"Kucumbu Tubuh Indahku" Raih Penghargaan di Asia Pacific Screen Awards 2018

Film "Kucumbu Tubuh Indahku" berhasil meraih penghargaan Cultural Diversity Award under the patronage of UNESCO pada Asia Pasific Screen Awards ke-12 di Brisbane, Australia. 
JIBI
JIBI - Bisnis.com 01 Desember 2018  |  12:33 WIB
Salah satu adegan dalam film "Kucumbu Tubuh Indahku" karya Garin Nugroho. - Dok. Fourcolours Films

Bisnis.com, JAKARTA -- Film "Kucumbu Tubuh Indahku" berhasil meraih penghargaan Cultural Diversity Award under the patronage of UNESCO pada Asia Pasific Screen Awards ke-12 di Brisbane, Australia. 

Dengan penghargaan ini, maka film karya Garin Nugroho itu akan diputar di UNESCO di Paris, Prancis pada pertengahan Desember 2018. 

Sebelumnya, film tersebut juga meraih Bisato D'Oro Award 2018 dari Venice Independent Film Critic pada awal September 2018 dan Best Film di Festival Des 3 Contintents di Nantes, Prancis pada pertengahan bulan lalu.

Tempo melansir Sabtu (1/12/2018), penghargaan Asia Pasific Screen Awards (APSA) tersebut diberikan untuk kontribusi yang luar biasa terhadap promosi dan pelestarian keanekaragaman budaya melalui film. APSA memang memiliki perhatian terhadap budaya dan mengakui pembuatan film yang paling mencerminkan asal budayanya.

"Kucumbu Tubuh Indahku" berkisah tentang perjalanan Juno (Muhammad Khan) sejak kecil hingga dewasa ketika dia menjadi penari di sebuah desa di Jawa, yang dikenal sebagai desa penari lengger lanang yaitu jenis tarian perempuan yang dibawakan penari laki-laki. Film ini dijadwalkan tayang perdana di Indonesia dalam Jogja NETPAC Asian Film Festival 2018 pada 3-4 Desember 2018.

Di masa kecilnya, Juno mengalami peleburah tubuh maskulin dan feminin yang terbentuk alami dari kehidupan desa dan keluarganya. Dia juga menjalani kehidupan yang penuh trauma kekerasan tubuh, sehingga memaksanya berpindah dari satu desa ke desa lain. 

Belum lagi trauma kekerasan politik yang dialami sang ayah, yang membuat Juno hidup sendiri. Menjalani kehidupan serba sendiri di desa miskin membuatnya menjadi orang tua bagi dirinya sendiri. 

Perpindahannya dari satu desa ke desa lain menjadikan Juno bertemu banyak orang, mulai dari petinju hingga maestro penari reog. Namun, berbagai perjalanan ini membawanya menemukan keindahan tubuhnya sendiri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Sumber : Tempo

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top