Heboh Kangen Water: Brosur Dinilai Berlebihan. Ini Reaksi Kemenkes dan Pendapat Dokter

Klaim-klaim yang dibuat oleh produsen air minum kesehatan sebagai obat berbagai macam penyakit dinilai berlebihan. Perlu ada pembuktian secara klinis terkait manfaat produk tersebut secara medis.
Nindya Aldila | 24 November 2017 22:50 WIB
Ilustrasi - kangenwater.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Klaim-klaim yang dibuat oleh produsen air minum kesehatan sebagai obat berbagai macam penyakit dinilai berlebihan. Perlu ada pembuktian secara klinis terkait manfaat produk tersebut secara medis.

Belum lama ini beredar surat yang menyatakan Kementerian Kesehatan memerintahkan PT Enagic Indonesia, produsen kangen water, untuk menarik brosur yang terkait informasi mengenai produk mesin kangen water yang diklaim sebagai alat kesehatan dan telah diakui negara.

Kangen water adalah air minum yang memiliki pH 9,5 atau bersifat basa (air alkali) yang diproduksi menggunakan mesin khusus. Kangen water dipercaya bisa bermanfaat untuk kesehatan.

Konsultan gastroenterohepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam mengatakan, secara umum, air pasti bermanfaat untuk tubuh. Namun, klaim air alkali yang bisa mengobati penyakit dinilainya terlalu berlebihan.

Ari menjelaskan, di dalam lambung ada keseimbangan antara faktor agresif dan defensif. pH lambung manusia sekitar 1-2.

Kalaupun seseorang minum air alkali, nantinya air tersebut akan menjadi netral di dalam tubuh. Bahkan, jika pH-nya terlalu tinggi atau terlalu rendah malah bisa merusak.

Banyak iklan air alkali yang menggembar-gemborkan bahwa air alkali bisa bermanfaat untuk menyeimbangkan pH darah. Padahal, pH darah harus seimbang di antara 7,35 – 7,45. “Jadi kalau terlalu basa, malah bisa jadi masalah,” katanya kepada Bisnis.com, Jumat (24/11/2017).

Riset mengenai manfaat air alkali mungkin ada, lanjutnya, tetapi perlu dibuktikan apakah produk ini berkhasiat secara medis atau tidak. Jika hanya secara teori, bisa saja teori tersebut benar, tetapi tetap harus dibuktikan.

“Saya tidak mau bilang air alkali ini bekhasiat atau tidak. Kalau kita bicara soal publikasi, apakah ini berdasarkan peer review journal atau bukan. Ini semua harus dicek lagi,” tuturnya.

Dokter yang terpilih menjadi dekan FKUI ini menyebutkan bahwa semestinya pemerintah bisa merespons cepat terkait produk-produk baru yang berkaitan dengan kesehatan supaya bisa mengantisipasi klaim-klaim yang berlebihan seperti ini.

“Banyak produk semacam ini yang teregistrasi BPOM. Masalahnya, bisa saja saat registrasi klaimnya mungkin untuk air minum biasa, tetapi iklannya beda lagi. Di situlah tugas BPOM untuk melakukan pengawasan iklan [produk kesehatan],” ungkap Ari.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mengeluarkan surat berita acara pemeriksaan pada 10 November 2017 lalu. Isinya, pemeriksaan tersebut dilakukan kepada PT Enagic Indonesia dengan nama pimpinan Erwin Sharif Harahap.

Dalam surat tersebut, terdapat empat poin yang harus dipatuhi Enagic Indonesia. Di antaranya, perusahaan harus menarik semua brosur terkait informasi yang mengklaim bahwa produk mesin kangen water telah diakui negara (Kementerian Kesehatan).

Kedua, perusahaan harus menarik semua brosuk terkait informasi yang mengklaim bahwa produk mesin kangen water sebagai medical device.

Ketiga, perusahaan tidak boleh mengklaim bahwa produk mesin ionisasi (water electrolysis) sebagai produk yang dapat menyehatkan dan/atau menyembuhkan.

Keempat, poin pertama hingga ketiga harus ditindaklanjuti dan diperbaiki kepada Direktur Pengawasan Alat Kesehatan dan PKRT Kementerian Kesehatan dalam waktu tujuh hari sejak surat tersebut ditanda tangani.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top