40 Karya Seni Dipamerkan di Floting Utopias ArtScience Museum Singapura

ArtScience Museum Singapura bersiap menyelenggarakan Floating Utopias, pameran terbaru yang akan dibuka pada 25 Mei mendatang.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 Mei 2019  |  15:05 WIB
40 Karya Seni Dipamerkan di Floting Utopias ArtScience Museum Singapura
Castle of Vooruit (2012) oleh Ahmet Ogut, salah satu karya yang dipamerkan di Floating Utopias ArtScience Museum Singapura

Bisnis.com, JAKARTA - ArtScience Museum Singapura bersiap menyelenggarakan Floating Utopias, pameran terbaru yang akan dibuka pada 25 Mei mendatang.

Pameran ini mengeksplorasi sejarah sosial dari beragam objek tiup, hingga memperlihatkan bagaimana para seniman telah berkontribusi dalam karya seni, arsitektur, dan kegiatan sosial selama beberapa dekade terakhir.

Pengunjung dapat menantikan pengalaman visual melalui lebih dari 40 karya seni yang dirancang oleh sedikitnya 15 seniman lokal dan internasional, termasuk Ant Farm, Tools for Action (Artúr van Balen dan Tomás Espinosa), Eventstructure Research Group, Anna Hoetjes, Luke Jerram, Franco Mazzucchelli, Ahmet Öüt, Marco Barotti, Tomás Saraceno, Graham Stevens, The Yes Men, dan UFO.

Hasil karya yang mengesankan dari beragam objek tiup tersebut akan disampaikan melalui 8 patung berskala besar berisi udara dan tergantung di dalam galeri, menciptakan serangkaian momentum yang dramatis di sepanjang pameran.

Dengan penemuan balon udara panas, untuk pertama kalinya umat manusia dapat melampaui batas dari hanya sekedar memijakan kaki di tanah dan mulai mengeksplorasi Bumi dari atas langit.

Floating Utopias mengajak pengunjung bereksplorasi bagaimana penemuan penting ini membentuk pemahaman masyarakat atas dunia dan tempat tinggal di dalamnya. Hal ini menunjukkan bagaimana sebuah balon dapat menjadi sumber daya tarik publik di abad ke-18 dan 19, yang mampu menginspirasi berbagai penemuan baru dalam perjalanan dan komunikasi, serta mendorong inovasi ilmiah.

Hal tersebut merekam bagaimana para arsitek di generasi baru mulai melakukan eksperimental menggunakan struktur karet pada 1960-an dengan melakukan pendekatan dalam merancang ruang. Serta, menggali karya para seniman yang telah menggunakan berbagai objek tiup dengan cara nyata, tak terduga atau pun tidak konvensional.

Sepanjang pameran, foto-foto, dokumen, dan pertunjukan film menunjukkan bagaimana objek tiup telah digunakan untuk tujuan politik, secara historis dalam parade dan kenegaraan, dan di masa yang lebih kontemporer, oleh aktivis sebagai alat untuk protes.

Honor Harger, Direktur Eksekutif ArtScience Museum mengatakan, seperti halnya pertunjukan khas ArtScience Museum, pameran ini menggabungkan puisi dan politik, pedagogi dan permainan, inovasi teknologi dan kecerdasan artistik. Pada intinya, Floating Utopias adalah serangkaian pertemuan antar karya seni objek tiup yang menakjubkan dan dramatis, yang menempati ruang galeri ArtScience Museum.

Patung-patung yang melayang di udara, dikompresi ke dalam ruang dengan komposisi dan sudut yang luar biasa.

"Karya-karya seni yang dipamerkan secara beragam mampu menginspirasi, mengganggu, membatasi, dan memberanikan pengunjung untuk menjelajahi sejarah objek tiup, serta fungsi sosial dan bagaimana mereka telah mengubah cara kita memandang dunia," katanya.

Dia melanjutkan, Floating Utopias menjadi navigasi sejarah budaya seni yang luas dan arsitektur dari sebuah objek tiup. Hal ini adalah dampak dari objek tiup terhadap imajinasi kolektif. Sepanjang sejarah, objek pneumatik membuka kemungkinan terhadap teknologi baru, sehingga hal tersebut menjadikannya permukaan proyeksi untuk sebuah visi yang utopis.

Objek tiup mengandung aspek transformatif dalam diri mereka, serangkaian materi yang tak berbentuk menjadi sebuah ruang yang bervolume secara instan. Kualitasnya yang ringan, mudah dibawa, dan singkat, mendorong khalayak untuk merasakan suasana yang menyenangkan dan mempesona. Monumentalitas objek tiup yang instan memungkinkan kita mempertanyakan struktur kekuasaan hierarkis dengan mengingatkan kita bahwa bagaimanapun juga, semuanya bersifat temporal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pameran seni

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top