Sokongan Bantuan Bagi Penderita HIV/AIDS di Indonesia Berkurang

Berkurangnya bantuan internasional untuk penanganan penderita HIV/AIDS di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
Feri Kristianto | 11 Oktober 2018 17:26 WIB
Ilustrasi HIV/AIDS. - Antara

Bisnis.com, MANGUPURA — Organisasi yang konsen terhadap isu AIDS terbesar di dunia AIDS Healthcare Foundation atau AHF, mencemaskan berkurangnya bantuan internasional untuk penanganan penderita HIV/AIDS di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Adapun di satu sisi, kemampuan pemerintah Indonesia untuk menangani pengidap HIV/AIDS belum memadai. Dari sekitar 630.000 penderita, hanya sekitar 290.000 orang yang bisa ditangani.

Country Program Manager AHF Indonesia Riki Febrian menuturkan bantuan internasional untuk penanganan HIV/ADS di negara berekembang, termasuk Indonesia, belakangan ini berkurang.

Hal itu terjadi karena Bank Dunia memberlakukan klasifikasi baru mengenai negara berpenghasilan menengah atau Midle Income Country (MIC). Bank Dunia menetapkan negara dengan penduduk berpenghasilan US$2,73 per hari, atau setara dengan harga secangkir kopi di banyak negara, bukan termasuk kelompok negara miskin.

“Padahal, badan atau lembaga donor, seperti Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria, menggunakan skala penghasilan Bank Dunia untuk menentukan negara yang menerima bantuan,” kata Riki dikutip dari siaran pers, Kamis (11/10/2018).

Riki menegaskan karena Indonesia masuk kategori MIC, maka bantuan intenasional menyusut dan hal itu semakin memperburuk penanganan HIV/AIDS di negeri ini. Padalah selama ini 80% dana penanganan HIV/AIDS di Indonesia berasal luar.

“Karena kita dianggap sudah kaya, negara-negara lain dan lembaga dana menarik dukungan,” ujar Riki.

Karena itu selama berlangsungnya Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) di Nusa Dua, Bali, 8-14 Oktober 2018, AHF menyerukan agar Bank Dunia mengubah kebijakannya terkait klasifikasi negara-negara berpenghasilan menengah (MIC).

AHF menempuh cara kreatif untuk mengkampanyekan perlunya mengubah pengklasifikasian negara dengan membagi - bagikan Kopi World Bank secara gratis di seputar arena pertemuan tahunan Bank Dunia -IMF, di Nusa Dua. Dalam gelas kopi tertulis US$ 2,73 per day is not middle income.

“AHF minta perhatian Bank Dunia melalui kopi, karena US$2,7 setara harga segelas kopi, ” kata Advocasy and Marketing Manager AHF Asia, Marie Ko.

Penyusutan bantuan untuk penanganan HIV/AIDS di Indonesia memang meresahkan. Sebab, dana yang diperlukan untuk itu cukup besar. Menurut aktivis Pekumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Muvitasari, tahun ini Indonesia memerlukan dana sebesar Rp4,2 triliun untuk menangani HIV/AID. Dana itu berasal dari APBN, APBD, CSR perusahan, bantuan berbagai negara serta sumbangan dari lembga donor internasional.

“Pada 2023 nanti dana yang diperlukan naik menjadi Rp11, 6 triliun,” kata Muvitasari.

Karenanya, AHF terus mendesak Bank Dunia agar meralat klasifikasinya mengenai negara-negara berpenghasilan menengah (MIC). Bank Dunia harus mengkalkulasi lagi soal MIC. AHF adalah organissai non profit yang berbasis di Los Angeles. Saat ini AHF menyediakan perawatan atau layanan medis kepada lebih dari 1 juta orang penderita HIV/AIDS di 41 negara , tersebar di AS, Afrika, Amerika Latin , Karibia, Asia Pasifik dan Eropa Timur.

Tag : hiv/aids, annual meetings IMF-World Bank
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top