Film Indonesia Tak Lagi Jakartasentris

Perkembangan industri perfilman belakangan kian memberi hasil menggembirakan. Termasuk peningkatan jumlah penonton pada 2016 yang sangat signifikan.
Ramdha Mawaddha | 17 April 2017 12:46 WIB
Ilustrasi film -

Bisnis.com, JAKARTA - Perkembangan industri perfilman belakangan kian memberi hasil menggembirakan. Termasuk peningkatan jumlah penonton pada 2016 yang sangat signifikan.

Dalam Katalog Film Indonesia yang diluncurkan Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini menyebutkan jika per Oktober 2016, sebanyak 103 judul film yang tayang di bioskop yang menyedot 28,4 juta penonton. Dibanding tahun seblumnya (2015) jumlah penonton 15,4 juta.

Selain jumlah penonton, bukti lain disebutkan jika perkembangan embrio industri mulai terbentuk adalah pembuatan film yang tak lagi Jakartasentris. Siti, film independen karya Eddie Cahyono bahkan terpilih sebagai film terbaik Festival Film Indonesia dan Apresiasi Film Indonesia 2015.

Selain itu, film-film Yosep Anggi Noen, pembuat film asal Yogyakarta menjadi langganan festival film internasional. Bahkan filmnya yang bertajuk Istirahatlah Kata-kata mampu tayang di bioskop.

Makassar beberapa tahun terkhir juga memproduksi film cerita panjang lokal yang laris di bioskop dengan 521.028 jumlah penonton. Dan makin banyak film daerah lain yang mulai bermunculan seperti Batam, Belitung, Pontianak dan Kutai yang beredar di bioskop.

Menanggapi hal ini, penulis skenario Irfan Ramli mengatakan jika film daerah dengan mngangkat cerita lokal belum banyak. Hal tersebut dikarenakan pangsa pasar yang belum stabil.

Menurut Ipang, fenomena yang menarik memang terjadi di Makassar dengan film Uang Panai. Hanya diputar di Makassar dengan jumlah layar yang tidak banyak tapi bisa mencapai jumlah penonton yang banyak. Tapi justru banyak film Indonesia yang rilis di banyak tempat, tapi tidak bisa mendapat 500.000 penonton.

Menurut lelaki penulis skenario film Cahaya dari Timur ini, rata-rata produksi film masih banyak konsentrasi ke masyarakat perkotaan Jakarta. Hal tersebut dikarenakan pasar film masih berpusat di perkotaan.

Kendati demikian, menjadi hal menarik bagi lelaki yang kerap disapa Ipang ini. Menurutnya, jika seseorang diperhadapkan pada sebuah cerita, maka mereka [penonton] tentu akan nyaman dengan film yang memiliki kedekatan. Misalnya film berbahasa Jawa, penonton dengan keseharian berbahasa Jawa akan memiliki kedekatan terhadap film tersebut.

“Punya pasar atau tidak, pasti punya, dan film itu bisa dinikmati oleh orang yang memang memiliki kedekatan dengan penonton,” kata Ipang belum lama ini.

Namun yang menjadi kendala berikut menurut Ipang adalah kebradaan bioskop di daerah-daerah. “Misalnya saya mau buat film di Jember, di sana tidak ada bioskop. Pasti mereka bisa menikmati filmnya, tapi mereka mau nonton di mana?” pungkasnya.

Data terakhir yang dirilis Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, jumlah ketersediaan layar bioskop di Indonesia sebanyak 1.110 layar.

Tag : film indonesia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top