Tya Ariestya Sukses Punya Anak Lewat Bayi Tabung. Ini Biayanya

Kini, program bayi tabung semakin diminati. Tya Ariestya menjadi satu dari sejumlah selebritis Tanah Air yang sukses menjalankan program bayi tabung selain Inul Daratista, Cynthia Lamusi, Sissy Prescillia, dan Lula Kamal.
Dewi Andriani | 08 September 2018 14:52 WIB
Ilustrasi proses bayi tabung (IVF) - huffingtonpost.com

Kini, program bayi tabung semakin diminati. Tya Ariestya menjadi satu dari sejumlah selebritis Tanah Air yang sukses menjalankan program bayi tabung selain Inul Daratista, Cynthia Lamusi, Sissy Prescillia, dan Lula Kamal.

Menurutnya, metode bayi tabung dipilih sebagai bentuk ikhtiar yang dilakukan bersama sang suami, Irfan Ratinggan untuk mendapatkan keturunan setelah melakukan berbagai metode dan terapi pengobatan sekitar 1,5 tahun pernikahan.

Tya juga mengakui bahwa dirinya mengidap PCOS (polycystic ovary syndrome) atau sindrom ovarium polikistik yang membuat terganggunya fungsi ovarium di saat usia subur. Hal ini membuatnya tiga kali lebih sulit mendapatkan keturunan dibandingkan wanita pada umumnya.

“Aku pilih program IVF karena aku PSO, sel telur kecil dan banyak jadi susah untuk ovulasi. Sulit untuk memiliki masa subur. Setelah konsultasi dengan dokter sana sini ada beberapa pilihan. Akhirnya dokter menyarankan untuk bayi tabung karena setelah coba proses pembuahan secara alami masih belum berhasil,” kisahnya, beberapa waktu lalu.

Untuk menjalankan program bayi tabung untuk buah hatinya yang pertama, Muhammad Kanaka Ratinggan, Tya mengaku merogoh kocek sebesar Rp60 juta.

Selain dana, dia juga harus mempersiapkan mental serta disiplin dan konsisten dalam menjalankan setiap proses mulai dari konsumsi obat, menjaga asupan makanan, dan menjaga gaya hidup.

Setelah sukses dalam program yang pertama, wanita berusia 32 tahun tersebut kembali mencoba program bayi tabung. Kali ini, dana yang dikeluarkan lebih besar mencapai Rp100 juta karena obat-obatan dan stimulasi suntikan yang diberikan dua kali lipat dibandingkan program yang pertama.

“Ada 8 embrio yang berhasil jadi, nanti akan dipilih yang terbaik untuk disuntikan ke rahim. Masih deg-degan, doakan ya semoga berhasil,” harapnya. Sebab, diakui olehnya usai menjalankan program yang pertama, Tya sempat menyuntikan kembali embrio yang sempat dibekukan tetapi belum berhasil. Dana yang dikeluarkan saat itu sekitar Rp20 juta.

CEO Morula IVF Indonesia Ivan Sini, SpOG mengatakan ketika menjalankan program bayi tabung peluang keberhasilannya memang tidak mencapai 100%. Artinya tidak semua program berhasil. Namun, peluang kehamilan melalui bayi tabung mencapai 32% hingga 50%.

“Bagi pasangan yang sedang berupaya hamil. Perkiraan peluang kehamilan secara alami hanya sekitar 2% -- 4%. Sementara menurut WHO peluang kehamilan bayi tabung bisa 32% dan di klinik Morula mencapai 40% hingga 50%,” ujarnya.

Menurutnya, ketika percobaan pertama gagal, pasangan dapat mencoba yang kedua dengan menanamkan embrio yang sudah dibekukan di awal. Pada saat yang kedua kali, peluang keberhasilan menurunya bisa mencapai 70% hingga 80% lebih tinggi.

Ivan menuturkan ada beberapa hal yang menjadi faktor penentu keberhasilan program bayi tabung. Pertama, kualitas sperma. Hanya sperma dengan kualitas terbaik yang berhasil membuahi sel telur dan berkembang menjadi embrio.

“Dalam proses bayi tabung ini, akan dipilih satu sperma yang paling bagus bentuk dan kualitasnya, kemudian dibantu suntikan ke sel telur sehingga berkembang menjadi embrio. Kalau spermanya buruk maka akan gagal menjadi embrio ketika disuntikan ke sel telur,” ujarnya.

Kedua, embrio atau bibit yang akan ditanamkan ke rahim sebagai cikal bakal janin. Embrio akan berkembang dengan baik jika mengandung kromosom yang baik. Embrio akan ditanamkan ke rahim pada saat hari ke lima dengan melepaskan cangkangnya.

Ketiga, rahim yang menjadi tempat perlindungan janin. Jika terjadi kondisi tidak normal karena adanya pembengkakan, kista, dan lainnya akan menyulitkan proses penanaman embrio.

Faktor Keempat adalah hormonal sebagai faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan perkembangan janin. Oleh karena itulah, dalam program bayi tabung, wanita perlu mendapatkan stimulasi dalam bentuk obat atau suntikan untuk menyeimbangkan hormon.

Kelima, usia juga menjadi faktor penentu. Sebab, semakin bertambahnya usia wanita maka akan lebih sulit tingkat keberhasilannya. “Bukan berarti tidak bisa, hanya mungkin akan lebih kecil tingkat keberhasilannya dibandingkan yang berusia di bawah 40 tahun.”

Oleh karena itulah, dia menyarankan agar pasangan yang ingin mencoba program bayi tabung dapat segera menjalankan ketika usia pernikahan sudah mencapai 2 hingga 3 tahun. Sebab, usia mempengaruhi tingginya keberhasilan program tersebut. Semakin ditunda, peluang keberhasilan untuk mendapatkan keturunan melalui program bayi tabung akan semakin kecil.

Tag : bayi tabung
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top