Penyedap Rasa ini Dibuat dari Rebusan Ikan Layang, Aman bagi Kesehatan

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menciptakan penyedap rasa yang aman dikonsumsi dari ekstrak rebusan (pindang) ikan layang, sehingga dapat menjadi alternatif bagi penyediaan makanan yang sehat di rumah maupun di rumah-rumah makan.
Choirul Anam | 25 Juni 2018 17:25 WIB
Penyedap hasil kreasi mahasiswa Universitas Brawijaya ini dibuat dari pindang atau rebusan ikan layang, sehingga aman bagi kesehatan. - Bisnis/Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menciptakan penyedap rasa yang aman dikonsumsi dari ekstrak rebusan (pindang) ikan layang, sehingga dapat menjadi alternatif bagi penyediaan makanan yang sehat di rumah maupun di rumah-rumah makan.

Lima mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB yang menciptakan penyedap rasa aman konsumsi tersebut, yakni Bagas Prasetya, Faizatus Sholihah, Alfin Bagaswara Pratama, M. Fadhel Bolkiah dan Ipin Orshella Nurwilis dari tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Bagas Prasetya mengatakan keraguan masyarakat dalam mengkonsumsi penyedap rasa ber-MSG yang lebih familiar dengan sebutan vetsin  telah banyak mengundang kontroversi. Hal ini terkait dampak akut ataupun kronis yang ditimbulkannya.

“Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat telah mengakui bahwa MSG hanya akan aman apabila dikonsumsi dalam takaran yang sesuai, namun dapat menimbulkan alergi terhadap orang yang berkebutuhan khusus atau sensitif terhadap MSG,” ujarnya di Malang, Senin (25/6/2018).

Karena itulah, dia dan temannya dengan bimbingan dosen Muhammad Fakhri, mencoba mencari terobosan baru untuk mengatasi persoalan tersebut.

Tahap awal,  mereka berdiskusi dan melakukan riset terkait potensi sumber daya perikanan yang dapat dijadikan inovasi produk penyedap rasa alami, yakni limbah air pindang ikan layang yang telah terstandarisasi bebas formalin dan senyawa bahaya lainnya.

"Air hasil rebusan pindang ikan layang ternyata mengandung asam glutamat yang tinggi yang mampu menghasilkan rasa gurih alami. Jadi kalau ada air pindang yang bebas formalin dan pengolahannya menggunakan bahan-bahan alami, kasih ke kami saja biar kami olah," ungkap Bagas.

Menurut dia,  perlu adanya upaya untuk mengolah limbah air pindang ikan layang yang telah terstandarisasi tersebut agar lebih ramah lingkungan dan lebih bernilai secara ekonomi.

Tentunya ini akan menjadi terobosan baru untuk mendongkrak perekonomian negara agar tidak bergantung lagi dengan produk-produk impor. "Sekarang adalah waktunya untuk mencintai produk dalam negeri melalui karya-karya mahasiswa yang inovatif," katanya.

Dari pengolahan limbah air pindang ikan layang tersebut terciptalah penyedap rasa pertama dari ekstrak pindang ikan yang mereka beri nama Ogla (Organic Glutamic Acid).

Ipin anggota tim menambahkan Ogla  diproduksi dari ekstrak pindang yang ditambahkan rempah-rempah sebagai pengawet alami, kemudian diproses melalui perebusan dan pengeringan mengguanakan alat spray dryer. "Bentuk produk ini ialah bubuk, sangat familiar dengan penyedap rasa lainnya," katanya.

Kelimanya telah melakukan uji organoleptik terhadap Ogla yang dilakukan oleh beberapa panelis yang terdiri dari mahasiswa, ibu rumah tangga, dan beberapa dosen FPIK UB.

Mereka mengatakan bahwa Ogla memiliki tekstur yang halus, rasa yang gurih dan asin khas ikan serta bau yang sedap sehingga sesuai untuk menjadi produk penyedap rasa alami yang ditambahkan ke dalam makanan.

Faizzatus menambahkan, Ogla telah melakukan pengujian nilai gizi di Laboratorium Gizi Unair dan terbukti bahwa Ogla memiliki kandungan protein dan serat yang tinggi.

"Ogla sendiri dikemas dalam bentuk kemasan botol dengan berat 80 gram dan kemasan sachet dengan berat 10 gram " ucapnya.

Tag : universitas brawijaya
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top