'No.7 Cherry Lane', Sebuah Surat Cinta dari Sutradara Yonfan untuk Hong Kong

Sutradara asal China Yonfan mengatakan, film animasinya "No. 7 Cherry Lane" adalah surat cintanya untuk Hong Kong, di mana dia menceritakan kisah romantis yang dibuat pada akhir 1960-an.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 03 September 2019  |  14:55 WIB
'No.7 Cherry Lane', Sebuah Surat Cinta dari Sutradara Yonfan untuk Hong Kong
sutradara Yonfan di Venice Film Festival. Sumber: Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Sutradara asal China Yonfan mengatakan, film animasinya "No. 7 Cherry Lane" adalah surat cintanya untuk Hong Kong, di mana dia menceritakan kisah romantis yang dibuat pada akhir 1960-an.

Tujuh tahun dalam pembuatannya, film ini mengikuti Ziming, seorang mahasiswa sastra Inggris di Universitas Hong Kong, ketika dia mulai mengajar siswa cantik bernama Meiling.

Digambarkan sebagai surat cinta kepada Hong Kong dalam sebuah catatan produksi, fitur animasi 2-D yang dibuat sendiri dibuat dengan latar belakang kerusuhan yang dipimpin Komunis di Hong Kong pada 1967.

"No. 7 Cherry Lane" merupakan film animasi pertama Yonfan dan film pertamanya sejak memproduksi "Prince of Tears" pada 2009.

Karya ini merupakan salah satu dari 21 film yang bersaing untuk mendapatkan hadiah Golden Lion di Venice Film Festival, tempat dimana film itu ditayangkan perdana pada hari Senin.

"Film ini adalah tentang cinta, dan ini bukan tentang eksploitasi seks dan sensualitas untuk menarik box office," Yonfan mengatakan pada konferensi pers, dilansir Reuters, Selasa (3/9/2019).

Sebagai seorang anak, Yonfan, yang lahir di Provinsi Hubei, China, pindah bersama keluarganya ke Taiwan. Dia pergi ke Hong Kong pada 1964 saat remaja, ketika Taiwan berada di bawah hukum darurat perang.

"Saya mencoba menangkap hal-hal yang saya ingat dan cara orang hidup. Ketika saya tiba di Hong Kong, saya benar-benar mencium udara kebebasan, angin bertiup dari laut. Saya mencium kebebasan di dalamnya, itu luar biasa," jelasnya.

Yonfan juga berbicara tentang gerakan anti-pemerintah yang telah menjerumuskan Hong Kong ke dalam krisis politik terbesarnya dalam beberapa dekade.

Kerusuhan dimulai pada pertengahan Juni, dipicu oleh kemarahan atas RUU ekstradisi yang sekarang ditangguhkan yang akan memungkinkan orang-orang di kota itu dikirim ke China daratan untuk diadili di pengadilan yang dikendalikan oleh Partai Komunis.

Hal ini telah berkembang menjadi seruan untuk demokrasi yang lebih besar di bawah formula "satu negara, dua sistem", dimana Hong Kong telah diperintah sejak 1997.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, hong kong

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top