"Curse To Blessing", Rhenald Kasali Ajak Ubah Kutukan Jadi Berkah

Rhenald Kasali baru saja merilis buku terbarunya berjudul "Curse To Blessing: Transformasi Bojonegoro Melawan Kutukan Alam", Selasa (20/12/2016) di Jakarta.
Azizah Nur Alfi | 21 Desember 2016 16:12 WIB
Peluncuran buku karya Rhenald Kasali - Bisnis.com/Azizah Nur Alfi

Bisnis.com, JAKARTA - Rhenald Kasali baru saja merilis buku terbarunya berjudul "Curse To Blessing: Transformasi Bojonegoro Melawan Kutukan Alam", Selasa (20/12/2016) di Jakarta.

Buku setebal 200 halaman dan diterbitkan Penerbit Mizan itubanyak menuturkan tentang Bojonegoro yang pernah menjadi daerah termiskin di Jawa Timur, tetapi kini telah berhasil menjadi daerah dengan pembangunan paling pesat.

"Jika kita baca sejarah, dulu Bojonegoro adalah daerah miskin. Kalau hujan kebanjiran, kalau kemarau kekeringan. Kini berkat minyak, Bojonegoro maju pesat. Namun, bukan itu yang membuat Bojonegoro fenomenal. Visi pembangunan pemimpinnya yang membuat potensi Bojonegoro mampu dimaksimalkan," tutur Rhenald ketika peluncuran bukunya.

Dalam pandangannya, pembangunan yang pesat itu berkat keberhasilan mengelola kekayaan minyak sebagai modal pertumbuhan dan modal investasi pembangunan sumber daya manusia.

Rhenald memaparkan, fenomena kutukan sumber daya alam merupakan fenomena  daerah atau negara yang kaya sumber daya alam mengalami kondisi pertumbuhan perekonomian tidak sepesat daerah atau negara yang tidak memiliki kekayaan alam. Bahkan, kekayaan alam yang dimiliki tersebut justru membawa masyarakat dalam kondisi penuh konflik dan hidup miskin.

Sebagai contoh provinsi penghasil tambang batubara di Kalimantan, atau penghasil emas di Sulawesi dan Papua, justru berada dalam gelombang kemiskinan. Bahkan, daerah yang meski lumbung energi, kondisi listriknya tidak bisa diandalkan untuk terus menyala 24 jam.

"Hal-hal tersebut menjadi contoh dimana kekayaan alam, bukannya menjadi berkah, malah menjelma menjadi kutukan. Bagai ayam mati di lumbung padi, sebuah daerah kaya sumber daya alam ternyata bisa hidup dalam keterbelakangan dan kemiskinan. Untuk itu diperlukan pemimpin daerah yang memiliki visi, agar berkah alam itu tidak menjadi kutukan," imbuhnya.

Rhenald menuturkan, buku yang ditulisnya itu banyak bercerita tentang Bojonegoro yang kaya migas berkat faktor leadership yang mampu membawa masyarakat pada konsep pembangunan yang berkelanjutan. Pendapatan migas disisihkan sebagai dana abadi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga ketika tiba saatnya ketika harga minyak anjlok dan sumur-sumur mengering, Bojonegoro telah memikirkan inovasi lain pengganti minyak.

Buku ini ditulis dengan gaya naratif tentang perlunya kesadaran akan unsur kekayaan sumber daya alam sebagai faktor pendorong kemajuan suatu daerah dimaksudkan sebagai sumbangan bagi daerah-daerah lain untuk dapat memaksimalkan potensi kekayaan alam yang dimilikinya untuk masa depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
buku

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top