Mengenal Filosofi Kehidupan dalam Pementasan Sipakainga

Galeri Indonesia Kaya bersama sanggar seni Artimbi Studio dan Kezia Warouw mempersembahkan pementasan yang berjudul Sipakainga.
Mia Chitra Dinisari | 16 September 2018 07:53 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Galeri Indonesia Kaya bersama sanggar seni Artimbi Studio dan Kezia Warouw mempersembahkan pementasan yang berjudul Sipakainga.

Pementasan ini mengangkat budaya adat istiadat dari daerah Sulawesi Selatan, Makassar, Bugis, dan Toraja tentang filosofi kehidupan manusia, mulai dari lahir hingga mati.

“Lebih dari 1.300 pertunjukan telah ditampilkan di Galeri Indonesia Kaya, dan lebih dari 400 pekerja seni terlibat dalam ragam kegiatan seni yang dilakukan. Tak hanya seniman, baik itu seni sastra, tari, atau musik, banyak pula kalangan lain yang ikut berpartisipasi dalam mempersembahkan pertunjukan seni di Auditorium Galeri Indonesia Kaya. ,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation dalam siaran persnya.

Memadukan musik dan tarian dari Sulawesi Selatan secara dinamis, pementasan Sipakainga menampilkan proses perjalanan hidup seorang manusia. Dimulai dari ritual yang dilakukan pada saat kelahiran, filosofi kehidupan, hingga akhirnya kematian. Pementasan diisi dengan tarian berjudul Angangru & Pasalonreng, Pakarena, Pajoge, Pamasari, dan Toraya.

Dalam kolaborasi ini bersama Artimbi Studio, mantan Puteri Indonesia Kezia Warouw membacakan dua puisi yang berjudul Sukmaku di Tanah Makassar dan Badong To Meaa. Pementasan ini mengingatkan kita bahwa semua yang lahir pasti akan mati, ada awal pasti ada akhir, dan sebagai manusia sudah sepatutnya untuk saling mengingatkan.

Sipakainga memiliki arti saling mengingatkan dalam bahasa Makassar. Dari situlah saya tercetus untuk membuat pementasan ini. Seiring berjalannya waktu banyak kesenian dan budaya yang mulai dilupakan. Beragam kesenian dan budaya yang ada di Indonesia mengandung pesan akan nilai dan norma yang sudah ada secara turun temurun.

"Agar nilai dan norma tersebut tidak dilupakan dan dapat menjadi penyeimbang dalam kehidupan, maka kesenian dan kebudayaan itu harus terus digali dan dikembangkan agar generasi-generasi penerus kita dapat selalu mengingat dan menanamkan nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari,“ ujar Arimbi Budiono selaku pemilik dari Artimbi Studio dan juga koreografer dari pementasan Sipakainga.

Didirikan pada tahun 2013, sanggar seni Artimbi Studio memiliki moto “ekspresi keberagaman manusia melalui keindahan gerak tubuh”. Tujuan didirikannya sanggar seni Artimbi Studio adalah untuk membantu pemerintah menggali mengembangkan dan mempromosikan seni budaya nasional Indonesia di dalam dan di luar negeri.

Dalam kesempatan kali ini, Artimbi Studio menggandeng Kezia Warouw untuk berkolaborasi dalam pementasan Sipakainga di Auditorium Galeri Indonesia Kaya.

“Sejak kecil, saya sudah tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan seni dan budaya, sehingga berkolaborasi bersama sanggar seni Artimbi Studio dalam pementasan ini merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Tumbuh besar di Sulawesi, membuat saya semakin tertarik untuk menampilkan pementasan Sipakainga pada hari ini. Bagi saya, kesenian dan kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia merupakan sebuah warisan yang harus terus kita jaga," ujarnya.

Tag : teater
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top