Film Naura dan Genk Juara Diprotes: Ini Tanggapan Produser

Film Naura dan Genk Juara belakangan ini santer dibicarakan oleh publik. Sayangnya komentar yang datang, tidak semua bernada positif, ada pula yang berkomentar negatif tentang film anak-anak ini.
Ilman A. Sudarwan | 24 November 2017 06:32 WIB
Presiden Direktur PT Suntory Garuda Beverage Indonesia, Fransiskus Johny Soegiarto (dari kanan), pemeran Naura, Naura, dan pemeran Okky, Okky Josh, berbincang di sela-sela konferensi pers film drama musikal Naura & Genk Juara di Jakarta, Selasa (14/11). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Film Naura dan Genk Juara belakangan ini santer dibicarakan oleh publik. Sayangnya komentar yang datang, tidak semua bernada positif, ada pula yang berkomentar negatif tentang film anak-anak ini.

Sejak 2 hari lalu, muncul petisi dari akun Windi Ningsih melalui laman change.org yang meminta pemberhentian penayangan film tersebut dari seluruh Indonesia. Alasannya, tak lain karena film ini dianggap mendeskreditkan pemeluk agama Islam.

Menurut akun tersebut, penggambaran tokoh antagonis dalam film tersebut sengaja ditujukan untuk mendeskreditkan agama Islam. Para penjahat disebutkan olehnya menggunakan atribut-atribut yang selama ini lekat dengan orang Islam di Nusantara.

Sampai berita ini diturunkan petisi dengan judul Stop Film Anak yang Melecehkan Agama! tersebut telah mendapat 46.784 pendukung. Hanya terpaut beberapa ribu tanda tangan lagi untuk mencapai target mereka sebanyak 50.000 penanda tangan.

Menanggapi tuduhan tersebut, produser film ini Fauzan Zidni mengaku cukup kecewa dengan hal tersebut. Menurutnya justru film Naura adalah film yang berusaha mengajak anak-anak untuk mencintai alam dan ilmu pengetahuan. Selain itu, film ini juga ditujukan untuk mengajarkan tentang kebersamaan dan persahabatan kepada anak-anak.

“Saya cuma berharap pihak yang ramai membuat ini menjadi kontroversi untuk menonton kembali filmnya, lalu menilai dengan pikiran jernih. Jangan apa-apa langsung dituduhkan penistaan agama. Tolonglah bisa lebih bijak dengan memisahkan antar karya seorang filmmaker dengan pilihan politik yang pernah dia pilih,” katanya.

Polemik ini terus bergulir memunculkan pro dan kontra di mana-mana. Masing-masing dari mereka punya pendapat dengan latar belakang dan alasan yang berbeda. Salah satunyad adalah Ketua Umum Indonesian Film Director Club (IFDC) Lasja F. Susatyo.

Sama seperti Fauzan, dia juga berpendapat bahwa film ini adalah film yang bagus untuk mendidik anak-anak di Indonesia. "Sudah lama Indonesia tidak memiliki film musical, dan Eugine sudah membuat karya yang sangat baik. Harus kita apresiasi," katanya.

Menurutnya, jika petisi tersebut dilanjutkan dan tuduhan pelecehan agama ini benar-benar sampai dibawa ke meja hijau justru malah mengajarkan kebencian kepada anak sejak dini kepada anak-anak di Indonesia.

"Marilah kita tetap menjadi bangsa yang toleran dan tidak menjadi bangsa  pemarah. Penggunaan dalil penistaan agama untuk hal yang paling innocent seperti tontonan anak malah menyuburkan bibit kebencian dari rasa curiga sejak usia dini. Ibu yang bijak adalah kunci dari pendidikan toleransi di negara ini," katanya.

 

 

Tag : film indonesia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top