Cerita Christine Hakim Berperan Jadi Ibu Kandung Kartini

Pemeran senior papan atas Indonesia Christine Hakim terlibat dalam film Kartini yang akan tayang pada 19 April 2017. Dalam film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri Robert Ronny itu, Christine Hakim mempunyai peran penting sebagai Ngasirah, ibu kandung Kartini.
Azizah Nur Alfi | 17 Maret 2017 08:12 WIB
Christine Hakim - Youtube

Bisnis.com, JAKARTA - Pemeran senior papan atas Indonesia Christine Hakim terlibat dalam film Kartini yang akan tayang pada 19 April 2017. Dalam film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri Robert Ronny itu, Christine Hakim mempunyai peran penting sebagai Ngasirah, ibu kandung Kartini.

Meskipun sudah cukup sering memerankan karakter yang diangkat dari kisah nyata, namun Christine mengakui bahwa memerankan karakter yang pernah ada dalam catatan sejarah itu tidaklah mudah.

“Membuat film sejarah itu secara tidak langsung seperti merekonstruksi skenario Tuhan. Saya punya tanggung jawab moral yang lebih besar, jauh lebih besar dibanding karya-karya lainnya. Itulah sebabnya saya perlu menapak tilas kehidupan Ngasirah, Kartini dan kelurga Sosroningrat sampai ke Jepara, Rembang, dan Kudus. Di samping itu, yang tidak kalah pentingnya, saya berusaha juga menapak tilas batin Ngasirah dan terutama Kartini," tuturnya melalui keterangan resmi, Kamis (16/3).

Persiapan Christine Hakim untuk film Kartini memang tidak main-main. Keseriusan Christine menyiapkan peran Ngasirah terlihat dari intensitas yang dijalaninya.

“Tugas saya sebagai aktor adalah memahami dan menghidupkan peran yang diberikan. Termasuk bagaimana peran itu hidup, bernafas dan berinteraksi dengan karakter yang lain. Saya mencoba menganalisa Ngasirah dengan memahami tokoh-tokoh yang ada di dalam kehidupan Ngasirah, seperti Kartini, Sosroningrat, bagaimana karakternya. Bagaimana Sosroningrat di mata saudara-saudaranya, di mata Bupati yang lain, di mata Belanda. Kemudian bagaimana Kartini, Kardinah, Kartono dalam kehidupan kesehariannya,” ceritanya.

Untuk bisa menghidupkan peran Ngasirah, yang mungkin tidak banyak diketahui oleh banyak masyarakat Indonesia, persiapan Christine tidak tanggung-tanggung. Dia sempat tinggal di set bangunan yang memang dibangun khusus untuk film Kartini beberapa hari sebelum syuting. Dia ikut membersihkan rumah tersebut, dan berpakaian selayaknya Ngasirah di luar syuting.

Christine menambahkan yang tersulit ketika memerankan Ngasirah adalah kompleksitasnya sebagai anak seorang Kyai, lalu menjadi istri Bupati yang berdarah biru, walaupun sebagai istri pertama. Jadi sulit bagaimana menentukan di satu pihak, Ngasirah bukan pembantu, di lain pihak status sosialnya di dalam tradisi kehidupan yang harus dijalani agak lebih tinggi sedikit dari pembantu.

Riset yang dalam dan serius yang dilakukan Christine Hakim untuk peran Ngasirah dan tokoh-tokoh lain di film Kartini membuatnya semakin mengagumi Kartini.

“Dilema Kartini itu luar biasa besarnya. Bahwa pada akhirnya Kartini memilih untuk tinggal, tidak menerima beasiswa yang sudah dia dapatkan dari pemerintah Belanda. Itu bukan kekalahan menurut saya, tapi itu suatu pilihan. Pilihan Kartini menurut saya tidak bisa dianggap sebagai kegagalan krn mempertahankan akar budaya bangsa juga penting. Bangsa yang tercabut dari akarnya, maka dia akan goyah," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top