Aprofi Sebut Ekosistem Perfilman Indonesia Terus Membaik

Tahun 2017 memberi harapan yang besar akan kemajuan industri perfilman Indonesia di masa mendatang.
Ilman A. Sudarwan | 13 Januari 2018 21:19 WIB
Film Uang Panai - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Tahun 2017 memberi harapan yang besar akan kemajuan industri perfilman Indonesia di masa mendatang. Jumlah penonton sepanjang tahun lalu meningkat dibandingkan dengan  tahun sebelumnya, dari 34,5 juta penonton menjadi 41 juta.

Menaggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) Fauzan Zidni mengatakan bahwa hal itu menunjukkan pertumbuhan yang positif bagi ekosistem perfilman Indonesia. Dia beranggapan film Indonesia sudah lebih diterima dengan baik oleh masyarakat.

Berdasarkan data yang dihimpun Aprofi, tahun lalu dari total 113 judul film yang beredar, jumlah film Indonesia yang mendapatkan penonton di atas 100.000 orang meningkat menjadi 45,13%. Jumlah film yang penontonnya kurang dari 100.000 turun dari 75% pada tahun sebelumnya menjadi 54,87% pada 2017.

"Artinya sudah lebih banyak film Indonesia yang laku dan bisa balik modal, tidak seperti tahun sebelumnya di mana jumlah penonton film lokal hanya berpusat di segelintir film. Saya pikir ekosistemnya terus membaik saat ini," ungkapnya.

Dalam beberapa kesempatan, terutama pada akhir tahun bahkan menurutnya film Indonesia sudah bisa bersaing dengan film kelas berat dari Hollywood seperti Star Wars: The Last Jedi dan Jumanji. Menurutnya, hal itu bisa diartikan bahwa iklim perfilman Indonesia telah meningkat.

Fauzan menuturkan dalam 10 hari terakhir Desember 2017, hampir dua pertiga layar di seluruh Indonesia berisi film Indonesia. "Artinya, film kita sudah lebih mendapat kepercayaan dari pihak bioskop."

Sementara, secara muatan atau realitas masyarakat yang diangkat ke layar lebar, menurutnya, juga menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Mulai bermunculannya film yang menampilkan realitas masyarakat daerah di luar Jakarta seperti Uang Panai yang mengangkat kehidupan masyarakat Makassar atau film Turah yang berbahasa Jawa adalah buktinya. "Ruang-ruang untuk suara kedaerahan semakin terbuka," katanya.

Dari sisi prestasi juga lebih banyak film Indonesia yang mampu mendapatkan penghargaan di ajang internasional. Film seperti Marlina, The Seen and Unseen, atau Turah berhasil menembus ajang bergengsi internasional seperi Toronto Film Festival, Cannes Film Festival, ataupun Piala Oscar.

Dia mengajak seluruh pelaku industri perfilman untuk terus mengembangkan potensi dengan berusaha menghasilkan film-film dengan kualitas yang benar-benar layak untuk penonton di Indonesia.

Tag : film indonesia
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top