Desainer Daerah Masih Butuh Dorongan

Dalam suatu pameran batik di Jakarta, Buyung menyambangi salah satu stand milik kawannya. Karena agak lelah, dia duduk di kursi. Sambil berbincang dengan kawannya, di kejauhan terlihat seorang wanita yang sedang termenung. Stand yang sepi membuatnya hanya bisa diam.
Nindya Aldila | 21 Juni 2017 11:00 WIB
Ilustrasi - Zaoyangnews

Bisnis.com, JAKARTA- Dalam suatu pameran batik di Jakarta, Buyung menyambangi salah satu stand milik kawannya. Karena agak lelah, dia duduk di kursi. Sambil berbincang dengan kawannya, di kejauhan terlihat seorang wanita yang sedang termenung. Stand yang sepi membuatnya hanya bisa diam.

Tak sabar ingin tahu, Buyung menghampiri wanita tersebut. “Ibu dari mana?,” tanya Buyung. “Dari Palangkaraya pak. Silakan dilihat batiknya, pak. Ini batik Palangkaraya,” jawab wanita itu. Setelah melihat beberapa kain batik milik wanita tersebut, Buyung seketika terperangah dengan kain-kain tersebut.

Betapa kampungan sekali warna yang digunakan wanita itu. Tanpa ingin menyakiti hati wanita itu, si Buyung memberikan saran kepada wanita itu. “Bu, kalau menjual batik seperti ini tidak akan laku di Jakarta. Ibu keliling saja dulu dan melihat batik di gerai yang paling ramai,” kata Buyung.

Tak lama, Buyung meninggalkan wanita tersebut. Dua tahun berlalu, dia kembali berkunjung ke pameran batik. Tak menyangka, dia kembali bertemu dengan wanita tersebut. Sambil mengobrol, dia melihat stand batik Palangkaraya di belakang wnaita ini.

Stand ini begitu ramai pengunjung. Ternyata, batik tersebut milik wanita itu. Dia mengubah pewarnaan pada batiknya menjadi lebih natural dan cerah. Motif yang digunakan juga menjadi lebih harmonis dengan palet warna yang digunakan.

Mengubah profesi menjadi perancang busana mungkin gampang, tetapi untuk mempertahankan karir dan membuat produk yang sesuai dengan selera masyarakat kekinian belum tentu jadi pekerjaan mudah.

Ketua Komunitas Desainer Etnik Indonesia Raizal Buyung Rais mengatakan perancang busana dan pengrajin di daerah masih memiliki keterbatasan informasi soal tren. Banyak yang tidak menyadari selera masyarakat kota.

“Selain itu, pendidikan sekolah fesyen itu mahal. Di Jakarta setahun bisa habis Rp1 miliar. Yang menderita anak daerah yang sekolah tata busana. Kalau lulusan Esmod, mana mau mereka jadi asisten desainer. Padahal, banyak desainer yang butuh,” ujarnya.

Untuk itu, Buyung getol sekali menyebarkan semangat berkarya untuk para desainer di daerah. Baginya, siapapun bisa menjadi perancang busana asalkan orang tersebut memiliki selera seni.

Lewat perkumpulan usaha busana fesyen yang dulu sempat dia naungi, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Buyung melakukan beberapa kompetisi di daerah seperti Aceh, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Lombok, dan Jawa. Hasilnya, banyak desainer Jakarta yang percaya dengan kemampuan pengrajin di daerah.

“Kami memberikan pelatihan kepada perancang di daerah. Kami memberikan informasi tren kepada mereka setiap tahun agar mereka tidak kalah dengan dunia. Hal ini kami lakukan karena keterbukaan informasi soal tren bagi perancang di daerah sangat penting,” katanya.

Perancang busana Ida Leman mengatakan tidak ada ketimpangan antara kemampuan desainer di daerah maupun di Jakarta. Hanya saja, kesempatan desainer di Jakarta untuk melakukan promosi seperti melalui fashion show lebih besar.

Selain itu, daya beli konsumen di Jakarta jauh lebih tinggi, bahkan cenderung konsumtif. Jadi, tidak heran jika desainer yang berbasis di Jakarta jauh lebih mapan.

Namun, dia menyayangkan, sekarang sudah banyak desainer yang bermain dengan batik printing. Dengan demikian, desainer daerah berperan penting untuk mengembangkan dan melestarikan kain tradisional, seperti batik tulis, lukis, atau cap.

“Kita harus inovatif dan berpegang kepada kultur kita. Kita harus bangga terhadap motif kain yang sangat beragam di Indonesia,” katanya.

Tag : desainer
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top