Kuliner Indonesia Unjuk Rasa di FHA, Pameran Terbesar se-Asia

Pameran kuliner terbesar se-Asia, Food Hotel Asia (FHA) 2018 di Singapura berlangsung. Dihelat sejak 24 hingga 27 April, Indonesia melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) hadir pada ajang itu dengan membawa para delegasi yang menyajikan kuliner Nusantara.
Dika Irawan | 26 April 2018 19:06 WIB
Pameran Food Hotel Hotel 2018 - Bekraf

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Ekonomi Kreatif atau Bekraf mendukung pelaku ekonomi kreatif mengikuti pameran kuliner terbesar se-Asia, Food Hotel Asia atau FHA 2018 di Singapura.

Pameran yang dihelat sejak 24 hingga 27 April, Bekraf membawa para delegasi yang menyajikan kuliner Nusantara.

 “Pemerintah terus mendukung produk ekraf seperti kuliner untuk go global," Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak dalam keterangan tertulis, Kamis (26/4/2018).

Menurutnya, selain fasilitasi dalam kegiatan yang membawa nama negara, Bekraf  seperti ini kami juga terus aktif memberikan pelatihan di bidang pemasaran tentang branding, promosi dan publikasi produk untuk menarik minat konsumen,” ujar Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak saat meninjau langsung proses business-to-business (B2B) masing-masing produk, Rabu (26/4/2018) lalu dalam keterangan tertulis.

Sambal sebagai salah satu produk kuliner yang terkenal turut hadir mewakili cita rasa nusantara dalam FHA 2018. Chillibags, sebuah perusahaan kuliner yang memproduksi berbagai jenis sambal khas berbagai daerah mendapat respon positif dari para pengunjung. Dalam pelaksanaan hari kedua FHA 2018, perusahaan asal Bogor ini sudah dikunjungi potensial pembeli dan distributor tidak hanya dari Indonesia namun juga Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

“Untuk rasa mereka memberikan pujian, apapun varian yang mereka coba, walaupun ada yang kepedasan tetapi tidak menyesal untuk mencobanya,” ujar Founder Chillibags Yenni Tandaputra.

Dalam pameran kali ini mereka menampilkan 11 varian sambal, 5 varian bumbu nasi goreng, 1 varian asinan, misalnya ikan kayu, cumi, terasi, petai, cengek, kari, dan terasi untuk nasi goreng.

Selain sambal, di paviliun Indonesia juga ada teh hijau yang menarik perhatian potensial pembeli untuk dipasarkan di Singapura dan Malaysia.

“Pengunjung sangat tertarik karena menggunakan non-dairy creamer dan kita sudah aware dengan tidak menggunakan produk turunan sawit dan susu. Mereka yakin produk kita ini vegan friendly, lebih sehat, anti alergi dan mereka juga suka karena rendah gula,” kata Tea Technical Officer Matchamu Dhiksta Olya W.

Dia menjelaskan pengunjung yang datang melihat produknya kebanyakan dari Malaysia karena memiliki budaya minum teh, terlebih lagi karena harga yang mereka tawarkan lebih murah. “Pengunjung Matchamu 50% adalah distributor, 30% dari food services resto dan hotel, sisanya 20% adalah Original Equipment Manufacturing (OEM),” tambah Dhiksta.

Bagi Dhiksta ini adalah kali pertama perusahaan mereka mengikuti pameran kuliner terbesar di Asia, “kami sangat antusias sekali,” katanya.

Produk-produk yang ditampilkan ini merupakan hasil terbaik dari Food Startup Indonesia (FSI) tahun 2017. FSI adalah acara yang digelar Bekraf untuk meningkatkan subsektor kuliner dengan menghubungkan perusahaan rintisan (startup) kuliner kepada ekosistem kuliner terpadu serta meningkatkan akses permodalan non perbankan.

Tidak hanya produk-produk tersebut Bekraf juga mengirimkan delegasi Upnormal Coffee Roasters, Proyek Validasi Soto Indonesia garapan Foodlab Indonesia, dan perusahaan-perusahaan dukungan Atase Perdagangan KBRI Singapura untuk mengisi Paviliun Indonesia.

 

Tag : kuliner
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top