Awas, Ada Bahaya Gula Tersembunyi

Gula tersembunyi ini bisa saja hadir di dalam tambahan makanan olahan dan berada secara alami di dalam bahan makanan. Bahkan di dalam menu-menu makanan yang sudah sesuai dengan pakem gaya hidup sehat sekalipun.
Dewi Andriani | 22 September 2018 00:24 WIB

Ternyata gula tidak hanya terkandung pada makanan yang manis saja. Berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari, bahkan yang tidak manis sekalipun, memiliki gula tersembunyi yang tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat.

Gula tersembunyi ini bisa saja hadir di dalam tambahan makanan olahan dan berada secara alami di dalam bahan makanan. Bahkan di dalam menu-menu makanan yang sudah sesuai dengan pakem gaya hidup sehat sekalipun.

Adanya gula tersembunyi tersebut membuat asupan gula yang kita konsumsi dapat melebihi konsumsi gula yang dianjurkan oleh World Health Organization (WHO), yaitu tidak melebihi 50 gram per hari untuk dewasa atau setara empat sendok makan dan 30 gram per hari untuk anak atau enam sendok teh.

Dokter spesialis gizi klinis Diana F Suganda mengatakan bahwa manusia memang membutuhkan gula sebagai karbohidrat. Setidaknya 50% hingga 60% kebutuhan karbohidrat berasal dari gula. Karbohidrat yang dikonsumsi tersebut akan memberikan sumber energi bagi otak.

Meski demikian, konsumsi gula harus tetap dibatasi sebab jika terlalu berlebih, secara jangka panjang akan menimbulkan berbagai jenis penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, obesitas, dan kolesterol. “Yang berbahaya dan harus diwaspadai justru gula-gula tersembunyi yang keberadaannya tidak disadari,” tuturnya.

Diana mengakui kehadiran gula sangat sulit untuk dihindari. Beberapa jenis makanan dan minuman yang dianggap sehat dan asin sekalipun ternyata tidak luput dari kandungan gula tersembunyi. Dia memerinci kandungan gula pada berbagai jenis makanan.

Solusi Investasi Reksa Dana Untuk Korporasi

Misalnya saja di setiap menu sarapan dewasa seperti bubur ayam, lontong sayur, dan nasi uduk terdapat kandungan gula sebanyak 1,8 hingga 3,11 gram.  Sereal yang terbuat dari gandum utuh pilihan yang banyak dikonsumsi sebagai menu sarapan anak mengandung 7 gram gula tersembunyi, bila dicampur susu jumlahnya akan akan bertambah menjadi 23 gram per sajian.

Selain itu, berbagai menu diet seperti granola yang selama ini diyakini rendah kalori ternyata kandungan gulanya mencapai 20 gram per sajian. Begitu pula dengan snack bar atau healty bar yang diklaim berasal dari buah-buahan pun tak luput dari gula tersembunyi, yang jika dihitung jumlahnya sekitar 10 gram hingga 20 gram per sajian.

Adapun untuk minuman yogurt yang sering dijadikan campuran smoothies atau minuman pendukung diet memiliki kandungan gula yang cukup tinggi mencapai 20 gram per sajian. Susu almond yang saat ini sedang menjadi tren dan dianggap menyehatkan, pun mengandung gula tersembunyi sebanyak 10,5 gram per sajian. Apalagi untuk jenis kudapan seperti puding atau cake kandungan gulanya bisa lebih dari 20 gram.

“Banyak masyarakat yang sering berpikir bahwa menu makanan itu sehat sehingga boleh dikonsumsi sebanyak-banyaknya. Padahal di dalam setiap sajian kandungan gulanya terbilang cukup banyak. Nggak heran bila 30% masyarakat Indonesia mengonsumsi lebih dari batas yang ditetapkan WHO,” jelasya.

Gaya Melancong Kaum Milenial

MASALAH GIGI

Tidak hanya berbahaya bagi kesehatan secara jangka panjang, kemunculan gula tersembunyi tersebut juga menyebabkan permasalahan gigi dan mulut. Seperti yang diungkapkan oleh dokter gigi Ratu Mirah Afifah yang juga menjabat sebagai Division Head for Health & Wellbeing and Proffesional Institutions Yayasan Unilever Indonesia.

Menurutnya, gula tersembunyi berkontribusi menjadi salah satu penyebab utama gigi berlubang. Dia menjelaskan bahwa masalah gigi berlubang atau karies seringkali digambarkan sebagai empat mata rantai yang saling berinteraksi, yaitu host – yang terdiri dari gigi dan air liur; mikroorganisme atau bakteri pada plak; substrat atau asupan makanan; dan waktu.

“Kondisi host dan mikroorganisme memang sangat tergantung dari kondisi alami dan perilaku kesehatan gigi masing-masing individu, namun substrat dan waktu sebenarnya merupakan faktor-faktor yang masih sangat dapat kita kendalikan,” ujarnya.

Mirah menambahkan bahwa pH normal gigi adalah 7,0 tetapi ketika terus menerus mendapatkan asupan makanan, apalagi yang mengandung gula maka pH akan turun hingga 5,5 atau di bawahnya.

Pasalnya, substrat berupa gula tersebut akan diubah oleh miliaran mikroorganisme di dalam mulut sehingga menyebabkan pH mulut otomatis menjadi asam dan proses karies pun terjadi. Akan semakin rentan terkena gigi berlubang jika anatomi gigi memiliki celah dan cekungan yang dalam, apalagi jika air liur yang dimiliki lebih sedikit.

“Semua asupan makanan dan minuman yang mengandung gula akan diubah oleh mikoroorganisme menjadi asam. Mikroorganisme yang jumlahnya mencapai lebih dari 20 miliar akan 5 kali lipat lebih banyak jika tidak sikat gigi dalam waktu 24 jam sehingga lebih rentan menyebabkan gigi berlubang,” ujarnya.

Mengatur kadar gula di dalam makanan memang dapat dilakukan tetapi sulit dihindari. Maka, sambungnya, yang paling bisa dilakukan ialah menginterupsi waktu agar bakteri yang ada di dalam rongga mulut tidak berkembang cepat. Caranya, selain dengan rutin menyikat gigi dua kali sehari setelah sarapab dan malam sebelum tidur, juga rutin melakukan control gigi selama 6 bulan sekali.

Tag : gula, tips sehat
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top