Resensi Fim Robin Hood 2018: Kisah Ulangan Ragam Sajian

Resensi Fim Robin Hood 2018: Kisah Ulangan Ragam Sajian
Rayful Mudassir | 21 November 2018 18:28 WIB
Ilustrasi film layar lebar - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Siapapun akan mudah menerka bahwa film Robin Hood merupakan kisah si pencuri yang membagikan hasil curian ke rakyat kecil dengan kemampuan memanah yang memukau. Secara garis besar hanya beberapa plot dibuat berbeda namun dengan benang merah yang sama.

Lahir sebagai keturunan bangsawan di Nottingham, Robin of Loxley yang diperankan Taron Egerton begitu begitu mudah menjalani hidup. Satu hari, dia memergoki seorang wanita cantik Lady Marian (Eve Hewson) yang berusaha mencuri seekor kuda. Tak dinyana, kecantikan Marian meluluhkan Robin dan memilihnya sebagai istri.

Kehidupan di istana begitu bahagia. Seperti pasangan muda lain, Robin dan Marian meluapkan fantasi darah mudanya mereka dengan bermesraan tiada henti. Di sini, Robin dan Marian boleh jadi menganggap dunia hanya milik berdua. Namun, kebahagiaan ini tidak berlangsung lama.

Sebuah surat dari Sheriff Nottingham (Ben mendelohn) memerintahkannya untuk mengikuti wajib militer dan menjadi salah satu tentara salib. Dia bersama pasukan salib lainnya dibawa ke Tanah Arab untuk bertempur mendapatkan dengan bangsa muslim. Perang itu terpaksa membuatnya harus meninggalkan Marian selama empat tahun.

Pada sebuah pertempuran, pasukan salib termasuk Robin memerangi bangsa kulit hitam di kawasan kering dan tandus menggunakan anak panah. Sempat diperintahkan untuk mundur, Robin kekeuh ingin menyelematkan temannya yang tertembak anak panah lawan. Namun apa daya, seorang musuhnya, Yahya Ibn Umar (Jamie Foxx) menyergam dan berduel dengan calon superhero itu.

Robin nyaris terbunuh jika temannya tak segera menebaskan pedang ke tangan kiri Yahya. Robin selamat. Lawan pasukan salib akhirnya kalah. Ratusan tawanan dikumpulkan di camp pasukan salib. Atas perintah komandan, seluruh tawanan dibunuh. Robin gelisah dengan cara itu.

Saat seorang anak yang ternyata putra Yahya mendapat giliran untuk dibasmi, Robin mulai terenyuh, belum lagi melihat Yahya berteriak dan bersedia membocorkan informasi rahasia asalkan mereka mau membebaskan anaknya. Namun rahasia yang ternyata sudah diketahui pasukan salib tidak mengubah keputusan untuk membunuh anak Yahya.

Sebelum hunusan pedang dilakukan, Robin tiba-tiba menghentikan eksekusi dan mengacaukan rencana pasukan salib. Akan tetapi anak Yahya tetap terbunuh dan Robin harus menerima tembusan anak panah di badannya sebagai konsekuensi telah melawan perintah atasan.

Dia dipulangkan ke Nottingham menggunakan kapal. Yahya ikut masuk secara diam-diam. Setiba di Inggris, dia langsung ke kastil dan mencari sang istri. Lain harapan lain kenyataan. Ternyata selama dua tahun terakhir, Sheriff telah mencatat namanya sebagai pasukan yang mati di medan perang. Hatinya semakin sakit saat mengetahui Marian telah menikah dengan Will Scarlet (Jamie Dornan).

Robin dan Yahya kemudiann bertemu, keduanya sama-sama mengincar kejatuhan Sheriff. Yahya melakukan hal itu untuk membalas dendam atas kematian sang anak. Sementara Robin membalas kebusukan pemimpin Nottingham itu. Terlebih pihak gereja bersama kerajaan dituduh telah melakukan korupsi dengan meminta pajak besar pada rakyat.

Sebelum melancarkan aksi, Robin dan Yahya berusaha mencuri pengaruh di Nottingham. Namun keadaannya sudah miskin. Di sini langsung ditebak, Robin melakukan pencurian terhadap uang kerajaan hasil pajak rakyat dengan mengenakan jubah atau Hood.

Sebagaimana aksi Robin Hood yang sudah diperkenalkan melalui animasi sejak 1973 hasil garapan Walt Disney, kali ini tidak banyak aksi pencurian yang diperuntukan untuk rakyat miskin. Secara dominan, Robin ditampilkan lebih banyak mengambil uang kemudian untuk mendapat pengaruh dari kerajaan dan rakyat untuk balas dendam.

Namun setelah secara diam-diam mendengarkan percakapan Marian bersama temannya Friar Tuek (Tim Minchin) agar uang tersebut diberikan kepada raktar, barulah Robin memberi uang koin ke masyarakat. Hal ini ternyata mendapat simpati rakyat dengan menempelkan tudung atau jubah di sudut-sudut kerajaan.

Robin Hood setidaknya mengisahkan tentang cinta dan perjuangan. Kisah cinta antara Marian dengannya digambarkan jelas. Meski telah pisah, keduanya masih saling menyimpan rasa. Sampai pada hari pemberontakan terhadap kerajaan, Marian mencium Robin sambil menarik anak panah yang bersarang di dada mantan suaminya itu.

Will yang melihat hal itu menaruh kecewa terhadap keduanya. Namun apa daya, Marian lebih cinta mantan suaminya dibandingkan dengan suaminya sendiri. Yang dinilai hanya mendekat dengan rakyat untuk mendapat pengaruh politik.

Meski cerita secara garis besar, akan tetapi plot yang dihadirkan sutradara Otto Bathurst tergolong baik. Efek animasi dari sini juga tidak buruh hingga mengganggu pandangan penonton. Alur maju yang dibuat memudahkan penonton memahami benang merah dari satu scene ke scene selanjutnya hingga menjadi gambaran utuh.

Selain itu, penonton agaknya akan melihat bagaimana keteguhan iman seorang Yahya atau John meski di saat nyawanya terancam. Beberapa kali John juga menegur Robin saat hendak minum bir “Aku mengajakmu menjalankan misi, bukan untuk membiarkanmu menikmati bir,” kata John.

Sebenarnya, Robin Hood bukan lagi hal baru di masyarakat pecinta film. Dikenal dengan si pencuri yang baik, Robin sudah difilmkan beberapa kali mulai dari 1973 dalam bentuk animasi, kemudian dilanjutkan pada 1991, 2010 dan terbaru pada 2018. Berbeda dengan pendahulunya, kali ini tokoh yang menjadi pemeran utama terlihat lebih muda, energik dan modern.

Pemilihan aktor Taron Egerton menjadi salah satu pilihan yang cukup menarik dengan menampilkan wajah lebih good looking dibandingkan film Robin Hood lainnya. Di luar sajian cerita yang terus berulang meski terdapat beberapa pembaruan, apakah Anda akan tertarik menyaksikannya?

Tag : film
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top