Kursus Anak Memasak, Jangan Hanya Ikut Tren

Vania Wibisono melihat tren menjamurnya kursus memasak untuk anak setelah program masterchef junior ditayangkan
Ipak Ayu H Nurcaya | 10 Januari 2016 23:35 WIB
Memasak. - www.resepmasakanku.info

Bisnis.com, JAKARTA - Vania Wibisosno melihat tren menjamurnya lembaga kursus memasak untuk anak ini sejak ditayangkannya program Junior Master Chef. Vania yang pernah mengikuti Professional Cooking: Food Production and Management Class – UCLA extension Santa Monica di Los Angeles, Amerika Serikat pada 2011 ini mengaku banyak manfaat yang dapat diambil dari anak-anak dari kegiatan ini. Berikut hasil wawancaranya:

Q: Bagaimana pandangan Anda dengan tren kursus memasak bagi anak ini?

A: Menurut aku mulai maraknya sejak sekitaran 2009-2010 ya, pokoknya mulai ditayangkan acara junior master chef. Seru banget sih memang kan ada drama-drama anaknya jadi lucu. Nah, sekarang kalau mulai merebak ya menurut aku pengaruh media tadi.

Sejauh ini, aku juga selalu memadukan manfaat kegiatan memasak dengan sisi ilmu psikologi yang aku punya. Nah, di sana banyak sekali manfaat yang bisa diambil si anak, mulai dari melatih fun motorik, sampai kemampuan intelegensi.

Aku dulu pernah sekali waktu juga diminta satu apartemen untuk mengisi programnya memberi kelas memasak buat anak, tetapi waktu itu ya aku buat untuk kegiatan menyenangkan saja. Konsepnya untuk anak di bawah 15 tahun jadi membuat sajian tanpa menggunakan api.

Q: Lalu apasih tantangan dan yang harus diperhatikan saat mengajarkan anak memasak?

A: Tantangan kalau menurut saya, setiap chef yang mengajar harus punya asisten untuk selalu memantau anak, bahkan kalau perlu hadirkan juga psikolog dalam setiap kelasnya. Kemudian perhatikan rentang usia anak. Kalau masih di bawah remaja buat kegiatan yang menyenangkan saja kayak membuat minuman atau menghias kue. Kalau saya intinya tadi api itu bukan untuk anak-anak. Di atas remaja lah 13-15 tahun ke atas baru bisa pakai api.

Kemudian anak zaman sekarang itu gampang bosan. Jadi jangan sampai lengah dan malah membuat dapur berantakan karena ulah si anak.

Q: Apakah harus ada sertifikat khusus mengajar untuk anak?

A: Sejauh yang aku tahu tidak ada, karena kita enggak seperti guru di sekolah harus ada pendidikan khususnya. Makanya saya juga berpeluang sebenarnya membuka kelas, dan sudah banyak yang meminta juga. Ya tapi masi ada beberap kesibukan mungkin bakal jadi rencana jangka panjang. Saya juga suka sekali dunia anak-anak.

Q: Apa perbedaan pola pengajaran memasak dewasa dengan anak-anak?

A: Jadi kalau untuk orang dewasa biasanya lebih ke menghasilkan makanan tertentu. Nah kalau anak lebih ke edukasi yang merangsang perkembangan intelegensinya. Kayak yang saya katakan tadi motorik anak akan dirangsang, mempertajam seluruh panca indra dan lainnya.

Kemudian kalau anak masih dibedakan berdasarkan usia tadi ya. Jadi kalau yang dibawah remaja tidak boleh asal dikasih pisau atau dengan api.

Q: Tips memilih kursus memasak yang baik untuk anak?

A: Pertama memang tugas orang tua yang harus menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak. Sesuaikan dengan lingkungan yang cocok untuk kepribadian anak. Kemudian pastikan kondisi dapur sebagai ruang kelas terjaga kebersihannya. Terakhir, pilih program yang diberikan satu lembaga tersebut yang pas dengan jadwal anak.

Terakhir untuk orang tua, jangan hanya memikirkan tren. Jika pada tahap selanjutnya minat anak bukan dalam bidang memasak sebaiknya tidak memaksakan anak untuk terus mengikuti kelas memasak.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
parenting

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup