Bisnis.com, JAKARTA – Fenomena arus pasien domestik ke rumah sakit mancanegara memicu respons dari pelaku industri kesehatan dalam negeri. Emiten rumah sakit PT Bundamedik Tbk. (BMHS) angkat suara perihal perbandingan tarif medis hingga kemampuan pengobatan dalam negeri.
Komisaris Utama Bundamedik Ivan Rizal Sini, menerangkan bahwa sebetulnya perbandingan tarif medis Indonesia dan luar negeri berbanding jauh, tetapi dengan fasilitas yang tidak berjarak lebar.
Ivan memberikan contoh pasien RS Bundamedik yang berkewarganegaraan asing, tetapi melakukan pengobatan berbasis robotik di Bundamedik. Namun, Ivan menekankan pada pentingnya kemampuan dokter dan alat mutakhir sebagai daya tawar medical tourism di Indonesia.
”Ada pasien dari Timor Leste datang ke sini melakukan operasi robotik. Ada pasein yang dari UK, dari Prancis, melakukan bayi tabung di sini. And that's the definition of medical tourism, bahwa kekuatan dari produk itulah akan menjadi daya tarik orang untuk datang ke tempat kita,” katanya kepada Bisnis, Jumat (6/3/2026).
Ihwal perbandingan tarif, Ivan menilai bahwa dengan tindakan kesehatan yang kompleks, tarif yang ditawarkan Indonesia dengan negara-negara tetangga cenderung murah.
Dia memberikan contoh operasi angkat rahim, kista, atau kanker payudara yang menggunakan sistem robotik, hanya merogoh kocek separuh dari pelayanan medis di Singapura maupun Australia.
Sementara terhadap praktik bayi tabung, dia juga menilai tarif yang dikenakan di Indonesia jauh lebih murah ketimbang Singapura dan hanya terpaut sedikit dibandingkan Malaysia.
”Kalau di Australia, [penanganan] robotik itu bisa hampir sama dengan di Singapura, hampir sekitar Rp400—Rp500 juta dan tidak sampai separuhnya di Indonesia,” katanya.
Dengan begitu, dia menilai peluang Indonesia menjadi negara medical tourism sebetulnya cukup besar. Terlebih, kini sejumlah rumah sakit telah melakukan upgrade layanan, seperti penggunaan robotik dalam pelayanan kesehatan.
| Baca Juga Strategi Bos Bundamedik (BMHS) Buru Cuan 2025, Ada Bisnis Bayi Tabung Hingga Perluasan NICU |
|---|
Hanya saja, medical tourism mesti dibarengi dengan ’produk’ yang mampu memberikan kepercayaan terhadap pasar.
”Bukan hanya branding, nanti kita harus bisa maintain. Di situ baru balance antara kualitas yang kita tawarkan, juga diiringi dari sisi akademik, karena dokter itu harus bisa menjelaskan dengan baik,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, Indonesia berpotensi kehilangan devisa hingga US$11,5 miliar atau sekitar Rp 180 triliun akibat banyaknya warga negara yang memilih berobat ke luar negeri.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara II Kemenpar RI, Yulia memaparkan bahwa wetiap tahun, sekitar 1 juta orang Indonesia melakukan perjalanan medis ke luar negeri. Sekitar 750 ribu di antaranya berobat ke Singapura, sementara sisanya memilih Malaysia, Jepang, Jerman, dan negara lainnya.
"Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan peran dan sinergi antara kementerian maupun regulator untuk mendukung ekosistem pasien, baik domestik maupun internasional, agar lebih banyak yang memilih berobat di dalam negeri," katanya akhir tahun lalu.