberapa lukisannya  yang cukup menarik bisa disebutkan Trading Scene at Soka’s Ocean Beach,  Sanur’s Seaside with Bird and Fish Traders, Repairing of Shoes at Ubud’s Street,  Nature and Culture at Ubud’s Art Museum ARMA, dan Still Life with Hanoman, Dragon and Masks.Dalam pameran ini, karyanya dikelompokan seperti Soka, Sanur, Kusamba, Ubud, Sidemen dan Ritual-Inspired Still Lifes.“Kami tinggal satu bulan di pantai Soka,” kata Husner. “Suasana di sana amat berbeda dengan suasana Sanur. Di Sanur, laut jinak, dan terlihat gunung di kejauhan, seakan berdekatan dengan laut. Di Soka kita langsung berhadapan dengan energi dan bahkan kekerasan laut.”Di Soka, Husner menghayati kekuatan laut. Dia ingin mengangkat dinamika alam, serta perjuangan orang-orang untuk mengatasi atau menundukan alam. Dia bergulat dengan sketsa di lapangan, di tengah pekerja setempat serta kemudian mentransfer hasilnya ke kanvas dalam pilihan aneka warna, sesampainya di studio.“Apa yang paling mengesankan saya di Soka,“ tuturnya, “adalah adegan-adegan yang berlangsung di pantai dengan beragam kompleksitasnya. Adegan itu merupakan sebuah mikrokosmos, dunia kecil tersendiri.”Sistem triptik atau tiga panel jadi satu, memungkinkan Husner untuk merangkum, di seputar suatu tema tertentu dengan spektrum adegan yang boleh dikata tak terbatas. Yang menjadi fokus adalah suasana di mana seorang pembuat dan tukang reaparasi sepatu tengah bekerja seperti pada karyanya Repairing of shoes at Ubud’s Street.Pada realita sebenarnya, tukang sepatu hanyalah satu, namun untuk menciptakan suasana yang lebih nyata, maka dihadirkan dua orang. Dalam kanvas, kedua tukang sepatu tersebut seakan-akan tengah berkompetisi. Itulah realisme ala Husner.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top