Tenun Baduy di Atas Catwalk, Pernah Menjajal Paris Fashion Week

Tenun Baduy adalah salah satu wastra (sandangan) Nusantara. Selama ini belum banyak yang mengolah tenun Baduy secara konsisten untuk menjadi bagian dalam fesyen modern. Tapi, meski pelan popularitas tenun Baduy terus meningkat.
Asteria Desi Kartika Sari | 20 April 2018 11:39 WIB
Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) Spring/Summer 2018 - Bisnis/Dwi Prasetya

Tenun Baduy adalah salah satu wastra (sandangan) Nusantara. Selama ini belum banyak yang mengolah tenun Baduy secara konsisten untuk menjadi bagian dalam fesyen modern. Tapi, meski pelan popularitas tenun Baduy terus meningkat.

Lekat adalah salah satu jenama fesyen Tanah Air yang selama 4 tahun terakhir konsisten menjadikan tenun Baduy sebagai jantung inspirasi desainnya. Tenun Baduy bagi Lekat adalah pusat sumber kreativitas untuk menghasilkan busana yang unik.

Creative Director Lekat Amanda Indah Lestari bercerita soal alasan memilih material dari salah satu komunitas masyarakat di Banten tersebut. Kain Baduy, katnya, belum banyak diketahui orang. Banyak desainer lebih banyak mengambil material dari luar pulau Jawa, padahal di Banten sendiri ada bahan menarik dan belum banyak digali. 

Kain tenun khas Suku Baduy (mereka menyebut dirinya sebagai Kanekes), menurutnya punya keistimewaan sendiri. Kain tersebut lebih ringan dan memiliki permainan geometris yang lebih menarik. Lekat menjadikan motif geometris menjadi nafas dalam setiap koleksi busana.

Amanda tampaknya selalu mengarahkan koleksi-koleksi busananya agar tak terlepas dari semangat nomaden atau petualang yang selalu berpindah tempat, napas tribal, dan tabrak warna yang begitu kontras. Melalui semangat tersebut, Amanda lewat Lekat ingin menciptakan mood retro melalui siluet celana, blazer, rok, bahkan gaun malam.

Memiliki komitmen sebagai label yang menganut prinsip ethical dan eco-fashion, kali ini Lekat pun mempersembahkan koleksi 20 looks yang kental akan kerajinan lokal dengan potongan yang unik dalam pagelaran mode Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) Spring/Summer 2018.  “Inspirasi saya adalah perempuan feminin, namun tetap bisa terlihat maskulin,” katanya.

Lewat kain tenun dari Baduy, Amanda menyajikan rancangan yang manis dan segar. Unsur kuat tenun dipadankan dengan bahan organza yang ringan dalam koleksi yang didominasi warna hitam, merah, putih, dan baby blue untuk mereflesikan tampilan yang lebih berani, dan cocok untuk dipakai sehari-hari.

Agar semakin menambah kesan playful dan menyenangkan, Amanda mengaplikasikan bunga dengan teknik patchwork nan artistik. Pachwork merupakan seni menyusun atau menggabungkan kain perca dengan beraneka warna dan motif mengikuti pola berulang, kemudian dijahit tangan atapun mesin.

Selain batik, Lekat menggunakan bahan organza untuk memberi dimensi baru pada koleksinya. “Mencoba teknik manipulating. Organzanya ditembak panas biar wrinkle [berkerut],” jelas Amanda.

Menurutnya, organza sangat cocok dikombinasikan dengan kain tenun Baduy. Sebelumnya, Lekat hanya fokus menggunakan kain tenun saja, namun untuk menghasilkan lebih light dan kasual, maka Lekat mulai mengkombinasikan sentuhan bahan yang lebih ringan.

Sebelumnya, Amanda telah membawa koleksi khas sentuhan Suku Baduy ke panggung Paris Fashion Week 2017 melalui rangkaian busana ready to wear. Lewat tema The Beauty of Baduy, dia semakin berambisi untuk semakin memperkenalan keunikan material etnik di pusat fashion dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fashion

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top