PENYAKIT AUTISME: Perawatan Ditanggung BPJS

Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Eka Viora mengatakan perawatan bagi anak menderita autisme ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional yang dilaksanakan oleh BPJS Kesehatan, sehingga diharapkan masyarakat dapat mencari pelayanan yang dibutuhkan anak mereka.
News Editor | 02 April 2014 17:00 WIB
Kartu peserta BPJS Ketenagakerjaan - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA--Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Eka Viora mengatakan perawatan bagi anak menderita autisme ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional yang dilaksanakan oleh BPJS Kesehatan, sehingga diharapkan masyarakat dapat mencari pelayanan yang dibutuhkan anak mereka.

"Gangguan autis masuk ke gangguan jiwa anak dan remaja. Pola tarifnya masuk dalam INA-CBGs (Indonesia Case Based Groups), jadi jika memiliki kartu JKN maka akan ditanggung," kata Eka dalam temu media memperingati Hari Kepedulian Autisme di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (2/4/2014)

Meski demikian, Eka mengakui layanan bagi autisme belum tersedia secara lengkap di fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas karena membutuhkan pendekatan multidimensi.

"Fasilitas di primer belum ada yang khusus, tapi ada tenaga-tenaga di puskesmas yang telah dilatih untuk melakukan deteksi dini," paparnya.

Deteksi dini austisme termasuk dalam salah satu program nasional untuk kesehatan anak dengan harapan jika dapat dideteksi lebih awal maka dapat diintervensi lebih awal juga.

"Saat ini layanan khusus autis cuma ada di rumah sakit yang menggunakan pendekatan multidimensi,"  jelas Eka.

Pemerintah Pusat memiliki empat RS yang melayani perawatan kebutuhan khusus tersebut antara lain di Jakarta dan Bogor, namun Eka menyebut RS pemerintah daerah juga telah memiliki layanan autis tersebut.

"RS di daerah juga sudah ada yang melayani autis, di layanan tumbuh kembang anak. Ini membutuhkan penanganan komprehensif, jadi memang belum sampai ke fasilitas primer," tutur Eka.

Pemerintah disebutnya memiliki kewajiban untuk menyediakan kebutuhan anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut, seperti memudahkan akses untuk layanan kesehatan.

Prevalensi kasus autisme di dunia diperkirakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 62:10.000 atau 1 dari 160 anak.

Di Indonesia, jumlah 'insidens' belum diketahui secara pasti, namun Kemendiknas pada tahun 2010 memperkirakan prevalensi autisme di Indonesia sebesar 1:500 kelahiran atau 400.000 anak Indonesia menderita autisme.

Pada 2007 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui ditetapkannya 2 April sebagai Hari Kepedulian Autisme Sedunia untuk meningkatkan kesadaran seluruh komponen masyarakat tentang autisme, dan mendorong agar adanya diagnosis dini dan intervensi yang tepat.

Tag : bpjs kesehatan
Editor : Ismail Fahmi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top