Tren Kecantian sudah Masuk Era Beauty 4.0, sudah Jamannya Social Beauty

Tren kecantikan kini sudah memasuki era Beauty 4.0  karena  kecantikan bukan lagi milik diri sendiri atau personal beuaty tetapi sudah bergeser social beauty. 
Asteria Desi Kartika Sari | 12 Februari 2019 18:22 WIB
Seorang model tengah dihias dalam festival kecantikan Windrose Hair 2018 di Minsk, Belarus, 8 November 2018. Reuters - Vasily Fedosenko

Bisnis.com, JAKARTA— Tren kecantikan kini sudah memasuki era Beauty 4.0  karena  kecantikan bukan lagi milik diri sendiri atau personal beuaty tetapi sudah bergeser social beauty

Tampil menarik dan cantik sudah menjadi dambakan kebanyakan orang. Sehingga, semakin banyak yang mempercantik diri ke klinik kecantikan.

Seiring dengan perkembangan zaman, keinginan untuk mempercantik diri juga didorong dengan perkembangan media sosial. Fenomena tersebut dinilai juga menjadi tantangan para praktisi atau dokter kecantikan. Hal itu juga dibenarkan oleh Presiden Direktur Miracle Aesthetic Clinic Group Lanny Juniarti.

Lanny mengatakan tantangan para dokter kecantikan semakin kompleks. Pasalnya, masyarakat kini tak hanya mempertimbangkan aspek kecantikan fisik, namun juga faktor lainnya. Seperti faktor psikologi karena interaksi dengan lingkungannya.

Bahkan sebagian besar dari mereka ingin tampil cantik demi mendapatkan pengakuan dari masyarakat dilingkungannya. “Orang butuh aktualisasi diri. Dia mempercantik diri tidak mungkin kalau bukan karena ingin eksis. Apalagi di dunia digital, semua orang ingin selfie, eksis, butuh pengakuan, apresiasi dari orang sekeliling,” kata Lanny di Jakarta dalam acara Aesthetic Outlook 2019 , Selasa (12/2/2019).

Dalam media sosial, lanjutnya, hal-hal berkaitan dengan kecantikan dan perempuan menurutnya menjadi beberapa bidang yang paling banyak dicari. Kondisi itu pada akhirnya membentuk suatu persepsi akan kecantikan. Jadi, kecantikan kini bukan hanya sesuai persepsi dokter atau si pemilik wajah, melainkan juga dari penilaian orang sekitar. "Pandangan itu akan men-drive, beauty is not about personal beauty. Bukan milik pribadi tapi sosial," ujarnya.

Menurutnya, cara pandang atau paradigma itu dikenal dengan istilah “beauty 4.0”, hasil hingga kepuasan pasien tidak cukup hanya sekadar cantik . Artinya bukan hanya sekadar cantik namun bagaimana dampaknya terhadap peningkatan rasa percaya diri, serta memiliki interaksi yang positif dengan orang lain.

Kendati begitu, menurutnya tidak semua keinginan atau permintaan pasien harus dilakukan, hanya karena mendengar omongan orang lain ataupun media sosial. “Kadang kalau bertemu dengan kepribadian yang belum matang, semua pendapat orang diterima, tidak disaring," kata Lanny.

Sehingga seorang dokter tidak hanya sekadar memberikan perawatan namun juga harus bisa memberikan pengertian atau rekomendasi yang paling baik kepada pasien. Pasalnya, tidak semua opini yang berasal dari masyarakat benar dan harus dituruti.

Tag : kecantikan
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top