Cinta atau Diperbudak Kerja

Van Gogh adalah potret sedih kehidupan. Semasa hidupnya, kerjanya hanya melukis dan melukis. Dia begitu mencintai seni lukis. Bahkan, dia sendiri tidak terlalu peduli apakah dia menghasilkan uang atau tidak.
Anthony Dio Martin, Trainer, Inspirator, Managing Director HR Excellency & Miniworkshopseries Indonesia, Penulis, Executive Coach | 16 Februari 2018 21:10 WIB
Anthony Dio Martin - Istimewa

Van Gogh adalah potret sedih kehidupan. Semasa hidupnya, kerjanya hanya melukis dan melukis. Dia begitu mencintai seni lukis. Bahkan, dia sendiri tidak terlalu peduli apakah dia menghasilkan uang atau tidak.

Seumur hidupnya, diketahui dia hanya berhasil menjual satu lukisannya. Akhirnya, Van Gogh meninggal dengan tragis dalam kondisi depresi berat. Dia mengahiri hidupnya sendiri. Akan tetapi, setelah meninggal, lukisan-lukisannya yang dilukis dengan “hati” justru menjadi rebutan. Potret dirinya sendiri terjual seharga US$71,5 juta.

Bahkan, baru-baru ini ada sebuah film kartun Loving Vincent yang dilukis sekitar 100 pelukis untuk menghormatinya. Film ini pun diganjar banyak pernghargaan. Salah satunya adalah pemenang festival film Eropa 2017.

Dalam kehidupan kita pun mengenal banyak orang seperti Vincent Van Gogh, yang begitu mencintai apa yang dikerjakannya. Sampai-sampai, dia rela bahkan tidak dibayar sepeser pun.

Kisah lain adalah penemu Thomas Alva Edison. Dia begitu mencintai pekerjaan, sampai-sampai dia punya tempat tidur di samping laboratoriumnya. Maksudnya sederhana, supaya pada saat bangun langsung bisa bekerja.

Cinta atau diperbudak kerja? Bedanya memang tipis. Akan tetapi, yang nyata, tatkala orang mencintai pekerjaannya, energinya tidak ada habis-habisnya. Bahkan, mereka menjadi begitu terobsesi dan pekerjaannya menyelimuti seluruh pikiran mereka.

Berbeda dengan mereka yang diperbudak pekerjaannya, mereka hanya terobsesi untuk menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi, mereka sendiri tidaklah begitu menikmati apa yang dilakukan. Mereka mengerjakan hanya karena merasa berkewajiban untuk melakukan pekerjaan itu sampai tuntas.

Sebagai contoh, ada seorang direktur keuangan yang punya kebiasaan kerja sampai larut malam. Kerjanya beragam sampai termasuk teliti ulang laporan keuangan serta membuat berbagai strategi finansial perusahaan, termasuk ide investasi. Dia sering mengeluh capek dan letih, tetapi dia tahu bahwa dia harus melakukan pekerjaannya dengan tuntas.

Akan tetapi, pekerjaan tuntas itu seakan-akan hanya mimpi. Satu kerjaan selesai, kerjaan lainnya menyusul. Memang, dia diganjar dengan bayaran yang amat tinggi, tetapi tidak ada kepuasan dalam apa yang dikerjakan. Hanya ada stres dan depresi.

Apakah tanda-tanda mencintai pekerjaan yang sesungguhnya?

Howard Shultz, pendiri Starbuck yang terkenal mengatakan dalam bukunya Pour Your Heart into It (tuangkanlah hatimu ke dalamnya). Menurutnya, itulah kunci sukses Starbuck. Dengan kata lain, mencintai pekerjaan dalam definisinya adalah sungguh-sungguh memberikan hati dengan apa yang dilakukan.

Selain itu, adanya kondisi flow saat mengerjakan. Apakah flow itu? Flow adalah suatu kondisi di mana seseorang lupa waktu dan segalanya. Saking asiknya dia dengan apa yang dikerjakan. Misalnya, dikatakan saat mengerjakan tulisannya, Charles Dickens bisa berhari-hari hanya asik menulis tanpa mau diganggu. Tatkala mendapatkan inspirasi luar biasa seperti menulis buku Christmas Carol-nya yang terkenal, Charles Diskin menghabiskan waktu berhari-hari selama beberapa pekan anya menulis dan menulis.

Tanda lainnya adalah kita mendapatkan kepuasan yang luar biasa justru ketika mengerjakannya. Sebagai contoh yang menarik adalah kisah hidupnya Bill Porter, seorang salesman sabun Watkins yang menjual secara door to door. Sampai-sampai kisah hidupnya dibuat menjadi film yang terkenal, yakni Door to Door. Meskipun dia penderita celebral palsy (lumpuh otak), ada kutipan menarik dari Bill Porter, “Ayah saya penjual. Saya adalah penjual dan saya cinta untuk menjual!” 

Bahkan, dia sering sampai berkata bahwa kalua pun dikasih kesempatan hidup lagi berikutnya, dia akan memilih pekerjaan sebagai seorang penjual lagi.

Lantas, bagaimana jika kita bekerja karena terpaksa?

Oke, Anda mungkin bertanya begini, “Bagaimana mencintai pekerjaan kita, kalau kita memilih pekerjaan ini karena terpaksa?”

Sebenarnya, setiap pekerjaan adalah pilihan. Kita bisa memilih bekerja dengan sepenuh hati atau dengan terpaksa. Belajar dari mereka yang sukses dan para juara, sebenarnya tidak semua bekerja di bidang yang mereka kuasai ataupun cintai pada awalnya. Namun, akhirnya mereka bisa belajar mencintai pekerjaannya serta menjadi terbaik di bidang itu.

Gandhi punya gelar sarjana hukum, bahkan sebelum jadi politikus. Hitler adalah pelukis yang gagal sebelum jadi politikus. Jadi, kuncinya adalah berupaya segenap tenaga untuk apa yang dikerjakan saat ini.

Selanjutnya, kunci mencintai pekerjaan adalah sungguh all out atau totalitas dengan apa yang dikerjakan. Ada yang menarik tatkala Larry King, salah satu pewawancara terkenal di CNN saat ditanya apakah dia mencintai pekerjaannya. Dia menegaskan, “Yang aku tahu setiap kali melakukan pekerjaan, aku lakukan dengan all out. Dan ketika pekerjaan selesai, aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian dan tidak diganggu.”

Dikatakan, Larry King bukanlah orang yang ekstrovert banget untuk melakukan pekerjaan sebagai seorang pewawancara. Namun, karena tuntutan pekerjaan, dia berusaha keras untuk total dengan pekerjaan. Hasilnya, dia akhirnya bisa mencintai pekerjaannya.

Akhirnya, kunci terpenting dari mencintai pekerjaan adalah melihat dampaknya bagi orang lain. Ada kisah yang menarik saat AA Milne penulis cerita anak-anak terkenal Winnie The Pooh terpaksa menghentikan buku anak-anaknya, karena kehidupan anaknya Chriostopher Robin jadi terganggu.

Namun, pekerjaan menulisnya dilanjutkan setelah anaknya sendiri menyemangatinya bahwa pada saat anaknya itu pergi ke medan perang, kisah Winnie The Pooh justru menjadi kenangan manis bagi banyak tentara di medan perang.

Akhirnya, AA Milne melihat bagaimana bukunya, ternyata menjadi inspirasi yang luar biasa. Jadi, bukan lagi hanya mengejar uang ataupun popularitas.

Begitulah kalau kita simpulkan bahwa mereka yang sukses mencintai apa yang mereka lalukan. Dan kalua pun mereka tidak melakukan apa yang mereka cintai, mereka berusaha mencintai apa yang mereka lakukan.  So, pertanyaannya, sudahkah Anda mencintai pekerjaan Anda? Atau, jangan-jangan selama ini selalu stres dengan pekerjaan karena kita melakukannya dengan terpaksa?

Tag : pekerja
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top