Aesthetic Outlook 2019, Perubahan Paradigma Beauty 4.0

Bisnis.com, JAKARTA - Era digital telah memberi dampak yang besar pada industri estetika secara global di industri estetika, fenomena tren timbul karena pengaruh dari perkembangan teknologi dan sosial media. Industri 4.0 telah menyeret industri estetika memasuki era Beauty 4.0.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Februari 2019  |  19:54 WIB
Aesthetic Outlook 2019, Perubahan Paradigma Beauty 4.0
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Era digital telah memberi dampak yang besar pada industri estetika secara global di industri estetika, fenomena tren timbul karena pengaruh dari perkembangan teknologi dan sosial media. Industri 4.0 telah menyeret industri estetika memasuki era Beauty 4.0.

Seperti halnya revolusi industri berkembang dan mengalami perubahan dari industri 1.0 menuju 4.0, demikian pula beauty industry mengalami revolusi. Pada Beauty 1.0, konsep perawatan fokus hanya pada 1 dimensi, yaitu dokter menggunakan apa yang disebut dengan golden ratio.

Dalam acara Aesthetic Outlook 2019: The Turn-around paradigm of BEAUTY 4.0, yang digelar pada Selasa (12/2/2019) di Madame Delima, Menteng, Jakarta Selatan, Lanny Juniarti, Dipl. AAAM, Founder dan President Director MIRACLE Aesthetic Clinic Group menjabarkan bahwa dari sudut pandang dokterlah yang menentukan perawatan yang terbaik bagi pelanggan.

Pada Beauty 2.0, masyarakat menginginkan tampilan wajah dengan perfect look namun tetap memiliki keaslian, versi terbaik dari dirinya, tidak menjadi diri orang lain.

Adapun era Beauty 3.0 tuntutan masyarakat kian berkembang. Mereka tidak hanya sekadar ingin menyempurnakan tampilan wajahnya tetapi perawatan kecantikan yang dilakukan dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. 

“Saat ini industri kecantikan telah memasuki era Beauty 4.0. Era digital sangat mempengaruhi  perubahan di Industri kecantikan. Media sosial bukan hanya menciptakan social network, akan tetapi juga akhirnya menyebabkan munculnya Sosial Beauty. Media sosial merupakan sarana untuk eksistensi dan aktualisasi diri bagi masyarakat,” ujarnya.

Namun, sambungnya, media sosial juga merupakan sarana kebebasan berekspresi bagi masyarakat, menyuarakan opini, aspirasi, pendapatan, komentar dan kritik. Eksistensi diri seseorang di media sosial dapat menimbulkan dampak yang positif, atau menuai banyak kritik dan menimbulkan haters. Hal ini tentunya menimbulkan dampak pada sosial dan psikologi seseorang.

Demikian juga di Sosial Beauty, penampilan seseorang dapat menjadi pujian, sindiran, atau bahkan menjadi hujatan. Pada akhirnya hal Inilah yang membuat terbentuknya tuntutan baru di dunia estetika.

Beauty 4.0 kini tidak lagi fokus pada sudut pandang dokter. Tidak lagi terikat pada sudut pandang dan keinginan individu saja. Tidak juga berorientasi hanya pada 1 atau 2 dimensi, namun multidimensional.

“Di era ini kecantikan terikat pada banyak faktor, terkait pada opini orang lain yang menilainya, social awareness hingga opini publik, yang berorientasi dengan fisik dan emosional individu.”

Lanny menambahkan bahwa beberapa tahun yang lalu, dokter akan memberikan arahan mana perawatanyang tepat bagi klien, namun seiring berjalannya waktu, mereka juga mempunyai keinginan untuk mengikuti tren yang sedang terjadi. Sebagai seorang ahli di bidang estetik, kami harus dapat menyarankan perawatan apa yang tepat, untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan klien, dengan tetap memilki kekhasan tampilan wajahnya, menjadi versi terbaik dari dirinya.”

Dengan demikian, sambungnya, rasa percaya diri mereka semakin bertambah. Namun tidak cukup sampai disitu saja, juga perlu memahami juga apakah perwatan kecantikan yang dilakukan dapat memberikan dampak yang baik pada kehidupan sosial mereka. Jangan sampai, misalnya wajah pelanggan malah menjadi bahan hujatan orang lain, seperti tidak proporsional maupun terlihat aneh.

Lanny mempertegas bahwa goal dari Beauty 4.0, bagaimana para praktisi dapat memenuhi  keempat dimensi tersebut merupakan sebuah tantangan. “Bagaimana kita menyempurnakan tampilan wajah sesuai versi terbaiknya, namun tetap terlihat natural, sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan memberi dampak positif bagi mereka saat berinteraksi dengan orang lain. Hasil perawatan yang kita lakukan harus dapat memberikan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi kehidupan sosial mereka.”

Oleh karena itu, dalam menghadapi era Beauty 4.0 ini, Miracle Aesthetic Clinic sebagai salah satu leading brand di industri kecantikan Indonesia, senantiasa selalu berusaha untuk memenuhi perubahan tuntutan masyarakat. Tidak hanya menyempurnakan tampilan wajah versi terbaik dari pelanggannya, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri, memberi dampak positif serta memberi kualitas hidup yang lebih baik dalam bagi kehidupan sosial para pelanggannya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kecantikan

Editor : Bambang Supriyanto
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top