BAND PENYANDANG AUTISME: The Spe.ed.ster 3 Rajai Pentas Asia

The Spe.ed.ster 3 baru dibentuk sejak 1,5 tahun lalu. Band ini terdiri dari Valentin Keken Christanto sebagai keyboardist, Kezia Kuryakin Sibuea sebagai pemain biola, Joshua Khendrico Khendy sebagai bassist, Owen Tjahjono Sianto sebagai drummer, dan Oliver Wihardja sebagai vokalis.
Ipak Ayu H Nurcaya | 02 Januari 2016 16:47 WIB
The Spe.ed.ster 3

Bisnis.com, JAKARTA - The Spe.ed.ster 3 baru dibentuk sejak 1,5 tahun lalu. Band ini terdiri dari Valentin Keken Christanto sebagai keyboardist, Kezia Kuryakin Sibuea sebagai pemain biola, Joshua Khendrico Khendy sebagai bassist, Owen Tjahjono Sianto sebagai drummer, dan Oliver Wihardja sebagai vokalis.

Kelima remaja itu merupakan penyandang autisme. Namun, bakat bermusik lima remaja ini tidak perlu diragukan lagi.

Bahkan, mereka yang tergabung dalam sebuah band berna-ma The Spe.ed.ster 3 baru saja meraih penghargaan The Best Rhythm dalam Autistic Talent Gala Asia, pada 18 Desember 2015.

Di bawah bimbingan musisi Tito Soemarsono dan tim guru Yayasan Bina Abyakta, mereka meraih kemenangan dengan membawakan lagu Lady Madonna yang dipopulerkan The Beatles dan telah diaransemen.

Autistic Talent Gala Asia meru-pakan ajang kompetisi musik se Asia bagi para penyandang autisme yang diselenggarakan oleh AnAn International Education Foundation di Hong Kong.

Ajang kompetisi yang memasuki tahun kedua ini diikuti tujuh negara, yakni Jepang, Filipina, Indonesia, China, India, Malaysia, Singapura. Dalam ajang kompetisi ini menampilkan bakat penyandang autisme, untuk memperlihatkan pada publik bahwa mereka juga mampu berprestasi.

The Best Rhythm merupakan satu dari lima kategori yang dikompetisikan.

Guru Yayasan Bina Abyakta Arani Aslama menuturkan The Spe.ed.ster 3 bersaing dengan 77 peserta individu dan grup dari tujuh negara yang diseleksi sejak Juli 2015.

Selanjutnya, pada September The Speed.ster 3 terseleksi masuk final bersaing dengan 8 grup, hingga akhirnya mendapatkan penghargaan The Best Rhythim pada Desember kemarin.

Ara menyampaikan pada awalnya pihaknya tidak memiliki target atas kemenangan ini. Sebab, tujuan utama keikutsertaan para penyandang autisme pada ajang kompetisi tingkat Asia untuk memberikan pengalaman baru bagi pesertanya.

Setelah The Spe.ed.ster 3 sering tampil di Jakarta, tampil dipanggung besar dengan penonton dari berbagai negara merupakan penga laman baru. “Ini kesempatan mereka untuk keluar dari comfort zone-nya, serta mendapatkan pengalaman sebaik mungkin dan apresiasi dari luar negeri,” tuturnya.

Perjalanan The Spe.ed.ster 3 menyajikan sebuah harmonisasi musik yang baik bukanlah proses yang mudah. Ara menyebut kelima remaja ini dituntut untuk bekerja sama dengan personel band lainnya sehingga tercipta suatu harmonisasi yang tepat.

Proses ini dikatakan berat kare-na para penyandang autisme memiliki keunikannya masing-masing. Ara mengatakan para penyandang autisme memiliki keterbatasan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Terkadang mereka sibuk dengan apa yang ada dalam imajinasi mereka, sehingga banyak orang menilai penyandang autisme cenderung tidak mengikuti aturan.

Sementara, ketika bermain musik dalam sebuah band perlu mengikuti turan agar tercipta harmonisasi. Maka pola pembelajaran yang berbeda diterapkan agar mereka dapat belajar bekerja sama.

Proses latihan sudah dilakukan sejak 6 bulan sebelum babak final. Pada bulan pertama, latihan dilakukan 2 jam setiap minggu. Kemudian jadwal latihan meningkat menjadi 30 menit setiap hari menjelang babak final.

“Pernah suatu kali saat sedang latihan, ada personel yang seharusnya menyanyi tiba-tiba tertawa sendiri dan tidak berhenti. Jika demikian kami harus pisahkan dia terlebih dahulu dan membuatnya tenang. Setelah itu baru gabung dengan yang lain,” ungkapnya.

Tidak semua personel band bentukan Yayasan Bina Abyakta ini datang dengan bakat musiknya. Selain datang sebagai solois musik, beberapa di antaranya belum pahan cara bermusik.

“Individu autisme yang memiliki bakat bermusik itu banyak. Namun, ketika harus bekerja sama, dimana satu dengan yang lain harus mengikuti ritmenya, itu suatu effort yang luar biasa,” katanya.

Menurut Ara, kemenangan ini menjadi pembuktian bahwa para penyandang autisme juga dapat berprestasi di tingkat Asia. Dia berharap masyarakat yang sebelumnya memandang sebelah mata pada penyandang autisme, dapat mengapresiasi kehadiran mereka.

Selain juga manfaat bagi penyandang autisme yakni meningkatkan rasa percaya diri dan belajar bersosialisasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
autisme anak

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top