Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono (memukul gong) dalam pembukaan 26th Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) di Denpasar, Rabu (29/10/2025)./ Dok. Istimewa
Health

Bio Farma Ungkap Tantangan Industri Vaksin Negara Berkembang

Rio Sandy Pradana
Kamis, 30 Oktober 2025 - 19:58
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Produsen vaksin negara berkembang dinilai memerlukan kolaborasi lintas negara dan lembaga global untuk memastikan keberlanjutan industri dan melindungi kesehatan masyarakat dunia.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Shadiq Akasya, mengatakan tantangan yang dihadapi produsen vaksin negara berkembang, mulai dari proses WHO Prequalification yang makin ketat hingga penurunan pendanaan donor yang mempersempit potensi pasar global.

Menurutnya, kondisi ini menuntut adanya shared responsibility model untuk membagi risiko, biaya, dan tanggung jawab secara adil antarmitra global.

“Kita memerlukan pendekatan collaborative problem-solving bersama WHO, Gavi, UNICEF, CEPI, dan mitra donor lainnya untuk menemukan solusi yang seimbang antara perlindungan kesehatan publik dan keberlanjutan industri,” ujar Shadiq dalam keterangannya, Kamis (30/10/2025).

Adapun, Bio Farma yang menjadi co-host 26th Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) Annual General Meeting (AGM), memanfaatkan forum tersebut untuk memperkuat jejaring global dan mencari solusi yang mendukung kemandirian vaksin di negara berkembang.

“Momentum DCVMN AGM ini kami gunakan untuk membangun inovasi dan kolaborasi, agar negara berkembang juga dapat berkontribusi secara luas dalam membangun resilient vaccine ecosystem,” katanya.

Bio Farma telah menyalurkan produk vaksinnya ke lebih dari 150 negara dengan 12 produk yang telah memperoleh pra-kualifikasi WHO (WHO PQ). Vaksin Bio Farma digunakan secara luas oleh UNICEF untuk program imunisasi global.

Kegiatan DCVMN yang berlangsung di Bali pada 29-31 Oktober 2025 ini membahas strategi untuk memperkuat kapasitas produksi vaksin, mempercepat alih teknologi, dan memperluas akses vaksin yang aman, bermutu, dan terjangkau.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menilai negara-negara berkembang memiliki potensi besar sekaligus menjadi kunci masa depan industri vaksin global.

"Dengan memperkuat manufaktur di kawasan ini, produsen tidak hanya menciptakan kedekatan dengan pasar, tetapi juga memperkuat rantai pasokan dan menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan," ujarnya.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono menegaskan pentingnya inovasi, kolaborasi R&D termasuk pusat kolaborasi vaksin dan sekretariat riset vaksin genetik Indonesia - China, serta prinsip akses yang adil dan tepat waktu bagi semua.

“Tidak ada negara yang dapat bertindak sendirian, melalui DCVMN mari kita dorong inovasi dan kolaborasi yang lebih dalam, sekaligus memastikan akses vaksin yang adil, tepat waktu, dan merata," kata Dante.

CEO DCVMN, Rajinder Suri menekankan pentingnya jejaring dalam menghadapi tantangan masa depan.

”Kami akan terus meningkatkan kemampuan dan bersiap mendukung organisasi seperti CEPI, dan WHO untuk menghadapi tantangan kesehatan global yang akan datang," katanya.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro