Seperti Apa Suka Duka Menjadi Pemain Game Profesional? Begini Ceritanya

Punya hobi yang menghasilkan uang, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan tentunya menjadi impian banyak orang. Para pemain atau atlet esports adalah salah satu dari sedikit kalangan yang berhasil mewujudkan kehidupan impian seperti itu.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 24 Februari 2018  |  23:05 WIB
Seperti Apa Suka Duka Menjadi Pemain Game Profesional? Begini Ceritanya
Adit Rosenda - facebook

Bisnis.com, JAKARTA - Punya hobi yang menghasilkan uang, atau menjadikan hobi sebagai pekerjaan tentunya menjadi impian banyak orang. Para pemain atau atlet esports adalah salah satu dari sedikit kalangan yang berhasil mewujudkan kehidupan impian seperti itu.

Pemain game DOTA 2 profesional dari tim Evos Esports Adit Rosenda adalah salah satu nama pemain esports yang dimiliki Indonesia saat ini. Meski begitu, pemain dengan nama panggilan Aville di dunia game ini mengaku awalnya tak pernah berencana menjadi pemain profesional. Bermain game, awalnya hanya merupakan hobi saja.

"Namun, seiring berjalannya waktu, bidang ini semakin terlihat meyakinkan untuk dijalani. Jadi saya dengan senang hati memilih hobi ini untuk menjadi pekerjaan saya," imbuhnya.

Dalam dunia game online, namanya sudah malang melintang di berbagai tim yang ada di Indonesia. Ratusan kompetisi juga sudah dia ikuti. Salah satu kompetisi terbesar yang pernah diikutinya adalah kompetisi World Electronic Sports Games 2018. Dia bersama timnya sudah dipastikan akan berlaga di tingkat dunia ajang tersebut, setelah menjuarai tingkat Asia Pasifik pada Januari lalu.

"Kami mewakili asia pasifik ke tingkat dunia(WESG WORLD) yang akan diadakan Maret nanti melawan tim tim dari seluruh penjuru dunia. Saya harap saya bisa mempersembahkan yang terbaik untuk esport Indonesia," katanya.

Semua pencapaiannya saat ini tidak didapatnya degan cara yang mudah. Dia harus lebih dulu berlatih bertahun-tahun, menghabiskan waktu di warung internet, dan membeli komputer personal sendiri. Tak hanya itu, pada awalnya dia juga harus menghadapi ketidaksetjuan pihak keluarganya sendri.

"Awalnya keluarga saya ragu karena beberapa tahun kemarin tidak ada yang tau soal esport, tapi saat ini orang tua sudah full mendukung bidang yang saya tekuni karena melihat potensi dari saya sendiri dan potensi dari esport itu sendiri," jelasnya.

Sebagai pemain profesional yang terikat kontrak dan dibayar reguler setiap bulan, Adit saat ini juga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk berlatih di warung internet ataupun membeli perangkat komputer untuk berlatih. Sekarang, kata Adit, semua kebutuhan tersebut sudah disediakan oleh timnya dan para sponsor.

Adi mengakui untuk menjadi atlet esports profesional hambatan utamanya adalah tentang membagi waktu dan dedikasi. Setiap harinya, dia harus tinggal dan berlatih di base camp tim sebagai tempat pemusatan latihan. Hal itu membuatnya cukup jauh dari orang tuanya.

"Untuk sukses atau setidaknya bertahan di bidang ini, sangat butuh dedikasi. Dan itu sangat menyita waktu. Disamping itu saya juga mempunyai keluarga yang menunggu dirumah. Jadi harus pintar membagi waktu untuk keluarga dan bidang ini," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
e-sports

Editor : Martin Sihombing
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top