1,6 Miliar Orang Berisiko Mengalami Gangguan Tiroid

Sekitar 1,6 miliar orang di dunia diperkirakan berisiko mengalami gangguan tiroid dan sekitar ratusan juta orang hidup dengan gangguan tiroid.
Dika Irawan | 24 Mei 2018 01:01 WIB
Pemeriksaan Tiroid - Reuters/Damir Sogolj

Bisnis.com, JAKARTA – Sekitar 1,6 miliar orang di dunia diperkirakan berisiko mengalami gangguan tiroid dan sekitar ratusan juta orang hidup dengan gangguan tiroid.

Sementara itu hampir 60% dari mereka saat ini yang hidup dengan gangguan tiroid tidak terdiagnosis, dan bisa jadi mereka berjuang sia-sia melalui kehidupan sehari-hari tanpa mengetahui akar masalah dari gejala-gejala yang mereka rasakan.

Perjalanan untuk terdiagnosis cukup sulit dan melelahkan bagi banyak orang yang terkena gangguan tiroid.

Dalam sebuah survei Merck dan Thyroid Federation Intrenational pada pasien hipotiroid di enam negara menunjukkan bahwa 70% pasien hipotiroid merasa stres dalam perjalanan untuk sampai dengan terdiagnosis.

Sebelum mendapatkan diagnosis, sebagian besar responden (70%) tidak menyadari sama sekali bahwa gejala yang mereka alami akibat gangguan tiroid.

Selain itu, banyak pasien menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum terdiagnosis, 40% harus menunggu 4 bulan hingga 2 tahun.

Survei ini juga mengungkapkan berbagai hal di mana gangguan tiroid yang tidak terdiagnosis dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang; hampir separuh responden (49%) mengatakan bahwa penampilan fisik mereka terkena dampak sebelum terdiagnosis.

Disamping itu, 31% responden merasa kepercayaan diri mereka terpengaruh oleh gangguan tiroid yang tidak terdiagnosis.

“Kami berharap pasien dapat memeriksakan diri ke dokter, yang akan melakukan serangkaian tes yang diperlukan, biasanya tes darah sederhana, untuk memeriksa apakah kelenjar tiroid berfungsi dengan normal atau tidak,” ungkap Francois Feig, Head of the Global Business Franchise General Medicine & Endocrinology di Merck dalam siaran pers, Rabu (23/5/2018).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top