Berkenalan Dengan Secondary Skin

Secondary skin merupakan lapisan di luar dinding utama tetapi tidak menempel pada bagian tersebut. Lapisan ini dibuat oleh para arsitek untuk mengatasi persoalan panas yang muncul karena paparan sinar matahari.
Dika Irawan | 22 September 2017 11:15 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Paparan sinar matahari seringkali membuat hawa rumah terasa panas. Terutama rumah-rumah yang menghadap ke arah matahari terbenam, panasnya tentu akan lebih terasa. Untuk mengantisipasi hal tersebut, penghuni bisa mencoba secondary skin.

Secondary skin merupakan lapisan di luar dinding utama tetapi tidak menempel pada bagian tersebut. Lapisan ini dibuat oleh para arsitek untuk mengatasi persoalan panas yang muncul karena paparan sinar matahari.

Namun, tidak hanya menahan panas, secondary skin juga dapat dikreasikan dengan beragam bentuk untuk mempercantik desain rumah. Alih-alih ingin mereduksi panas di rumah, lewat secondary skin penghuni juga dapat memperindah huniannya. Seperti apa secondary skin dan fungsinya. Berikut penjelasan arsitek Denny Setiawan:

FUNGSI

Setidaknya ada dua fungsi utama yang dimiliki oleh secondary skin. Pertama, fungsi sebagai elemen estetis. Pada fungsi ini, secondary skin dapat digunakan untuk membentuk muka bangunan. Misalnya, secondary skin dipasang pada bagian fasad bangunan untuk mempertegas karakter desain rumah.

Kedua, penangkal sinar matahari. Arsitek biasa memberi secondary skin untuk hunian yang menghadap ke barat. Sebab rumah dengan menghadap ke arah tersebut terkena paparan matahari lebih banyak dibandingkan dengan rumah yang menghadap posisi lainnya.

Melalui secondary skin ini paparan sinar matahari tidak langsung mengenai bangunan, melainkan akan tertahan olehnya. Sebab tak jarang sinar matahari selain membuat rumah terasa panas, juga dapat merusak jendela dan perabotan di dalam hunian.

MATERIAL

Bicara soal material secondary skin. Terdapat beragam material yang biasa digunakan oleh arsitek untuk membuat lapisan luar bangunan ini a.l. bata roster, kayu solid, kayu imitasi, besi hollow, perforated metal, kaca, bambu, hingga tanaman merambat. Material-material tersebut dianggap memiliki kemampuan menangkal sinar matahari yang menyengat. Untuk jenis tanaman rambat penghuni bisa menggunakan tanaman lee kwan yew. Selain itu penghuni bisa pula membuat kebun vertikal sebagai secondary skin.

BENTUK

Dengan beragam material yang tersedia, secondary skin dapat dieksplorasi ke berbagai bentuk, pola serta efek pencahayaan untuk membuat muka rumah tampil lebih ciamik. Mulai dari berongga, transparan, hingga bentuk lainnya.

Namun, tak ada aturan baku mengenai hal tersebut, melainkan kembali kepada kreativitas si pemilik rumah. Tentunya, bentuk-bentuk tersebut disesuaikan dengan konsep rumah yang diusung atau ditampilkan.

Biasanya secondary skin kerap digunakan pada rumah-rumah berkonsep arsitektur modern yang cenderung kotak-kotak. Selain modern, secondary skin juga bisa diaplikasikan untuk rumah bergaya tropis.

PEMASANGAN

Jika Anda tertarik dengan secondary skin ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, antara lain arah bangunan. Secondary skin idealnya dipasang pada bagian bangunan yang paling banyak mendapat paparan sinar matahari. Kemudian, secondary skin dipasang pada jarak tertentu dari dinding rumah untuk menciptakan ruang kosong guna keperluan sirkulasi udara.

Selain itu perhatikan pula jarak buka daun jendela dengan secondary skin. Hal ini diperlukan agar ketika jendela dibuka tidak berbenturan dengan rangka lapisan tersebut. Selanjutnya pilih material dan bentuk secondary skin yang sesuai dengan karakter rumah.

Disarankan pilih material yang kuat dan tahan lama. Setelah itu perlu diperhatikan pula perawatannya. Sebaik mungkin peeampatan secondary skin ini dapat dijangkau untuk keperluan perawatan.

Tag : arsitektur
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top