Tak Banyak Disadari, Diabetes Gestasional Serang Ibu Hamil

Sayangnya, banyak wanita hamil yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami diabetes gestasional karena gejala yang ditimbulkan hampir mirip dengan kondisi wanita hamil pada umumnya.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 03 November 2018  |  00:20 WIB
Tak Banyak Disadari, Diabetes Gestasional Serang Ibu Hamil
Ibu hamil - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Perubahan hormon yang terjadi pada wanita hamil dapat menimbulkan berbagai permasalahan. Salah satunya yaitu meningkatnya resistensi insulin sehingga tubuh tidak dapat menyerap gula dalam darah, akibatnya kadar gula dalam darah pun naik.

Kondisi ini menyebabkan wanita tersebut berisiko terkena diabetes gestasional. Berbeda dengan diabetes pregestasional yang sudah diderita sebelum memulai kehamilan, diabetes gestasional baru terjadi pada saat kehamilan 24 minggu ke atas hingga proses melahirkan. Saat itu gula darah mengalami kenaikan yang sangat drastis.

Sayangnya, banyak wanita hamil yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami diabetes gestasional karena gejala yang ditimbulkan hampir mirip dengan kondisi wanita hamil pada umumnya.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RS Pondok Indah Merwin Tjahjadi mengatakan terdapat sembilan gejala yang dapat dideteksi ketika seorang wanita hamil mengalami diabetes gestasional yaitu sering buang air kecil, mudah merasa haus dan lapar, perasaan lelah dan mengantuk, mual muntah dan kesemutan.

“Gejala itu memang banyak terjadi pada wanita hamil sehingga sulit membedakan dengan gejala diabetes gestasional,” tuturnya.

Ada gejala tambahan lain yang mungkin tidak dialami wanita hamil dan bisa menjadi deteksi awal diabetes yaitu berat badan turun atau naik sangat signifikan hingga di atas 30 kilogram, mata menjadi buram, dan ketika terluka sulit untuk disembuhkan.

Merwin mengatakan diabetes gestasional disebabkan karena adanya perubahan metabolisme dan plasenta yang memproduksi hormon tambahan seperti hormon estrogen, human placental lactogen, dan hormon yang dapat meningkatkan resistensi insulin. Hal tersebut menyebabkan sensitivitas hormon insulin pada wanita hamil lebih tinggi sekitar 45% hingga 70% dibandingkan dengan ibu yang tidak hamil.

Diabetes gestasional ini dapat menyerang sekitar 9% wanita hamil. Risikonya akan semakin besar pada wanita yang hamil di usia 30 tahun ke atas, memiliki tekanan darah tinggi, memiliki keluarga dengan sejarah diabetes, hamil dalam kondisi obesitas atau kelebihan berat badan, riwayat keguguran, serta pernah mengalami diabetes gestasional sebelumnya.

Ketika seorang wanita hamil memiliki faktor risiko dan gejala diabetes gestasional segera periksakan diri ke dokter kandungan dan kebidanan untuk dilakukan deteksi lebih lanjut. Sebab, semakin dini dideteksi dilakukan akan semakin mudah menurunkan risiko penyakit tersebut.

Kelainan Kongenital Janin

Dokter spesialis penyakit dalam Wismandari mengatakan komplikasi akibat diabetes tidak hanya dialami oleh ibu saja tetapi juga janin. Risiko terberat yang dapat muncul jika diabetes tidak terkontrol adalah terjadinya kelainan kongenital pada janin bahkan bisa menyebabkan kecacatan pada bayi saat lahir.

Pasalnya, jika diabetes tidak terkontrol dapat menyebabkan gangguan pada arteri atau pembuluh darah di plasenta. Kondisi tersebut akan menyebabkan pasokan nutrisi dari ibu ke janin akan terganggu.

“Gangguan pasokan nutrisi ke janin ini bisa menyebabkan kelainan kongenital dan memicu kecacatan pada bagian organ tertentu,” ujarnya.

Komplikasi tersebut sangat bergantung pada saat kapan pasokan nutrisi terhambat. Ketika terjadi pada saat awal terbentuknya organ-organ di janin maka bisa menghambat terbentuknya organ tersebut.

Selain itu, diabetes gestasional yang tidak tertangani hingga semester akhir, bisa menyebabkan bayi menjadi terlalu besar. Pasalnya, gula darah yang terlalu tinggi dari ibu akan tersalurkan melalui plasenta ke janin yang kemudian akan disimpan menjadi lemak.

Jika janin terlalu besar maka akan sulit dilahirkan melalui jalan normal dan harus melalui proses persalinan c-section. Jika dipaksa lahir normal akan mencederai ibu dan bayi.

“Setelah proses kelahiran, bayi juga perlu dipantau terus karena bayi dapat mengalami masalah sementara seperti gula darah rendah dan masalah pernapasan,” ujarnya.

Di samping itu, ketika terjadi gangguan pada arteri, ibu bisa mengalami hipertensi kronik dan preeklampsia yang bisa menyebabkan munculnya risiko perdarahan pada saat menjelang proses persalinan.

Oleh karena itulah ibu perlu mengontrol gula darah sebelum kehamilan atau pada saat usia kehamilan mencapai 24 minggu, di saat kondisi janin semakin membesar. Jika gula darah ketika puasa di atas 95 mg/dL atau di atas 140 mg/dL 1 jam sesudah makan maka ibu sudah dinyatakan mengalami diabetes gestasional.

Untuk itu, hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan diet yang seimbang dan mengatur pola makan untuk menjaga gula darah. Namun, jika masih belum dapat terkontrol, dokter akan menyarankan penggunaan insulin.

“Beberapa obat diabetes tidak aman saat kehamilan sehingga beberapa wanita perlu melakukan penggantian obat menjadi insulin,”tuturnya.

Menurutnya, insulin tersebut hanya dipakai pada saat kehamilan saja sebagai pengganti obat minum. Sebab, insulin lebih aman dan tidak banyak menembus plasenta dibandingkan obat minum diabetes lainnya.

“Diabetes gestasional ini hanya terjadi saat kehamilan, setelah melahirkan gula darah biasanya akan menurun dan kembali normal sehingga tidak perlu lagi menggunakan insulin. Namun, harus tetap dipantau jika setelah 6 bulan gula darah masih tinggi, itu menandakan adanya diabetes tipe II.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
diabetes

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top