Mitos dan Fakta Tentang Perfeksionisme

Orang yang memiliki sifat perfeksionis sering disalahpahami, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 23 April 2019  |  15:26 WIB
Mitos dan Fakta Tentang Perfeksionisme
Ilustrasi - Match

Bisnis.com, JAKARTA—Orang yang memiliki sifat perfeksionis sering disalahpahami, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain.

Banyak orang yang berpikir bahwa perfeksionisme membantu mereka dalam mencapai tujuan yang terbaik, padahal belum tentu.

Inilah salah kaprah yang paling terjadi yaitu saat orang menganggap bahwa perfeksionisme merupakan konsep idela untuk memperoleh kesuksesan. Tidak heran kalau orang tua, guru, sekolah, media, dan masyarakat berpikir bahwa mengejar kesempurnaan dan tanpa cacat cela akan selalu menjadi yang terbaik.

Perlu digarisbawahi bahwa perpeksionisme bukanlah keinginan untuk menjadi yang terbaik. Perfeksionis adalah menetapkan standar tinggi pada diri sendiri di mana terkadang standar itu mustahil untuk dilakukan. Walhasil banyak orang perfeksionis yang berakhir dengan mengkritik diri sendiri ketika melakukan kesalahan. Mereka juga cenderung tidak dapat menarik hikmah dalam sebuah proses.

Perfeksionisme membuat seseorang tidak pernah merasa cukup baik karena dia mendasarkan harga dirinya pada apa yang dia lakukan, apa yang dia capai, dan apa yang orang lain pikirkan tentang dia.

Orang perlu menyadari bahwa perfeksionisme sebetulnya tidak membantu. Hal itu tidak membuat kita lebih sukses, percaya diri, menarik, atau lebih bahagia. Sifat dan sikap tersebut justru menambah stres dan tekanan yang tidak perlu.

Berikut ini 6 kebenaran tentang perfeksionisme yang sering kali disalahpahami dilansir Psych Central:

1. Perfeksionisme tidak membuat Anda lebih sukses

Sadarlah bahwa perpeksionisme tidak sama dengan keunggulan atau menjadi yang terbaik. Orang perfeksionis akan selalu terjebak pada standar yang sulit untuk dipenuhi sehingga nilai dan harga dirinya tergantung pada standar itu.

2. Perfeksionisme tidak membuat Anda lebih disukai

Kita sering berpikir bahwa orang yang sempurna pasti diterima dan disukai, sehingga perfeksionisme dijadikan sebagai upaya untuk melindungi diri dari penolakan. Padahal sebaliknya, sifat itu menciptakan jarak emosional antara kita dan orang lain.

3. Perfeksionisme menghabiskan waktu berharga Anda

Saking menginginkan kesempurnaan banyak orang perfeksionis yang menghabiskan waktu berharganya untuk menyempurnakan berbagai hal yang sebetulnya tidak perlu. Hal ini dilakukan karena rasa takut, bukan karena keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup. Mereka juga cenderung menunda waktu karena takut gagal.

4. Perfeksionis sering merasa frustrasi dan tidak puas

Orang yang selalu mengharapkan kesempurnaan, tidak akan pernah puas. Si perfeksionis hanya dapat melihat ketidaksempurnaan, kegagalan, dan hal-hal yang tidak dilakukan dengan sempurna. Ini adalah cara hidup yang melelahkan.

5. Menjadi sempurna itu tidak mungkin

Tidak ada manusia yang sempurna dan sebetulnya tidak ada yang menuntut kita untuk menjadi sempurna. Jika Anda sempurna, tidak ada ruang untuk pertumbuhan. Tidak ada yang tersisa untuk dipelajari. Tidak ada yang tersisa untuk diperjuangkan.

6. Pikiran dan perilaku perfeksionis dapat diubah

Anda tidak harus menjadi budak perfeksionisme selamanya.    Sifat ini dapat diubah dan diperbaiki. Anda bisa melakukan latihan, meditasi, bahkan jika perlu terapi untuk mengubahnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mitosm

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup