Gundala Tak Mampu Puaskan Penikmat Film Indonesia, Ini Saran Pengamat

"Kebanyakan tokoh dalam satu film sehingga mengurangi karakter film tersebut dan penonton juga akan bingung. Padahal di paruh pertama sudah bagus, film ini sabar menceritakan Sancaka kecil kaya apa."
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 30 Agustus 2019  |  07:00 WIB
Gundala Tak Mampu Puaskan Penikmat Film Indonesia, Ini Saran Pengamat
Film Gundala - Dok. Bumilangit

Bisnis.com, JAKARTA - Film Gundala tampaknya tak mampu memuaskan penikmat film dalam negeri. Beberapa pengamat film menyebut film ini terlalu banyak menggabungkan unsur diluar dari fokus utama filmnya sendiri yakni Gundala. 

Berbicara kepada Bisnis.com, pengamat film Ichsan dari channel youtube 'Mau Nonton' menyebut, film Gundala, debut pertama jagat sinema Bumi Langit seperti mengulang lagi kesalahan yang dilakukan oleh film Wiro Sableng. 

"Kebanyakan tokoh dalam satu film sehingga mengurangi karakter film tersebut dan penonton juga akan bingung. Padahal di paruh pertama sudah bagus, film ini sabar menceritakan Sancaka kecil kaya apa," ungkapnya, Kamis (29/8/2019). 

Namun, setelah unsur politik masuk dalam pertengahan film, Gundala seakan kehilangan benang merahnya sendiri, ehingga menurutnya, terlalu banyak karakter dan unsur dalam satu cerita membuat film ini membuatnya tidak fokus. 

"Emang film laku itu nggak ada rumusnya. Cuma politik itu berat banget. Seberapa banyak sih orang yang mau datang ke bioskop diceramahi soal politik? Jarang sih," ungkapnya. 

Maka dari itu, Ichsan berharap jagat sinema Bumi Langit belajar dari kemampuan Marvel menangkap pasarnya melalui film-film individual super hero-nya.

"Sabar, ya. Marvel itu mengeluarkan Iron Man, ya fokus aja di Iron Man. Kalau film Gundala ini seperti pengen ngejar sesuatu dan dimasukin banyak sekaligus jadi pusing melihatnya. Sama kaya DC mencoba mengejar Marvel. DC aja mencoba mengejar Marvel itu kepayahan terlihat dari Batman vs Superman, tiba-tiba sudah ada Justice League aja," jelasnya. 

Sarannya, untuk film jagat sinema bumi langit selanjutnya, Sri Asih, Ichsan berharap produser bersabar dan menemukan fokus utama dari karakter dan kemampuannya yang perlu dikembangkan.

"Untuk Sri Asih, tolong sabar. Coba dikasih benang merahnya dan jangan terlalu banyak karakter. Pengennya sineas itu mendengar saran penonton awam, bukan cuma penonton yang suka genre superhero saja," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, politik

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top