INDONESIAN IDOL 2012: Pilih Dion atau Oda?

DIONISIUS Agung Subagya dan Prattyoda Bhayangkara Bhirawida. Ini dua penyanyi baru yang datang dari Banyumas. Dion lahir di Temanggung besar di Purwokerto, sedangkan Oda di Kebumen.
Puput Jumantirawan
Puput Jumantirawan - Bisnis.com 07 April 2012  |  18:13 WIB

DIONISIUS Agung Subagya dan Prattyoda Bhayangkara Bhirawida. Ini dua penyanyi baru yang datang dari Banyumas. Dion lahir di Temanggung besar di Purwokerto, sedangkan Oda di Kebumen.

 

Keduanya sama-sama berusia 25 tahun. Dua pemuda ini lolos ke babak spektakuler Indonesian Idol 2012 bersama 10 finalis lain. Faktor keduanya kurang lebih sama: Suara khas dengan karakter kuat.

 

“Kamu tuh nyanyi udah kayak ngobrol.. Dan itu susah,” kata Agnes Monica, juri Indonesian Idol yang sejak awal terlihat tak sanggup menyembunyikan kekagumannya pada Dion.

 

Kemampuan panggung Dion, yang pada beberapa titik pencapaiannya berhasil menyublimasi nyanyi menjadi ngobrol, memang jarang—untuk tidak dibilang langka.

 

Bahkan juga di kalangan penyanyi yang sudah lama eksis, termasuk Agnes saya kira, satu-satunya penyanyi Indonesia yang bisa merebut 2 penghargaan langsung di Shorty Awards itu.

 

Sebagian dari kita mungkin mengingat kemampuan menyublimasi nyanyi itu pada sosok musisi jazz  Bill Saragih. Atau lebih jauh, pada sang legenda panggung Louis Amstrong.

 

Lalu bagaimana dengan Oda? Tak banyak berbeda dengan Dion, lelaki berpenampilan garang ini tak butuh waktu lama untuk memastikan tempatnya di babak spektakuler alias final 12 besar.

 

Udah udah oke, aku oke,” kata Ahmad Dhani, juri lain yang langsung meloloskan Oda, meski baru sedetik pemuda berambut ala Slash Guns n’ Roses itu narik When I see you smile­-nya Bad English.

 

Dibandingkan dengan kontestan Indonesian Idol yang lain, tanpa bermaksud mengecilkan, pencapaian Dion dan Oda, dua pemuda dari luar radar blantika musik nasional ini, jelas lebih mencuri perhatian.

 

Dan yang tak boleh dilupakan, keduanya seolah merepresentasikan kalangan menengah ke bawah Indonesia—atau rakyat dalam bahasa ideologis—yang nggak gaul karena terlalu sibuk cari uang.

 

Dion mengaku sebagai sopir mobil rental di Purwokerto, sementara Oda selain jadi penyanyi cabutan di kafe-kafe, menghidupi dirinya dengan berjualan susu sapi segar di Kebumen.

 

Konstruksi fakta yang dihadapkan pada kita ini segera mengingatkan saya pada baris-baris kalimat dalam novel Laskar Pelangi milik Andrea Hirata. Saya kutip dari ingatan:

 

“Bakat adalah pemberian Tuhan yang tak akan pernah memandang tempat. Seorang penjual nasi goreng yang bau bawang pun bisa bernyanyi sebaik Rhoma Irama.. “

 

Bakat inilah yang terlihat jelas dan terang dalam sosok Oda. Memang, kejernihan warna suaranya masih beberapa level di bawah Ahmad Albar, atau yang lebih jauh, Freddy Mercury.

 

Tapi, power dan endurance-nya terlihat lebih menonjol dari kontestan yang lain. Caranya bermain di nada rendah juga okay. Karakter seperti ini tentu cocok untuk musik rock dan turunannya.

 

Jika dibandingkan dengan karakter suara Dion yang lebih swing dan jazzy, di pasaran musik Indonesia hari ini, Oda niscaya lebih menjual. Tentu dengan sedikit polesan aksi panggung.

 

Namun, sebetatapun bersinarnya, Oda, begitu pula Dion, jelas tak luput dari serentetan kesalahan, baik teknis maupun nonteknis. Bahkan juga yang mendasar seperti lupa lirik lagu.

 

Di luar berbagai isu yang menerpa Indonesian Idol 2012, seperti nama-nama kontestan babak 12 besar yang sudah ditetapkan jauh hari sebelumnya, acara pencarian bakat tersebut tetap menarik diikuti.

 

Lalu siapa yang akan jadi pemenang? Apakah Dion, Oda, atau satu dari 10 kontestan lain yang masih akan beradu panggung pekan depan? “Saya jagoin kamu jadi juara,” kata Agnes kepada Oda.

 

***

 

MEMANG, kemampuan menyublimasi nyanyi yang beberapa kali ditunjukkan Dion, juga kebersinaran bakat Oda, masih belum seberapa. Mereka belum ‘jadi’, masih jauh dari ‘jadi’.

 

Tapi paling tidak, pada elemen yang mendasar, keduanya paham dan bisa mengartikulasikan, bahwa menyanyi di panggung itu bukanlah sekadar menyanyi di hadapan khalayak.

 

Menyanyi di panggung adalah menghibur dengan melibatkan penonton. Dan puncak pencapaian dari keterlibatan itu adalah terjadinya sublimasi, yang dalam hal Dion diraih melalui 'ngobrol'.

 

'Nyanyi kayak ngobrol' seperti kata Agnes hanya salah satu bentuk sublimasi itu. Atau dalam hal Oda misalnya, diraih dalam sebuah detik pada tarikan pertama yang ditangkap Dhani.

 

Yang ingin saya katakan, ada banyak bentuk sublimasi. Tapi intinya, pada titik terjadinya sublimasi itulah, penonton memiliki kebebasan untuk menikmati sekaligus menafsir. Dengan kata lain, subtil.

 

Tentu saja ini bukan perkara remeh. Banyak penyanyi bersuara bagus, barangkali juga dengan aksi panggung yang memukau, tapi gagal total memberi sesuatu kepada penonton untuk dibawa pulang.

 

Kegagalan itu muncul pertama kali karena abai, bahwa menyanyi di panggung bukanlah menyanyi di kamar mandi untuk dinikmati sendiri, atau lebih rendah dari itu, sebagai ajang pamer diri.

 

Maksud saya, menyanyi di panggung harus dimaknai sebagai proses memberi yang menjadi. Sebuah perjalanan yang tidak sekali sampai atau selesai dikerjakan sendiri.

 

Dan di atas panggung, proses tersebut adalah peristiwa dalam satu bangun interelasi yang kompleks, kadang dengan berbagai tarik-menarik, terutama dengan penonton.

 

Tapi justru dalam ketegangan interelasi itu lahirlah ‘dialog dalam ingar keriangan’. Meski, sering dia tak terucapkan dan muncul hanya dalam beberapa momen selintas.

 

Dan sadar tidak sadar, dialog dalam ingar seperti itulah yang niscaya sejak awal diinginkan oleh para penonton Bill Saragih, atau yang lebih dari itu, para penikmat Louis Amstrong.

 

Para penonton itu tahu, selesai konser nanti mereka akan pulang ke rumah dan tidur atau bercinta dengan membawa sesuatu. Mereka akan tersenyum, tapi bukan karena habis menonton konser.

 

Melainkan karena baru terlibat dalam satu percakapan tentang kehidupan, tentang diri mereka sendiri, dengan ingar serta sunyi bunyi dan sembunyi yang tak sepenuhnya terkendali.

 

Ya, percakapan itulah yang membuat nyanyi tidak menjadi jenis aktivitas pribadi yang terasing dari yang lain. Dia juga harus berfungsi untuk melekatkan kembali ikatan batin kita dengan hidup.

 

Mungkin, itu pula sebabnya, kenapa pencapaian sublimasi seperti itu acap dimiliki oleh musisi jazz, oleh mereka yang sudah khatam dalam urusan teknik, dan karenanya bisa terus melakukan eksplorasi.

 

Dan dalam hal Indonesian Idol, sublimasi nyanyi itulah sebenarnya poin yang harus disadari para juri, termasuk oleh penyelenggaranya. Paling tidak, agar menyanyi tidak jatuh menjadi sekadar menyanyi.

 

Tentu saja, sublimasi dalam kedalaman pemahaman seperti itu tidak akan bisa dicapai dengan cara-cara artifisial, yang jamak dipakai penyanyi dangdut kampungan saat mengawali aksinya:

 

“Selamat malam semuanyahh… Jumpa lagi kita dalam bla bla blah... Assalamualaikum warahmatullaahi wabarokatuh.. Yang sebelah sana masih mau digoyangggggg???” (bastanul.siregar@bisnis.co.id)

 

BACA JUGA:

*) INDONESIAN IDOL 2012: Regina Masuk Trending Topic Dunia

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top