PENYAKIT KRONIS kian meluas, asupan makanan jadi faktor dominan

 
Adhitya Noviardi | 22 April 2012 14:05 WIB

 

JAKARTA: Pada 2020 nanti penyakit kronis akan mencapai tiga perempat dari semua penyebab kematian di dunia. Faktor asupan makanan dinilai sebagai salah satu pemicu.
 
Sebanyak 71% kematian karena penyakit jantung iskemik, 75%  karena stroke, 70% akibat diabetes akan terjadi di negara berkembang. 
 
Dalam studi yang sama juga disebutkan jumlah penderita diabetes di negara berkembang akan meningkat 2,5 kali lipat. Dari 8,4 juta orang pada 1995, menjadi 228 juta orang pada 2025. 
 
"Temuan lain menunjukkan 65% dari beban penyakit kronis, akan ditanggung oleh negara berkembang," kata Dokter Tirta Prawita Sari, Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi dalam diskusi Memahami Label Makanan Kemasan, Upaya Menerapkan Gizi Seimbang di Jakarta.
 
Dari data tersebut, ujarnya, yang dianggap memiliki konstribusi paling besar sebagai faktor predisposisi terjadinya kondisi sakit adalah tidak terkendalinya asupan dari komponen makanan dan minuman, terlebih pada zat-zat yang dapat mencetuskan respon patologis dari tubuh, yang akhirnya menimbulkan penyakit.
 
Menurut Tirta, perkembangan industri modern belakangan ini berlangsung pesat. Begitu juga dengan industri yang memproduksi makanan dan minuman. "Kita bisa lihat di mal, supermarket, hingga ke warung kaki lima, memajang berbagai macam makanan dan minuman dalam kemasan yang menarik, untuk memikat pembeli," ujarnya.
 
Masalahnya, katanya, seiring dengan makin banyaknya produk makanan yang muncul di pasar, makin meningkat persaingan usaha. Itu menyebabkan ada sejumlah produsen melakukan beberapa hal yang bertujuan agar makin banyak konsumen yang memilih produknya. Bahkan juga ada yang mengurangi kandungan zat maupun isi produk, supaya untungnya lebih banyak.
 
"Ironisnya perbuatan yang tidak bertanggung jawab dari beberapa produsen tersebut, lolos dari pengawasan pihak yang berenang," ungkap dokter spesialis gizi kesehatan ini.
 
Untuk itu, lanjut Tirta, Yayasan Gema Sadar Gizi sebagai lembaga swadaya masyarakat yang konsen dalam masalah gizi, mengimbau pemerintah untuk bersungguh-sungguh menegakkan peraturan perundangan-undangan, berkaitan dengan label produk makanan dan minuman kemasan.
 
Selain itu, katanya, pemerintah agar melakukan pengasawan untuk mengecek kebenaran dan kesesuaian antara label dan kandungan pokok produk. "Juga mewajibkan produsen untuk mencantumkan peringatan bahaya kesehatan terhadap produk makanan dan minuman tertentu, bila dikonsumsi berlebih," ujarnya. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top