Mengenal Penyedia Taksi Udara

Berdiri sejak 2007, CeoJetset dikenal menyediakan jasa penyedia dan penyewaan helikopter serta pesawat jet pribadi. Dari sekian layanan transportasi udara, Ceojetset memiliki layanan Heli Taksi.
Dika Irawan | 27 Desember 2017 20:38 WIB
Ilustrasi: Helikopter pariwisata - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Berdiri sejak 2007, CeoJetset dikenal menyediakan jasa penyedia dan penyewaan helikopter serta pesawat jet pribadi. Dari sekian layanan transportasi udara, Ceojetset memiliki layanan Heli Taksi.

Perusahaan inimenawarkan layanan taksi udara untuk daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan daerah-daerah sekitarnya dengan titik antar-jemput yang strategis. Edukasi tentang transportasi ini terus dilakukan oleh Ceojetset agar masyarakat lebih akrab dengan taksi udara tersebut.

Berikut petikan wawancara Bisnis dengan Direktur Ceojetset Sony Faisal lewat sambungan telepon belum lama ini:

Bagaimana latar belakang munculnya layanan taksi udara ini?

Latarbelakang munculnya layanan ini karena memang Jakarta itu kota macet. Tak ada transportasi yang terintegrasi dengan Bandara. Sudah begitu, ketika orang hendak melakukan pertemuan mereka membutuhkan waktu tak sebentar. Padahal lokasinya tidak berjauhan. Misalnya dari Gatot Subroto ke Kuningan, dahulu bisa dijangkau 30 menit, kalau macet bisa dua jam.

Berangkat dari permasalahan macet itu, akhirnya kami meluncurkan Heli Taksi pada 2016 lalu. Pada layanan ini kami bekerjasama dengan penydia helipad dan heliport di Jakarta. Dari titik manapun ke titik manapun di Jakarta, kami harganya flat Rp21.600.000.

Jadi untuk Jakarta ini kami membagi ke tiga zona. A, wilayah khusus Jakarta, entah itu Jakarta Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Kemudian zona B, wilayah Bogor, Bekasi, Cibitung, dan Pulau Seribu. Zona C, itu areanya sudah ke Bandung.

Cuma memang sekali lagi, orang-orang masih memiliki paradigma helikopter itu mahal. Memang terlihat mahal, tetapi harga itu sesuai dengan layanan yang diberikan. Umpamanya, ketika pelaku bisnis harus melakukan pertemuan deal proyek bernilai miliaran rupiah, mereka bisa menggunakan jasa helikopter yang harganya Rp21 jutaan. Keuntungannya mereka bisa cepat berada di lokasi dan ongkos puluhan juta helikopter itu tak seberapa dibandingkan dengan nilai proyek miliaran. Dibanding membuang-buang waktu di jalan dengan kemacetan.

Sejak diluncurkan, bagaimana animonya hingga kini?

Kami memang terkendala masih dengan adanya asumsi bahwa helikopter itu mahal. Jadi memang sosialisasi kami masih kurang. Terus animo masyarakat menggunakan helikopter di Jakarta agak kurang karena bagai berbagai pertimbangan seperti kurang percaya diri.

Beda dengan Amerika yang sudah tinggi layanan transportasi udaranya. Kalau Jakarta itu susah. Kami harus edukasih bahwa helikopter itu aman, simpel, dan cepat. Beberapa pihiak sudah kita gandeng seperti perbankan, restoran premium [untuk menggunakan helikopter]. Untuk penggunanya kebanyakan dari kalangan pelaku bisnis sejauh ini.

Bagaimana dengan tempat pemberangkatannya di sejumlah tempat, apakah sudah memadai?

Sekarang di Jakarta sudah ada ratusan helipad dan heilport. Hampir tiap gedung punya. Kami sudah bekerjasama dengan pengelola-pengelola helipad dan heliport itu. Sebelum mendarat kami akan kirim petugas landing untuk menyiapkan pendaratan helikopter. Jadi prosedur keselamatan betul-betul kami utamakan.

Kami sih berharap hingga 5 tahun ke depan, taksi udara sudah jadi kebutuhan masyarakat. Transportasi darat dengan kemudahan orang beli mobil, akhirnya membuat kemacetan jalan karena jumlah kendaraan dan luas jalannya tidak berimbang. Dengan demikian, salah satu solusi mengatasi kemacetan adalah helikopter.

Apakah ada syarat tertentu yang harus dipenuhi penumpang sebelum terbang?

Untuk kami penumpang bisa pesan via surat elektronik atau telepon dan situs. Kami butuh tanggal dan jam pemberangkatan. Mau berangkat ke mana dan tibanya di mana. Jumlah penumpangnya dan permintaan lain-lainnya. Setelah itu kami akan konfirmasi.

Bagaimana potensi bisnis ini ke depannya?

Bagus. Kami masih sangat terbuka dengan entitas bisnis lain untuk bekerjasama dengan kami. Artinya pada saat tertentu mereka membutuhkan layanan cepat. Kami bukan sekadar tawarkan produk, tetap solusi kemacetan.

Berapa armada yang dimiliki? Tipenya apa saja?

Saat ini kami memiliki beberapa tipe heli, antara lain Eurocop EC135 punya dua unit, Bell 107 ada dua unit, dan Bell 429 ada satu unit. Secara keseluruhan kami memiliki helikopter berkapasitas empat seat, lima seat, dan 12 seat.

Bagaimana persaingan dengan penyedia jasa taksi udara lainnya?

J: Kami bermitra dengan penyedia taksi udara lainnya. Kami melihatnya bukan persaingan, tetapi tugas bersama untuk mengedukasi masyarakat bahwa kami menawarkan solusi. Jadi kami bersama-sama berjuang supaya masyarakat mau melirik opsi ini.

Apakah ada musim-musim tertentu, jasa ini kebanjiran layanan?

Kalau untuk Jakarta tidak ada. Kecuali di daerah itu ramai ketika musim pilkada. Kalau untuk bisnis ramainya di pertengahan tahun dan akhir tahun. Perminggu itu ada tiga sampai 5 perjalanan.

Bagaimana tantangannya?

Kami membuka diri selebarnya kepada institusi yang mau bekerjasama dengan kami. Selain itu kami juga terbuka untuk kemungkinan itu [membuka layanan bekerjasama dengan perusahaan transportasi online]. Cuma memang untuk hal ini perlu ada pembicaraan lebih banyak. Kalau darat istilahnya penumpang tak ada, pengemudi ada tinggal pilih lain. Kalau heli, penumpang tak ada terbang untuk siapa. Jadi memang ada beberapa teknis pembayaran [yang perlu dibicarakan]. Intinya kami sangat terbuka.

Tag : helikopter
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top