Membalut Borneo Dalam Indonesia Fashion Week 2020

Indonesia Fashion Week (IFW) 2020 siap mengusung dan memperkenalkan budaya dan fesyen asal Pulau Borneo ke seluruh Indonesia. Ini kedua kalinya IFW mengangkat tema dari Kalimantan.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 12 Oktober 2019  |  07:41 WIB
Membalut Borneo Dalam Indonesia Fashion Week 2020
Model memperagakan busana dalam pembukaan Indonesia Fashion Week 2019, di Jakarta, Rabu (27/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA--Indonesia Fashion Week (IFW) 2020 siap mengusung dan memperkenalkan budaya dan fesyen asal Pulau Borneo ke seluruh Indonesia. Ini kedua kalinya IFW mengangkat tema dari Kalimantan.

Adapun budaya dari Kalimantan yang diperkenalkan melalui IFW adalah Dayak, Kutai dan Banjar. Tales of the Equator – Treasure of the Magnificent Borneo menjadi tema pilihan Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk memperkenalkan budaya Kalimantan ke mata dunia melalui fesyen.

Ketua Umum APPMI dan Presiden IFW Poppy Dharsono mengungkapkan tema budaya Kalimantan yang diangkat merupakan komitmen demi kemajuan dan pengembangan promosi Indonesia. Bagi Poppy, Borneo memiliki budaya yang sangat beragam dan tak bakal habis untuk menjadi inspirasi di industri fesyen.

Borneo akan ditransformasikan dalam karya-karya desainer ternama melalui sejumlah kategori fashion antara lain ready to wear, conventional, kontemporer hingga modest fesyen. Selain itu, perlindungan budaya dan sejarah Indonesia diharapkan makin meningkat sehingga mampu menggerakan ekonomi secara berkesinambungan terutama untuk pengrajin. 

"Luasnya Pulau Borneo membuat banyak daerah yang belum terjangkau pada penyelenggaraan IFW yang lalu. Karena itu kami kembali menjadikan Kalimantan sebagai sumber inspirasi untuk IFW 2020 dimana beragam karya fashion akan ditampilkan baik ready to wear, kontemporer dan modest wear," tulis Poppy dalam keterangan resmi, Rabu (9/10/2019).

Gelaran IFW, kata Poppy, memang didesain sebagai arena pengembangan kualitas dan kuantitas dan sumber daya pelaku industri fashion. Dengan kualitas dan kuantitas yang baik, industri fashion diharapkan bisa tumbuh secara berkelanjutan dan diserap oleh pasar lokal dan internasional. Hal ini karena promosi budaya di era ekonomi global semakin tak terbatas. 

Selain itu, APPMI juga mengadakan kerja sama dengan Indonesia Global Compact Network (IGCN) untuk fesyen keberlanjutan. Hal ini dilakukan agar industri fashion ramah lingkungan semakin banyak di Indonesia.

Saat ini fashion merupakan industri kedua terbesar yang paling banyak mengkonsumsi air dalam setiap proses produksi. Maka, dibutuhkan dukungan untuk mempromosikan industri fashion ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Sekadar informasi IFW tahun lalu mencatat 126.000 pengunjung dan mengantongi nilai transaksi Rp89,1 miliar dengan 480 peserta pameran. Dia mengharapkan capaian tahun ini bisa lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indonesia fashion week

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top