Bakteri Wolbachia, Solusi Atasi Demam Berdarah Dengue Aedes Aegypti

Dari sekian banyak penyakit menular di Indonesia, demam berdarah dengue (DBD) menjadi salah satu yang paling ditakuti. Meskipun telah diperangi secara masif, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti itu sangat susah untuk dimusnahkan.nn
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 18 Juni 2017  |  20:59 WIB
Bakteri Wolbachia, Solusi Atasi Demam Berdarah Dengue Aedes Aegypti
Ilustrasi - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Dari sekian banyak penyakit menular di Indonesia, demam berdarah dengue (DBD) menjadi salah satu yang paling ditakuti. Meskipun telah diperangi secara masif, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti itu sangat susah untuk dimusnahkan.

Infeksi DBD telah mengancam lebih dari seperempat penduduk bumi atau setara dengan 2,5 miliar jiwa. Adapun, Asean menjadi kawasan dengan jumlah kasus dengue fever tertinggi di dunia dengan rekor 300 juta orang terinfeksi, menurut catatan WHO pada 2015.

Dari jumlah tersebut, WHO mencatat 22.000 diantaranya—khususnya anak-anak dan remaja—meregang nyawa akibat DBD. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus DBD naik dari 90.245 kasus pada 2012 menjadi 100.347 kasus pada 2014; dengan tingkat kefatalan 0,9%.

Pemerintah sebenarnya sudah berkali-kali berupaya menggalakkan program memerangi DBD. Misalnya melalui program fogging dan 4M (menimbun, menutup, menguras, dan memantau) untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Di luar upaya pemerintah tersebut, berbagai pihak juga tengah putar otak mencari solusi infeksi DBD yang kian merajalela. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh tim Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta.

Mereka mencari kunci pemutus infeksi DBD dari nyamuk aedes aegypti dengan meneliti penggunaan wolbachia sebagai metode utama untuk mencegah penyebaran demam berdarah. Penelitian tersebut didanai oleh Yayasan Tahija.

Riset tim EDP Yogyakarta itu mendapat respons positif dari WHO. Pada Maret 2016, Organisasi Kesehatan Dunia mengadakan Vector Control Advisory Group (VCAG) untuk meninjau pilihan program pengendalian nyamuk sebagai respons dari wabah Zika.

“Kemudian VCAG mengakui metode wolbachia sebagai metode yang potensial dalam pengendalian DBD. Pasalnya, virus Zika dan DBD dibawa oleh pembawa [vector] yang sama; yaitu nyamuk aedes aegypti,” kata Peneliti Utama EDP Yogyakarta Adi Utarini.

Sekadar catatan, wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat di dalam sel tubuh lebih dari 60% spesies serangga di dunia dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui telur.

Bakteri tersebut ditemukan pada berbagai serangga yang lazim di sekitar kita, seperti; ngengat, lalat buah, capung, kumbang, dan nyamuk yang menggigit manusia. Namun, wolbachia tidak ditemukan pada nyamuk aedes aegypti yang menularkan DBD.

Adi mengklaim wolbachia aman bagi manusia, binatang, dan lingkungan. Analisis risiko yang digunakan oleh Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) pada 2011 di Australia dan Vietnam membuktikan bahwa metode wolbachia terbukti aman bagi manusia dan lingkungan.

Pendekatan Baru

Sementara itu, Koordinator Media dan Komunikasi EDP Yogyakarta Bekti Andari menjelaskan saat ini dibutuhkan pendekatan baru yang lebih inovatif untuk mencegah dan mengendalikan penularan penyakit DBD.

Oleh karena itu, dia dan timnya melakukan uji pengembangbiakan nyamuk pembawa bakteri wolbachia di wilayah acak di D.I. Yogyakarta dengan pengawasan ketat untuk memperoleh bukti epidemiologi.

EDP Yogyakarta membagi Kota Jogja ke dalam 24 klaster, dan hanya sebagian dari wilayah-wilayah tersebut yang ditipi ember berisi telur nyamuk aedes aegypti yang mengandung bakteri wolbachia.

“Di akhir penelitian nantinya, kasus DBD akan dibandingkan antara wilayah yang dititipi telur nyamuk dengan yang tidak dititipi telur nyamuk. Jadi penelitian di Jogja ini ditunggu hasilnya,” ujarnya di sela-sela kunjungan tim EDP ke Bisnis Indonesia, Kamis (15/6).

Bekti mengatakan saat ini penelitian yang telah dilakukan sejak 2011 itu telah menginjak tahapan ketiga dari empat fase. Sebelumnya, EDP telah meletakkan nyamuk-nyamuk ber-wolbachia di wilayah terbatas sekitar Kabupaten Sleman dan Bantul.

Sementara itu, ahli serangga EDP Yogyakarta Warsito Tantowijoyo telah menyurvei populasi nyamuk di wilayah yang akan dititipi wolbachia. “Survei yang kami lakukan menunjukkan bahwa populasi aedes aegypti ada di wilayah penelitian sepanjang tahun.”

Oleh karena itu, lanjutnya, masyarakat harus mewaspadai DBD setiap saat, tidak hanya saat musim penghujan. Harapannya adalah agar jangan sampai DBD merenggut lebih banyak korban.

Ketua Yayasan Tahija Agus Susanto menambahkan saat ini pihaknya terus melakukan sosialisasi ke berbagai pihak terkait manfaat wolbachia utuk mengatasi penyebaran infeksi DBD. Sosialisasi tersebut mendapat dukungan pemda Yogyakarta dan berbagai pemangku kepentingan.

“Sejak 2016, kami mengadakan sekitar 370 pertemuan dengan masyarakat untuk mengampanyekan perang terhadap DBD dan juga tentang penelitian EDP Yogyakarta menggunakan metode wolbachia ini,” ujarnya.

Dia berpendapat pelibatan para pemangku kepentingan lintas sektor tersebut selaras dengan komitmen negara-negara Asean untuk bekerjasama mengupayakan pencegahan penularan DBD.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
demam berdarah

Editor : Bambang Supriyanto
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top