Saat Estetika Gigi Menjadi Pertimbangan

Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan jaringan gigi dan mulut saat ini memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia kedokteran gigi. Pasalnya, kini masyarakat tidak hanya mengeluh tentang sakit gigi, tetapi juga perbaikan estetika .
Asteria Desi Kartika Sari | 01 Juni 2018 21:54 WIB
Gigi sehat - youtube

Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan jaringan gigi dan mulut saat ini memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia kedokteran gigi. Pasalnya, kini masyarakat tidak hanya mengeluh tentang sakit gigi, tetapi juga perbaikan estetika .

Dokter spesialis orthodontist Ahmad Syaukani mengatakan tercapainya estetika yang baik dalam rangkaian perawatan gigi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan faktor kesuksesan perawatan lainnya, seperti fungsi bicara, pengunyahan, dan kenyamanan serta stabilitas perawatan (long term). Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para dokter gigi.

“Para praktisi kedokteran gigi dituntut untuk lebih menguasai teknik-teknik yang secara spesifik dapat menilai masalah estetika yang ada pada pasien,” kata Syaukani.

Dia mengatakan dokter dituntut untuk menganalisis dengan baik, menentukan rencana perawatan, sampai dengan teknik-teknik khusus untuk melakukan perawatan gigi supaya keberhasilan estetika gigi dapat tercapai.

Oleh karena itu, Syaukani yang sekaligus menjadi Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia Cabang Jakarta Pusat (PDGI) menuturkan sudah menjadi kewajiban organisasi untuk terus memfasilitasi para dokter gigi di Indonesia dengan informasi.

“Khususnya terkait perkembangan teknologi yang berbasis ilmu pengetahuan, untuk dapat diterapkan sebagai solusi perawatan kesehatan gigi dan mulut.”

Salah satu teknik estetika gigi yang dapat menjadi pilihan adalah veneer gigi. Hal tersebut dilakukan bagi mereka yang menginginkan gigi sempurna yang diperoleh dalam waktu instan.

Dokter spesialis orthodentinst Mirza Aryanto memaparkan veneer gigi merupakan lapisan buatan untuk melapisi bagian depan gigi manusia. Tujuannya agar warna gigi menjadi lebih putih, meratakan gigi, dan menutup kerenggangan serta keretakan gigi.

Awalnya, lapisan veneer akan dicetak dulu di laboratorium sebelum dipasang. Bahan pembuatannya juga digunakan bermacam-macam, termasuk porselen, keramik dan komposit. Biaya pemasangannya pun bervariasi tergantung dari jenis bahan yang dipakai serta jumlah gigi yang akan dipasang veneer.

Dia mengatakan, veneer gigi bersifat seumur hidup. Maka, bila sudah terpasang tidak mudah dilepas. Sekalipun bisa dilepas, pasti ada dampak buruknya misalnya terjadi kerusakan permanen. Karena itu sebelum dilakukan pemasangan veneer gigi, ada beberapa tahap perawatan yang harus dijalani pasien.

Veneer juga bisa membuat gigi lebih sensitif karena biasanya dilakukan pengikisan gigi. Memasang veneer gigi mengharuskan dokter untuk menghapus enamel gigi dari permukaan gigi melalui pengikisan. Tidak dapat dipungkiri hal tersebut menyebabkan gigi lebih sensitif setelahnya. Terlebih saat pemasangan, dokter akan mengapus terlalu banyak enamel gigi yang dapat mematikan jaringan gigi.

“Pasien yang ingin memasang veneer gigi berkonsultasilah pada dokter gigi, bukan pada tenaga perawat kecantikan,” kata Mirza.

Ada berbagai macam indikasi yang mendorong seseorang melakukan veneer, di antaranya warna gigi serta bentuk gigi. Masalahnya, banyak salon kecantikan yang sebenarnya tidak berkompeten melakukan veneer gigi yang seharusnya dilakukan oleh dokter ahli.

Selain itu, Mirza menuturkan, setelah gigi di-veneer perlu menjalani perawatan rutin. Dia mengatakan, minimal perlu melakukan kontrol 6 bulan setelah veneer pertama.

Veneer kalau dibongkar lagi susah. Jadi masyarakat harus mempunyai gambaran sesudah di-veneer bentuknya seperti apa. Harus ada bentuk perawatannya juga. Sesudah kontrol minimal 6 bulan sekali,” katanya.

Dia mengatakan kekeliruan yang paling sering dilakukan saat memberikan pelayanan veneer gigi adalah dalam hal warna. Dokter sering kali memberikan warna veneer gigi yang sangat putih. Padahalnya seharusnya pemberian warna veneer bisa disesuaikan dengan warna kulit pasien dan mata pasien. Bahkan, dia menduga pasien lebih menginginakan memilih warna putih karena meniru artis.

“Saat booming veneer gigi ini, keluhan utamanya adalah masalah warna gigi. Gigi yang di-veneer warnanya mirip porselen, putih sekali,” katanya.

Pasalnya, gigi masyarakat Indonesia tidak mungkin sangat putih. Dia mengatakan dengan kulit sawo matang dan warna mata kebanyakan warna cokelat, biasanya gigi agak kekuningan, adapula kebiruan ditepi gigi. “Setiap manusia itu ada karakteristik masing-masing,” katanya.

Menurut The Journal of American Dental Association, warna veneer gigi tergantung dari berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah warna dasar gigi asli yang akan menentukan warna dan jenis zat veneer apa yang akan dipasang.

Cleveland Clinic juga mengatakan bahwa pemasangan veneer pada gigi dapat mengalami perubahan warna atau adanya noda di tepian gigi. Biasanya itu disebabkan adanya masalah kelembaban saat dokter memasang veneer.

Meski demikian, dokter tidak dapat mengubah atau memperbaiki warna veneer setelah Anda memasangnya. Namun, warna asli veneer gigi biasanya bisa bertahan dalam jangka 5-10 tahun setelah pemasangan.

Tag : gigi
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top