Belajar Toleransi dan Keikhlasan dari Film Guru Ngaji

Banyak cara dapat dilakukan untuk mengajarkan moral dan nilai-nilai kebaikan kepada anak, salah satunya melalui film. Terkait itu, film terbaru besutan sutradara Erwin Arnada dan produser Rosa Rai berjudul Guru Ngaji, bisa menjadi pilihan.
Dewi Andriani | 16 Maret 2018 09:30 WIB
Guru Ngaji - youtube/SG Trailer ID

Bisnis.com, JAKARTA -- Banyak cara dapat dilakukan untuk mengajarkan moral dan nilai-nilai kebaikan kepada anak, salah satunya melalui film. Terkait itu, film terbaru besutan sutradara Erwin Arnada dan produser Rosa Rai berjudul Guru Ngaji, bisa menjadi pilihan.

Film religi keluarga yang diproduksi Chanex Ridhall Picture tersebut tayang pada 22 Maret 2018 di bioskop Indonesia.

Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia bersama Alatief Corporation mengajak para anak yatim dan hafiz Qur'an dari Rumah Qur'an nonton bersama film yang diperani Donny Damara di XXI Plaza Senayan.

"Kegiatan ini dapat membangkitkan semangat anak - anak, lebih semangat belajar mengaji. Ini merupakan salah satu program yang dijalankan komisi sosial dan kerohanian. Ada sekitar 60 anak yang ikut terdiri dari 30 anak yatim dan 30 anak hafiz Qur'an," ujar Indah SDA, ketum PPLIPI, Kamis (15/03/2018) sore.

Dona A. Latief, Wakil Ketua Umum PPLIPI sekaligus perwakilan Alatief Corporation menambahkan, film Guru Ngaji perlu didukung karena sangat mengutamakan pelajaran moral, edukasi, religi, kepada anak - anak. Cerita yang disajikan juga sangat menginspirasi dan layak disaksikan bersama keluarga.

"Alatief corporation mensupport film ini karena sangat bagus dan menginspirasi serta bernafaskan religi yang juga sejalan dengan Alatief Corporation," ujarnya.

Sementara itu, Maya Miranda Ambarsari Sekjen PPLIPI mengatakan akhlak yang baik pada anak harus dipupuk sejak dini. Salah satunya dengan mengajarkannya membaca Al-Qur'an.

"Belajar mengaji itu sangat penting diajarkan sejak kecil sehingga dapat memupuk akhlaknya sedari dini," ujar Maya.

Guru Ngaji bercerita tentang Mukri [Donny Damara], guru ngaji di Desa Tempuran yang selama ini ikhlas mengajar tanpa mengharap balasan materi. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Mukri mengambil pekerjaan sampingan sebagai badut.

Mukri dilanda dilema besar karena dia merasa guru ngaji adalah pekerjaan yang sakral dan terhormat, sementara profesi badutnya justru memancing tertawaan orang. Oleh sebab itu, dia merahasiakan kehidupannya sebagai badut pasar malam dari keluarganya dan segenap warga desa.

Donny Damara

Kepada Antara, aktor Donny Damara mengaku sempat khawatir memerankan karakter Mukdi di film ini.

"Pertama-tama kekhawatiran itu dari saya sendiri, menjadi sosok guru ngaji akan ditiru segala tindak tanduknya, perilakunya. Kekhawatiran terbesar yang saya hadapi adalah ketika melafazkan, takut salah qalqalahnya, tajwidnya. Tetapi ada ustad, saya tanya bagaimana cara membacanya dan lainnya," ujarnya.

Di luar itu, Donny mempertimbangkan penulis naskah, sutradara dan jalan ceritanya.

"Saya lihat ceritanya seksi. Artinya bagaimana yang dilihat sebagai tokoh Mukdi, yang dia sebagai sosok guru ngaji, bagaimana dia menyikapi kekurangannya, bagaimana dia ingin memenuhi kebutuhan keluarganya dan menyenangkan keluarganya," tutur Donny.

Dia juga menggambarkan dilema yang harus dihadapi Mukdi, antara menjadi guru ngaji dan keharusan menghidupi keluarga.

"Bagaimana dia ingin menyenangkan keluarganya seperti layaknya ayah dan suami, dia punya pekerjaan lagi sebagai badut yang mana lingkungan sosialnya tidak tahu," ujarnya.

Tag : film indonesia
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top