Saat Ali Sadikin Meminta S.Sudjojono Melukis Pertempuran

Dalam Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional #2 bertajuk Lini Transisi yang digelar pada 2-31 Agustus 2019 itu, beberapa karya spektakuler Sudjojono dipamerkan kembali. Salah satunya adalah reproduksi dari lukisan raksasa Penyerangan Pasukan Mataram ke Batavia Tahun 1628-1629 (cat minyak pada kanvas, 300 x 1.000 cm, 1973-1974)
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  21:58 WIB
Saat Ali Sadikin Meminta S.Sudjojono Melukis Pertempuran
Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional yang menampilkan karya seni rupa koleksi negara. - Repro/Galeri Nasional

Bisnis.com, JAKARTA—Tepat di ruang depan gedung A Galeri Nasional Indonesia, terpajang lukisan reproduksi karya maestro lukis Indonesia, S. Sudjojono.

Dalam Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional #2 bertajuk Lini Transisi yang digelar pada 2-31 Agustus 2019 itu, beberapa karya spektakuler Sudjojono dipamerkan kembali. Salah satunya adalah reproduksi dari lukisan raksasa Penyerangan Pasukan Mataram ke Batavia Tahun 1628-1629 (cat minyak pada kanvas, 300 x 1.000 cm, 1973-1974)

Lukisan ini menyimpan cerita sejarah yang sangat kuat, sekaligus juga membuktikan bahwa ada makna tersembunyi yang akhirnya terkuak di masa kini. Bahkan mungkin saja, saat melukis karya ini di masa lalu, Sudjojono juga tidak menyadari bahwa karyanya menjadi saksi sejarah yang pemaknaannya masih sangat relevan saat ini, maupun di masa mendatang.

Lukisan tentang penyerangan pasukan Mataram ini merupakan karya Sudjojono yang dibuat atas permintaan Gubernur Jakarta Ali Sadikin. Sebelum menjadi Batavia dan Jakarta, seperti tertuang dalam peta De Ciela wilayah ini pada awalnya adalah bagian dari Padjajaran, di paling ujung utara Jawa bernama Kalapa.

Nama itu kemudian berubah menjadi Sunda Kelapa sebelum akhirnya Raden Fatah meminta Fatahillah untuk menyerang dan menguasai Sunda Kelapa, sekaligus juga penyebaran agama Islam. Setelah menang, wilayah tersebut berganti nama menjadi Kerajaan Jayakarta. Kerajaan ini bertahan dalam tiga pemimpin kerajaan yakni Fatahillah, Bagus Angke, dan Wijaya Krama.

“Setelah itu, pada 1916 masuklah Jan Pieterszoon Coen sebagai gubernur VOC, sekaligus juga berkuasa sebagai Gubernur Batavia,” ujar Khasirun, Staf Koleksi dan Preparasi Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta.

Pada masa itu terjadi perebutan dan penguasaan wilayah, dan Kerajaan Mataram menginginkan penguasaan wilayah juga dalam rangka pemberontakan atas penjajahan. Misi penguasaan ini juga berdasar pada keinginan untuk  menyatukan Nusantara. Akhirnya pada 1628-1629, terjadi penyerangan pasukan Mataram ke Batavia.

Tidak jelas siapa yang menang dan yang kalah dalam penyerangan pasukan Mataram. Namun, pada saat itu pasukan Mataram mengalami kelelahan. Khasirun mengungkapkan bahwa salah satu pemicu kelemahan pasukan adalah kecurangan VOC yang merampas bekal pasukan dalam perjalanan

“Ali Sadikin pada saat itu meminta Sudjojono untuk membuatkan lukisan yang dapat menceritakan kisah penyerangan Mataram ke Batavia, dengan harapan mengenalkan sejarah kepada generasi baru,” kata Khasirun lagi.

Setelah lukisan raksasa itu jadi, lukisan kemudian diletakkan di lantai utama di ruang utama Museum Sejarah Jakarta hingga hari ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pameran lukisan, galeri nasional

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top