Populo Batik Konsisten dengan Bahan Alami

Fokus untuk menciptakan pakaian batik dengan bahan alami tetap membuat Populo Batik bertahan setelah memulai bisnis sejak 1994.
Rayful Mudassir | 15 Desember 2018 18:13 WIB
Ilustrasi - Antara/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Fokus untuk menciptakan pakaian batik dengan bahan alami tetap membuat Populo Batik bertahan setelah memulai bisnis sejak 1994.

Meski bermunculan batik dengan harga ekonomis tidak membuat produsen batik kelas atas ini turun pamor.

Pemilik Populo Batik Nadia Rachel berbagi cerita di MakerFest 2018 di Area Parkir Senayan Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (15/13/2018).

Menurutnya salah satu cara untuk menampilkan karya anak bangsa termasuk dari batik, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Sejak memulai bisnis tersebut, Populo Batik menjadi salah satu pilihan masyarakat kelas atas. Tidak sembarangan, produksi pakaian menggunakan bahan alami. Wajar, harga sesuai kualitas yang disuguhkan.

"Rata-rata harga yang kami tawarkan mulai Rp1,5 juta sampai Rp25 juta," katanya saat talkshow di MakerFest 2018, Sabtu (15/12/2018).

Menurutnya, batik bisa menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekhasan budaya Indonesia. Pakaian yang dibuatnya juga membutuhkan usaha yang cukup keras.

Satu cap batik untuk satu model pakaian bahkan sampai membutuhkan waktu sekitar 1 bulan.

Setiap warna pakaian juga mengambil beberapa unsur alam. Seperti untuk membuat warna kuning, produsen menggunakan buah nangka sebagai penghasil warna.

Lain lagi untuk warna biru menggunakan daun Indigo sebagai bahan dasar.

"Mungkin orang tidak tahu bagaimana sebuah proses membuat batik sehingga langsung ilfill kalau mendengar harga yang mahal," tuturnya.

Menurutnya selama ini, kreasi batik lebih mendapat apresiasi tinggi di luar negeri seperti Jepang. Sementara di dalam negeri apresiasi masyarakat untuk karya dan hasil kreasi lokal masih kurang baik.

Kendati demikian, hal ini tidak menyurutkan niatnya terus unjuk gigi berkutat di dunia fesyen khususnya batik. Usaha ini juga mengenalkan Populo Batik ke luar negeri termasuk menjadi salah satu partner dengan film Black Panther dan Starwars.

"Tetapi di dalam negeri memang kurang mendapat perhatian," ujarnya

Nadia tidak khawatir dengan persaingan yang ada. Dia menerapkan tiga strategi agar Populo Batik tetap mampu bersaing dengan produsen lainnya. Tiga strategi tersebut yaitu Desain, Kolaborasi dan Kampanye atau promosi.

Sejak berdiri, Populo Batik terus membaca pangsa pasar batik di Indonesia. Mereka kemudian menciptakan desain sesuai generasi yang ada. Nadia sampai mengundang para kreator muda untuk mendesain pakaian sesuai keinginan pembeli.

Kerap kali, mereka menciptakan satu pakaian dengan beberapa kegunaan. Hal ini memancing seluruh kalangan untuk menggunakan produk tersebut.

Desain pakaian tersebut salah satu yang diminati termasuk kalangan wanita. Selain itu faktor kerjasama juga terus dilakukan untuk melebarkan di dunia fesyen.

Terakhir adalah promosi di jejaring sosial. Nadia menuturkan masing-masing media sosial memiliki karakter berbeda. Seperti di Instagram, dirinya lebih menampilkan sesuatu yang indah.

Artinya setiap postingan agaknya lebih mengundang selera pengguna media sosial tersebut untuk berkunjung.

"Kami juga memberi kebebasan bagi pembeli dia ingin desain pakaian bagaimana. Sehingga ada rasa kepemilikan dan berbeda dengan yang ada di butik. Strategi ini salah satu yant membuat minat masyarakat tetap tinggi," ujarnya.

Tag : batik, Bahan Alami
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top